Langsung ke konten utama

Cerpen - Hafidzah

Tema                  : Cita-cita dan Keluarga

Genre                 : Fiksi, Teenlit

Ditulis               : 18 Februari 2012

Jumlah Kata    : 2696 kata

 

 Hafidzah

 

Rasanya ingin berteriak ketika ku baru bangun dari tidurku, entah mengapa. Aku beranjak dari tempat tidur lalu ku buka gorden jendela kamarku dan waw pagi ini begitu cerah nan indah. Burung-burung peliharaan berkicau riang menyambut pagi ini. Mungkin hari ini akan berkesan. Hmm, aroma masakan ibu pun sudah tercium di sini. Pasti ibu masak enak hari ini.

“masak apa, Bu?”teriakku dengan lantang.

“tentunya masakan yang kamu suka. Ayo cepat mandi.”

Aku pun cepat bergegas mandi. Ingin cepat aku mencoba masakan yang beraroma harum ini. Selesai ku gunakan seragam putih merah lalu ku bercermin.

  

Hai, namaku Mutiara. Aku seorang bocah berumur sepuluh tahun. Aku sangat menyayangi ibuku. Ibuku begitu ramah, baik, murah senyum, senang memberi dan banyak hal baik yang ada pada diri ibuku. Beliau rela bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan untukku. Yah karena jarak sekolahku memerlukan waktu satu jam agar sampai sehingga aku harus sarapan lebih pagi. Sebetulnya dulu ada Ka Zahra yang selalu membuatkan sarapan untukku. Dia sudah seperti ibuku saja. Namun kini, Ka Zahra bersekolah di sekolah boarding sehingga tak mungkin lagi untuk kaka membuatkan aku sarapan setiap pagi.

 

Oh ya aku belum begitu memperkenalkan diri. Cita-citaku, aku ingin menjadi seorang dokter spesialis jantung. Ya itulah cita-citaku. Hmm, selain menjadi dokter spesialis jantung, aku pun  ingin  menjadi seorang hafidzah layaknya Ka Zahra yang baru menyelesaikan hafalan Al-qurannya enam bulan yang lalu. Dari dialah aku termotivasi untuk menghafal Al-quran. Katanya dengan aku hafal 30 juz Al-quran dengan baik, aku bisa mengajak orang-orang terdekatku untuk masuk surga dan aku juga bisa menolong kedua orangtuaku keluar dari api neraka. Orangtuaku? Api neraka? Apa maksudnya? Ah entahlah yang terpenting keinginanku untuk menghafal Al-quran masih kuat.

 

Aku punya seorang abang, Ka Iqmal namanya. Dia layaknya satpam yang harus selalu menjaga para bunga di dalam taman yaitu kami. Namun, abangku sudah jarang menjadi satpam kami. Karena abangku keluar berbarengan dengan keluarnya Ka zahra dari rumah ini. Dia harus menyelesaikan program S2 nya di Singapura, akhirnya kita membayar seorang satpam untuk menjaga rumah kami. Abangku begitu baik padaku, baik sekali. Diantara keluarga yang lain, aku merasa batinku paling terikat olehnya. Saat aku sakit, Ka Iqmal pasti langsung menelponku walaupun belum ada kabar yang sampai padanya. Atau ketika aku sedang tersedih sangat, pasti dia langsung menghubungiku. Saat aku rindu dengannya, sering tiba-tiba dia mengabari bahwa dia akan pulang ke rumah. Sampai pernah suatu ketika, abangku itu kecelakaan motor sampai koma beberapa hari. Saat itu tidak ada seorang pun yang mengabari kami. Dan apa yang terjadi padaku? Aku demam tinggi dan kerjaanku terus menerus menangis. Ibuku bingung akan aku. Diajak ke dokter aku pun tak mau. Sampai akhirnya abangku menelpon dan mengabarkan bahwa dia baru tertimpa musibah yaitu kecelakaan. Barulah setelah abangku menelpon dan aku bertanya babibubebo padanya aku sembuh.

 

“Tiara ayo cepat turun, Nak. Nanti kamu ngga keburu sarapan loh.” Ibu berteriak memanggilku seakan menyadarkan aku.

Sudah jam berapa ini? Sepertinya aku terlalu banyak cerita.

“sebentar bu, aku baru selesai shooting.” Aku langsung lari kebawah menuruni anak tangga,

“mana yang lain, Bu?”tanyaku heran melihat kursi hanya terisi dua.

“Ka Zahra mendadak harus pulang subuh tadi. Dan abangmu mengantarkannya karena terlalu dini hari untuk kakakmu pergi sendiri.”

Ah Ka Zahra memang seperti itu. Kalau ada pulang mendadak pasti tidak membangunkan aku. Abang juga, dia memang sangat bertanggung jawab, apalagi setelah kepergian ayah. Dialah yang menjadi kepala keluarga disini. Jadi dia harus melindungi juga menjaga kami.

“sudah cepat duduk, mobil jemputan sebentar lagi datang loh.”

tiba-tiba tin...tin..tin..

“oh tidak, Ibu. Itu mobil jemputanku. Biar ku bekal makanan-makanan ini, Bu.”aku langsung mengambil dua tangkap roti di meja dan berlari ke arah bis. Untunglah aku belum terlambat. Kalau terlambat, bisa-bisa aku ditinggal bis dan aku harus berjalan kaki untuk sampai di sekolah.

 

Bel masuk pun berbunyi. Aku duduk di kelas lima sekolah dasar. Aku merupakan siswi termuda di angkatanku. Ya karena aku masuk lebih cepat satu tahun. Teman sebangkuku bernama Silmi. Dia berfisik tinggi, putih, cantik namun  sayang juteknya ga nahan. Tapi seberapa juteknya dia, tetaplah dia punya sisi perhatian yang selalu dia siapkan untukku. Katanya dia sudah menganggap aku sebagai adiknya walaupun jurus jutek masih sering dia lampiaskan padaku.

“kenapa si kamu kerjaannya jutekin orang mulu?”tanyaku pada suatu waktu.

“aku juga ngga ngerti, Ra. Yang penting, aku masih bisa merasakan sikap perhatian aku pada orang lain. Aku masih bisa perhatian sama kamu kan, Ra? Berarti aku ngga jutek seratus persen ya. Haha”dia memang selalu mengelak jika aku tanya tentang kejutekkannya. Tapi itulah dia. Sejutek apapun dia, dialah temanku.

 

Setahun kemudian kami harus menghadapi UAS BN untuk bisa melanjutkan sekolah kami. Masalah sekolah, kemana aku akan bersekolah? Ya aku akan masuk ke SMPIT Assyifa. Setahu aku disekolah itu terdapat program menghafal Al-quran yang cukup intensif. Aku kan bercita-cita ingin menjadi seorang hafidzah. Akhirnya ku tancapkan jurus rayuan sejuta maut ku pada Silmi,

“Sil sekolah barengan yuk? Kita sekolah sambil tahfidz. Lumayan kan menyeimbangkan dunia dengan akhirat.”ucapku dengan sedikit merayu padanya.

“hah, sekolah barengan? Tapi aku udah daftar sekolah, Ra. Emang kamu mau sekolah dimana?”jawabnya sedikit jutek.

”SMPIT Assyifa, di Subang. Yah kamu. Padahal aku pengen satu sekolah lagi sama kamu nih. Emang kamu udah daftar dimana si?”tanyaku lagi sedikit kecewa.

aaaaaa.....Ara ! Kita satu sekolah.”Silmi berteriak sehingga membuatku terkejut kaget. Ternyata Silmi mendaftar di sekolah yang sama denganku.

 

Atas izin Allah, kami memasuki SMPIT Assyifa. Bukan hanya sekedar berkunjung, tapi bersekolah. Suasana disini begitu tenang. Hawanya yang sejuk, jauh dari keramaian kota, dan asri membuat suasana disini lebih tenang. Sepertinya aku akan sangat betah bersekolah disini. Ku masuki kamar tidurku yang nantinya akan ku tempati selama satu tahun. Yey ternyata Silmi satu kamar denganku. Mumpung belum ada satu pun siswi yang masuk kamar ini, aku tukar tempat tidurku dengan yang lain, ya dipojok atas sebelahnya Silmi. Kan asyik bisa sering bercerita padanya ketika hendak tidur. Dan aku siap menjalani kehidupanku disini.

 

Kehidupan disini cukup menarik menurutku. Aku harus bangun pukul tiga pagi dan tidur minimal jam sepuluh malam namun aku kuat sampai lewat hari jika memang ada tugas yang harus diselesaikan. Aku suka disini. Bersama-sama kami selama dua puluh empat jam. Waktu yang cukup lama untuk kami mengenal satu sama lain lebih dalam. Merasakan indahnya persaudaraan antar teman.

 

Tiga tahun pun tidak terasa berlalu begitu saja. Kini umurku sudah lima belas tahun. Aku sudah hampir menyelesaikan hafalanku. Dan Silmi, dia juga sama. Kami hampir menyelesaikan hafalan kami. Namun akhir-akhir ini, aku sering sekali pingsan. Tak jarang cairan merah keluar dari lubang hidungku. Badanku sering terasa lemas. Aku tidak tahu apa gerangan yang terjadi dengan jasadku. Ketika ibuku membawa aku ke dokter beliau hanya berkata, “yang sabar ya sayang. Kamu tidak apa-apa kok.”hanya itu yang beliau ucapkan. Bukan. Bukan itu yang ingin aku dengar. Apalagi ibu menyarankan aku untuk tidak melanjutkan sekolah di sekolah boarding ini lagi. Cukuplah aku bersekolah di sekolah yang dekat dengan rumah saja. Tidak. Aku tidak mau.

 

Keinginanku tetap kuat. Aku tetap bersekolah di assyifa. Di SMAIT Assyifa bersama Silmi. Kasihan sekali Silmi. Dia selalu merawatku ketika aku sakit. Dia rela tidur di kamarku, membuatkan makanan untukku, menjelaskan pelajaran-pelajaran yang tertinggal karena aku sering tidak masuk. Tapi mau bagaimana lagi, aku ingin menjadi hafidzah disini terlebih dahulu. Oh ya, akhir-akhir ini, ada seorang kakak cantik yang setiap minggu menemuiku. Ini berawal dari perkenalan kita di kantin. Saat dia tidak mendapatkan tempat duduk dan aku menawarinya duduk bersamaku dan Silmi. Namun aku tidak menyangka kita bisa sedekat ini. Bahkan katanya dia sering datang kesini hanya untuk menemuiku. Karena aku sudah mempersilahkan dia duduk di tengah-tengah bangku yang sudah penuh. Itukah alasannya? Masa bodoh aku tidak begitu memikirkannya.

 

“Selamat ya, Ara. Kamu sudah menyelesaikan hafalanmu. Selamat menjadi hafidzah.”

Berbagai ucapan selamat terlontar padaku. Kenapa seberlebihan itu mereka padaku? Yah karena aku merupakan hafidzah pertama di SMAIT Assyifa. Sedangkan Silmi, tinggal satu juz lagi dia akan menyusulku menjadi seorang hafidzah.

Dalam hatiku berkata, “Ka Zahra, aku telah menyusulmu menjadi seorang hafidzah. Terimakasih karena telah menjadi motivatorku.”

 

Seminggu kemudian, abangku datang. Aku kira hanya dia yang datang menjengukku. Tapi ternyata, Ka Zahra dan ibuku datang juga menjengukku. Tumben sekali mereka menjengukku bersamaan begini. Mungkin ingin turut merasakan kebahagiaanku, merasakan hafalanku yang sudah selesai. Ibuku berkata,

“sekarang impian kamu untuk menjadi seorang hafidzah sudah terlaksana. Bagaimana jika kamu pindah sekolah? Bukankah kamu bersekolah disini hanya karena kamu ingin menjadi seorang hafidzah? Dan sekarang kamu sudah mendapatkannya. Maka pulanglah, Nak.”

Pulang? Enak saja ibu menyuruhku pulang.

“tidak Bu, aku senang bersekolah disini. Tunggu lah sampai aku lulus SMA nanti. Aku pasti kembali Bu. Tenang saja.”

Namun saat itu entah mengapa, badanku terasa lemas, benar-benar lemas. Untuk kesekian kalinya, aku pun pingsan dengan cairan merah yang keluar cukup banyak dari kedua lubang hidungku ini. Keluargaku tersontak kaget melihatku. Akhirnya aku pun dilarikan ke RSUD Subang. Seperti biasa Silmi selalu setia menemaniku.

“Gawat. Dia harus segera dikirim ke pusat. Alat-alat kita tidak memadai. Cepat siapkan ambulan.” Suaranya begitu lantang sampai Silmi mendengarnya.

Oh tidak Silmi tidak mengetahui sakit apa yang ku derita dan memang aku sendiri pun tidak tahu apa penyakitku.

“Tante, memangnya Ara sakit apa?” silmi bertanya pada ibuku.

“dia punya kelainan jantung. Dan itu baru terdeteksi di akhir masa SMPnya. Dan sekarang dia sudah sampai stadium akhir.” Terlontak silmi kaget mendengarnya.

Aku sendiri tidak percaya bahwa seorang Mutiara yang bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung terkena kelainan jantung. Sungguh aneh bukan. Dan ini sudah jelas. Aku tidak akan bisa mewujudkan keinginan aku menjadi seorang dokter spesialis jantung.

 

Akupun memang benar dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Aku cepat dibawa ke ruang operasi dan dokter membedah tubuhku. Haduuuh apa yang dilakukan dokter-dokter ini pada tubuhku? Aku merasa sangat kesakitan. Ingin ku berteriak memanggil abang, Ka Zahra atau ibu, tapi tidak bisa. Aku dibawah pengaruh obat bius yang membatasiku untuk merasakan banyak hal. Namun rasa sakit karena goresan-goresan yang mereka torehkan pada tubuhku begitu terasa sakitnya.

 

Akhirnya dokter pun keluar dengan senyuman. Mengabarkan kepada keluargaku bahwa operasi perlambatan telah selesai. Operasi perlambatan? Apa maksudnya? Apa itu berarti penyakitku tidak bisa hilang? Jadi selama dua jam aku merasakan sakit, mereka menggores-gores tubuhku, dan mereka hanya bisa memperlambat efeknya, bukan malah menghilangkannya? Mungkin ini sudah nasibku, harus berteman dengan penyakit semacam ini di sepanjang hidupku.

 

“mana anakku?” seorang wanita dewasa seusia abangku berteriak ingin bertemu denganku. Namun sayang sekali aku masih belum boleh di jenguk oleh selain keluarga.

Tadi dia menyebutku apa? Anaknya? Mengapa dia bilang kalau aku adalah anaknya?

“aku ibu kandungnya. Itu berarti aku keluarganya. Perbolehkanlah aku masuk!” tiba-tiba abangku mendekatinya dan melakukan obrolan serius dengan wanita itu. Akhirnya wanita itu pun pergi.

 

Aku tertidur sepertinya cukup lama. Cukup lama untukku terbangun di tengah-tengah anggota keluargaku tercinta.

“bagaimana, Tiara? Sudah merasa baikan? Kata dokter, kamu sudah di perbolehkan untuk sekedar jalan-jalan di RS ini.”

Aku terima sajalah tawaran Ka Zahra. Daripada aku terus menerus berada di kamar. Sudah dua minggu aku terus berbaring di atas kasur. Kakiku pun terasa mati rasa hanya untuk sekedar melangkah.

“Ka, sepertinya keinginan aku untuk menjadi dokter spesialis jantung tidak akan tercapai ya, Ka?”ucapku dengan tetap pandangan lurus menatap koridor yang dipenuhi oleh orang-orang yang sakit,

“mengapa kamu berucap begitu, Hafidzah. Kamu masih punya harapan. Asal kamu tetap bersemangat seperti semangat kamu untuk menjadi Hafidzah.” Ah Ka Zahra memang suka memanggilku dengan sebutan hafidzah, padahal diriinya pun hafidzah.

“daripada kamu memikirkan yang tidak perlu, bagaimana kalau kita muroja’ah bersama, kapan terakhir kamu muroja’ah, hafidzah?” ucapnya manis.

“sepertinya dua minggu yang lalu. Kalau begitu mari Ka Hafidzah.” Semangatku terasa bangkit kembali. Kami memuroja’ah juz 27. Fabiayyi alaai rabbikumaa tukadzdzibaan.

 

maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Itu arti dari ayat itu kan? Sekarang kamu harus besyukur atas segala nikmat yang sudah Allah berikan. Ketika Ayah kamu masih hidup, ketika nenek kamu masih hidup, ketika ibu kamu masih hidup dan bahkan ketika tante kamu masih hidup dan sekarang dia berada di sampingmu pun harus selalu kau syukuri.” Ucap Ka Zahra dengan ucapan mulut manisnya.

Namun, tante? Dia menyebut dirinya tante? Apa maksudnya?

“sebenarnya, aku bukanlah kakakmu, Hafidzah. Tapi aku adalah tantemu. Dan ibumu yang selama ini kamu ketahui itu bukanlah ibu kandungmu melainkan nenekmu.” Jelas Ka Zahra yang menjelaskan dengan santai.

“apa maksud Kakak? Aku keponakannya Kakak? Ibu adalah nenekku? Lalu dimana ayah dan ibuku?” Tanyaku bingung. Aku gereget melihat gaya Ka Zahra yang santai menjahiliku.

“begini Hafidzah, terkadang kehidupan ini memang sulit di tebak. Terkadang seseorang yang dekat dengan kita, itu bukanlah kerabat kita dan terkadang orang yang jauh dengan kita, itulah kerabat kita. Berbeda dengan kamu, Hafidzah. Orang terdekatmu adalah memang kerabatmu. Walaupun posisinya berbeda.”Ka Zahra mulai menatapku tajam. Dari balik kelopak matanya, aku temukan air mata yang sulit tertampung lagi.

“Biar ayah kandungmu yang menjelaskannya. Tunggu disini ya, Hafidzah.” Ka Zahra mengecup keningku halus lalu pergi sedangkan aku menunggu orang yang disebut ayah kandungku di bangku taman ini.

Dengan pikiran bertanya-tanya, siapakah ayah kandungku itu. Tiba-tiba seseorang menutup mataku.

“selamat sore mutiaraku.” Abangku datang dari belakang dan jahil menutup mataku. Dia langsung duduk di sampingku.

 

“Dulu, Abang memang orang yang tidak tahu diri. Abang tidak sengaja meluapkan nafsu abang ke salah satu teman abang. Ke pacar abang tepatnya. Dan akhirnya perbuatan yang tidak seharusnya pun terjadi. Pacar abang hamil dan abang harus tanggung jawab. Dulu abang masih kuliah dan dia masih SMA. Akhirnya dia cuti sekolah karena alasan sakit, padahal alasannya karena hamil.” abang menjelaskan dengan sedikit air mata.

“apakah Abang menikahinya?” tanyaku simpati walau aku sedikit bingung apa maksudnya.

“ya, tentu Abang menikah dengannya. Tapi dia ingin melanjutkan sekolahnya lagi. Akhirnya anak abang diangkat sebagai anak angkat oleh ibu dan almarhum ayah abang.”Abang menjelaskan dengan santai namun suaranya terdengar sedikit terisak-isak menahan tangis yang dia tahan.

“dan anak angkat almarhum ayah dan ibu abang sekaligus anak abang itu adalah kamu, Tiara. Kamu anak abang.”Aku merasa ditimpuk ribuan tinjuan oleh petinju profesional mendengar ini.

Mengapa saatku baru menjadi hafidzah, berita buruk terus menghampiriku. Mulai dari penyakitku, impianku yang tidak bisa dicapai, ibu yang ternyata bukan ibu kandungku dan sekarang abang yang ternyata ayahku? Sungguh ini adalah kejutan buruk yang pernah ku dapat. Abang pun langsung memelukku sambil menangis layaknya tangisan bocah ingusan yang sudah merobek seluruh uang milik ibunya sedangkan aku sendiri menatap kosong dengan polosnya masih tidak percaya akan semua kenyataan ini.

 

“mana mamahku, Pah?” tanyaku dengan datar setelah keheningan cukup lama terjadi. Abangku, tidak papahku memberi aku waktu untuk menerima.

“mamahmu ada dibelakangmu, Tiara.” Aku pun langsung menoleh kebelakang dan langsung bersujud di kaki mamah, ibu kandungku, yang selama ini aku tidak berbakti kepadanya.

“Mamah, maafkan aku Mah. Enam belas tahun ini aku tiada bakti sama Mamah. Maafkan aku, Mah.”Mamah kaget melihatku tiba-tiba bersujud menciumi kakinya dan aku pun kaget ketika melihat mukanya ternyata,

“Kakak cantik?”aku kaget, ternyata mamahku adalah kakak cantik yang sering menemuiku setiap minggu.

“iya, ini kakak cantikmu, Tiara. Tapi Tiara, bukan reaksi ini. Mamah tiada membayangkan reaksi ini darimu, Nak. Wahai anak solehah. Mamahmu yang bersalah bukan kamu. Dengan kamu menjadi anak solehah seperti ini, bagi mamah ini sudah menandakan bakti kamu pada Mamah, Nak.”

Suasana pun memang terlihat begitu haru. Mamah tiada mengira aku akan mencium kakinya. Dia hanya mengira bahwa aku akanlah marah padanya dan tidak mau mengakuinya sebagai ibu. Untuk apa aku marah pada mereka? Bukankah keadaan membuat mereka melakukan ini. Bersyukur aku tidak dimasukkan ke panti asuhan sehingga orangtuaku tetap jelas.

 

Saat itu juga, napasku kembali sesak. Namun, aku tidak ingin mereka panggilkan dokter atau siapapun yang akan memisahkan aku dari mamahku, papaku, ibu dan Ka Zahra. Banyak ucap-ucap terakhir yang ingin aku ucapkan untuk mereka karena aku merasa, memang umurku sudah akan tertutup. Dan memang pada tanggal 12 April 2012, aku pun menghembuskan napas terakhirku.

“Insya Allah baktimu sudah begitu besar dengan kamu menjadi seorang hafidzah. Ajaklah kedua orangtuamu untuk memenuhi tiket surgamu, Tiara. Mungkin takdirmu untuk mampu membantu kedua orangtuamu memasuki surga-Nya.”Ka Zahra membisikkan untaian kata indah pada saat terakhirku.

Setidaknya, sebelum aku meninggal, aku mengetahui penyebab kematianku dan siapa orangtua kandungku. Aku pun mampu menjadi seorang hafidzah.

“kehafidzahan ini hadiah untukmu, Mamah.” Mungkin hanya bakti itu yang bisa ku persembahkan.

 

Walau mungkin kita tidak bisa lama menghabiskan waktu di dunia, mamah. Namun, mungkin kita bisa menghabiskan waktu kita di akhirat nanti. Dan di akhirat, waktu tiada batas. Sampai jumpa di alam lain mamah. Tiara, Mutiara sayang mamah, Mutiara sayang papah, Mutiara sayang ibu, Mutiara sayang Ka Zahra, Mutiara sayang semua.

 

Selesai

 

Komentar