Tema : Maulid Nabi
Genre : Fiksi, Spiritual, Islami
Ditulis : 13 Maret 2009
Jumlah Kata : 839 kata
Aku Ingin Akhlakku seperti Nabi Muhammad SAW
Suasana di desa nenek ku asyik dan menyenangkan hati. Setiap pagi dan sore hari banyak santri berbusana rapi sambil menyandang kitab suci di tangannya dan hendak pergi mengaji.
Suara adzan subuh telah berkumandang. Para santri mulai berdatangan, cepat-cepat ke masjid datang. Saat hari senin dan kamis mereka berpuasa. Aku berpikir “apa motif mereka melakukan kegiatan itu semua? Mereka berlomba-lomba mengumpulkan pahala tapi di balik itu semua mereka pasti mempunyai motif tersendiri.” Namun aku belum menemukan jawabnya.
Para santri yang bisa dipercaya. Para santri yang jujur. Mereka tidak suka berbohong, mereka tak suka membangkang. Mereka mempunyai tutur kata yang baik.
Setiap pagi mereka bangun pagi-pagi sekali, mereka mengaji dan bertashbih. Suasana desa nenekku begitu asyik, pagi-pagi buta sudah dipenuhi oleh suara-suara merdu orang-orang yang mengaji.
Saat adzan sore berkumandang mereka bergegas mandi untuk menyucikan diri mereka lagi. Cepat-cepat mereka datang ke masjid untuk solat berjamaah, tadarusan, mendengarkan tausiyah dan mempelajari ilmu-ilmu agama. Mereka melakukan kegiatan itu sampai adzan isya berkumandang. Mereka melakukan itu semua setiap sore.
Aku terbawa suasana untuk mengikuti jejak mereka. Tak ku sia-siakan kesempatan seperti ini. Aku pun datang ke masjid setiap pagi dan sore. Setiap siang aku tadarusan bersama nenek ku.
Beberapa minggu kemudian aku pulang ke desaku. Sayangnya desaku tak seperti desa nenekku yang ramai oleh suara-suara merdu orang yang mengaji, santri-santri yang bepergian ke masjid. Desa ku tak punya kegiatan-kegiatan seperti itu.
Aku ingin sekali kembali ke desa nenek ku karena aku belum menemukan jawaban dari pertanyaanku. Liburan selanjutnya tak ku sia-siakan aku pergi ke desa nenekku dan megikuti kembali kegiatan-kegiatan yang dulu sempat terputus.
Kali ini aku mulai mendekati beberapa orang sebagai temanku. Setelah aku sudah dekat dengannya aku pun bertanya kepada mereka tentang pertanyaanku. Banyak dari mereka yang menjawab kalau motif mereka melakukan ini semua itu karena idola mereka. Ternyata mereka mempunyai idola yang sama yaitu Nabi Muhammad SAW.
Kini aku sudah tahu motif mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi mengapa Nabi Muhammad SAW dijadikan motif untuk melakukan itu semua?
Salah seorang mengatakan Nabi Muhammad SAW lah yang telah mencontohkan kepada kita untuk berbuat baik sesuai dengan petunjuk Al-Quran-kitab umat islam. Nabi Muhammad mempunyai sifat-sifat yang baik yang perlu kita tiru. Dia sabar, jujur, tidak suka berbohong selalu beribadah dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Dia yang telah menyebarkan Islam dan diteruskan oleh para generasinya sampai sekarang kita bisa mengamalkan apa yang Nabi Muhammad SAW contohkan.
Setelah ku mendengar alasan mereka, aku semakin ingin mempelajari ilmu-ilmu agama. Dan sekarang aku ikut mengidolakan Nabi Muhammad SAW karena aku ingin seperti beliau yang selalu berbuat baik. Terutama aku ingin tahu kehidupan Nabi Muhammad SAW agar aku bisa meniru apa yang telah beliau lakukan. Beliau selalu berbuat baik kepada keluarganya, sahabatnya, temannya bahkan orang yang memusuhinya tidak pernah dia jahati.
Aku ingin akhlak ku seperti Nabi Muhammad SAW. Aku ingin selalu menyembah Allah SWT. Aku ingin terus beribadah sesuai petunjuk Al-Quran. Aku ingin desaku seperti desa nenek ku agar motif yang telah aku tanam tidak tergoyahkan karena perbedaan suasana.
Sepulang aku dari desa nenek ku, aku meminta kepada ayah dan ibu agar sekolahku pindah ke sekolah yang dekat dengan rumah nenek ku dan aku ingin tinggal bersama nenek ku. Aku rela meninggalkan sekolah yang aku banggakan untuk mendalami ilmu agamaku di desa nenek ku karena disitulah aku mendapat hidayah untuk tekun beribadah. Aku rela siap bila aku tidak bisa menggapai cita-citaku untuk menjadi seorang dokter melalui sekolah yang aku banggakan. Aku yakin masih banyak jalan untuk ku meraih cita-cita. Yang terpenting aku bisa mendalami ilmu agama dan bisa berpegang teguh terhadap Al-Quran.
Akupun memulai hari-hariku hidup bersama nenek bersama teman-teman baruku di sekolah yang baru. Semua perempuan memakai jilbab sedangkan aku belum memakainya. Sekolah baruku sering mengajarkan tentang islam. Beberapa hari kemudian aku mengenakan jilbab. Aku memakai jilbab didasari oleh niat dan untuk mendapatkan pahala dari Alla SWT.
Hari demi hari ku tempuh di desa nenekku. Suda sekian lama aku mempelajari ilmu agama tapi aku merasa imanku masih kurang. Aku tetap beruasaha untuk memperkuat imanku.
Tahun demi tahun aku lewati. Kini aku telah menjadi seorang Dokter karena aku percaya kalau aku bisa menjadi dokter melalui jalan sekecil apapun. Aku sangat senang menjadi dokter karena kini aku bisa menolong pasien-pasien yang membutuhkanku. tidak hanya pasien, aku bisa menolong para tetanggaku dan keluargaku bila mereka sakit dan butuh bantuan ku.
Aku percaya kalau yang telah membawaku ke kesuksesan ini adalah Allah SWT. Melalui Nabi Muhammad SAW aku jadi tahu bahwa kebesaran Allah SWT ada dimana-mana dan tiada batasnya. Nabi Muhammad SAW telah mengajariku cara untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk sehingga aku bisa memilih dan aku punya keinginan agar akhlakku bisa seperti Nabi Muhammad SAW, beliau yang selalu menolong orang.
Terimakasih para santri yang telah membuatku sadar tentang agama. Terimakasih desa nenek ku, aku akan selalu mencintaimu karena disitulah aku mendapat hidayah untuk berbuat baik kepada siapa saja dan menyembah hanya kepada-Nya. Terimakasih Nabi Muhammad SAW yang telah mencontohkanku tata cara beribadah. Terimakasih Ya Allah, Kau telah memberikan karuniamu kepadaku untukku bisa mencapai cita-citaku. Ya Allah aku ingin akhlakku seperti Akhlak Nabi Muhammad SAW.
Komentar
Posting Komentar