Langsung ke konten utama

Cerpen - SEMUA SELESAI DI 2009

 

Tema               : Dunia SMA

Genre             : Fiksi, Teenlit, Romance

Ditulis             : 8 Maret 2012

Jumlah Kata    : 6110 Kata

 

SEMUA SELESAI DI 2009

 

Di suatu sekolah terdapat siswa yang begitu cerdas apalagi di bidang matematika. Salah satu gurunya meminta dia untuk mengikuti lomba dalam memperingati tahun baru islam.

Teng. . teng. . teng. .

“Baik anak-anak, jam pelajaran ibu sudah habis dan sudah waktunya kalian istirahat. Silakan masukan buku kalian.” Tutup Bu Mela, salah satu guru matematika di sekolah.

“Andin, ibu akan mendaftarkan kamu untuk maju dalam lomba Cerdas Cermat Matematika bersama Sila dan Hadit ya?”tanya Bu Mela.

“Yang benar Bu?  Saya? Ia, Bu saya mau. Kapan, Bu?”seru Andin

“Waktunya sebentar lagi, tanggal 16 Desember. Yah 5 hari lagi. Kamu siap?”

“Mudah-mudahan siap, Bu. Aku akan berusaha pulang membawa kebanggaan.”

“Semangatmu hebat sekali. Bagus kalau begitu. Teruslah berlatih”

“Siap, Bu.”

 

Sepulang sekolah Andin meneruskan dengan latihan eskul disekolahnya yaitu Marching Band. Saat sedang penyampaian ketua saat apel/upacara kecil.

“Ternyata di eskul kita terdpat anggota yang begitu cerdas. Selamat ya.”penggalan  perkataan Gita, ketua Marching Band.

“Memangnya siapa ka?”tanya Sansha, salah satu anggota Marching Band.

“Dia akan diikut sertakan dalam lomba Cerdas Cermat Matematika dalam rangka memperingati tahun baru islam.”Gita meneruskan

“Maksud Lu gue ?” tanya Andin

“Nah tuh si kucing ngaku.” Seru Gita

Semua anggota memberi tepukkan tangan sebagai penghargaan kepada Andin.

“Kita musti bangga dengan Andin. Dengan lombanya ini, dia bisa membawa citra baik marching band di sekolah ini. Bukankah begitu?” sambung Gita

“Betul.”jawab anggota serempak.

“Iya makasih atas penghargaan dari kalian. Gue minta dukungan dan doa dari kalian semua.”

“OK”jawab anggota serempak.

 

Disela-sela latihan terlihat seorang anak laki-laki memakai baju basket mendatangi Andin.

“Hey, Ndin kenapa Lu?”Seru Gamar, kaptem Basket putra disekolahnya.

“Eh Lu Mar. Ga kenapa-napa koq. Gue masih ga percaya sama apa yang gue alami.”

“Memangnya apa? Lomba matematika itu?”

“Ia. Koq Lu bisa tau?”

“Ya jelas gue tau. Berita ini udah nyebar kali. Anak-anak di kelas Lu kan aktif di berbagai eskul. Jadi dengan mudah berita kelas Lu bisa didapat dengan mudah.”

“Ia juga ya.”

“Gue juga nyamperin Lu mau ngucapin selamat atas tertunjuknya Lu sebagai wakil SMA kita.”

“Oh ia makasih. Gue minta dukungan dan doanya aja.”

“Iya. Tenang saja gue bakal dukung Lu koq.”

“OK thanks, Lu memang sahabat gue yang paling baik deh.”

“Iya donk GAMAR.”

 

Sesampainya dirumah, Andin teriak-teriak kegirangan untuk menyampaikan hal ini kepada ibu dan ayahnya.

“Ibu . . . . Ayah . . . .”Teriak Andin

“Ibu dan Ayah belum pulang Non.” Jawab Bi Nima, pembantu dirumahnya.

“Wah masa udah jam tujuh malam mereka belum pulang. Nyebelin.”

 

Keesokan harinya

“Ibu . . . Ayah . . .”Teriak Andin

“Ibu dan ayah non sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali non.”Jelas Bi Nima

“Kalau kaya begini terus kapan gue bisa cerita ke mereka. Kalau begitu, gue ga bakal cerita ke mereka.”

 

Sesampainya disekolah terlihat dua orang siswa mendekatinya.

“Lu Andin?”Tanya mereka

“Ia benar. Ada apa ya?”Andin yang sedang melamun terkagetkan

“Lu dipanggil Bu Mela diruang guru sekarang.”

“Ia makasih”

 

Sesampainya diruang guru.

“Ibu memanggil saya?”

“Ia, kesini Sila dan Hadit sudah menunggu dari tadi.”

“Memang ada apa, Bu?”

“Sesuai jadwal, hari ini adalah tekhnikal meeting. Ibu minta kalian bertiga datang karena ibu tidak bisa hadir kesana.”

“Baik bu kalau begitu.”

“Padahal kan hari ini gue musti latihan marching band tapi dihambat oleh tekhnikal meeting ini. Tapi ga apa-apa lah gue bisa izin kan. Mereka pasti ngizinin.” Ucapnya dalam hati.

 

Saat teknikal meeting. Andin tak henti memandangi seseorang yang berbicara di depan. Bukan hanya perkataan orang tersebut yang didengar tapi juga memandangi wajahnya yang begitu tampan rupawan.

“Wah ! ganteng sekali cowo itu, gue jadi naksir. Udah ganteng rangkaian kalimat yang diucapinnya juga indah. Siapa ya namanya?”ucap andin dalam hati.

Sepertinya orang tersebut sadar bahwa Andin memperhatikannya sejak tadi.

“Hey kamu ! siapa namamu?”Tegur Adnan

“A..a...andin ka.”Jawab Andin gugup

“Oh Andin. Kenapa kamu? Saya perhatikan dari tadi kamu ngelamun terus deh?”

“ga apa-apa koq ka.”Elak Andin

“Yasudah teruskan lagi.”

Acara tekhnikal meeting sudah selesai. Dari ujung pintu, Adnan  juga ternyata memandangi Andin yang sedang berbincang dengan teman-temannya. Ternyata Andin menyadari itu dan Andin membalas pandangan pria itu.

“Adnan !” teriak salah salah satu panitia dari dalam ruangan.

“Ia tunggu.” Pria itu melepaskan pandangannya dan masuk ke dalam ruangan.

“Jadi nama dia Adnan. Lucu juga ya. Adnan Andin. Eh apa sih”ucap Andin dalam hatinya.

 

Beberapa hari kemudian waktu lomba telah tiba dan Andin beserta kawan-kawan datang ke pesantren Al-Hidayah untuk mengikuti lomba. Saat Andin dan kawan-kawan sedang mengerjakan soal di babak penyisihan terlihat ka Adnan sedang memandanginya dan berjalan mendekatinya.

“Mudah kan soalnya.” Tegur Adnan

“Soalnya memang mudah tapi jawabannya litle-litle.” Elak Andin

“Ah bisa saja kamu.” Seru Adnan

“hehe”

“Duh jangan disini terus dong. Deg.degan nia gue. Nanti gue ga konsen ngerjain soal ini lagi.” Ucap Andin dalam hati

“Kenapa? Risih ya saya disini.”

“Loh koq dia bisa tau apa yang gue pikirin sih?”ucapnya dalam hati sambil tersenyum kepada Adnan.

“Yasudah saya pergi. Yang teliti ya mengerjakannya.”

Andin menjawab dengan senyuman.

 

Waktu pengerjaan telah habis dengan yakinnya Andin beserta kawan-kawan meninggalkan mejanya.

“untuk peserta yang masuk final akan diumumkan pada hari jumat jam 8 pagi.”umum Adnan.

 

Hari yang ditunggu pun datang. Pukul 8 tepat peserta telah berkumpul di masjid pesantren Al-Hidayah

“Yang masuk final adalah SMAN 14 Jakarta, SMAN 123 Jakarta dan SMAN 53 Jakarta.” Umum Iva salah satu panitia lomba.

 

Sorak-sorak peserta mewarnai masjid tersebut. Andin sendiri berbeda dengan yang lain. Dia hanya tersenyum mendengarnya dan langsung memandang ke arah Adnan. Terlihat Adnan mengacungkan jempolnya untuk Andin dan Andin membalasnya dengan mengacungkan jempolnya juga.

 

“Sekarang kalian bisa istirahat dahulu dan kumpul lagi disini pukul satu.” Umum Iva.

“Untuk kalian yang ingin tahu tentang kita dan islam, kalian bisa menunggu jam tersebut bersama kita di sekretariat.”sambung Adnan.

 

Andin dan teman-teman memutuskan untuk menunggu di sekretariat saja karena kebetulan sekolah libur dan rumah mereka pun jauh dari situ.

“Ka siapa saja pengurus DKM Al-Hidayah ini Ka?”tanya Andin

“Diantaranya ada kaka kenalin nama kaka Ani, ada ka Iva, Ka Adnan, Ka Revi, Ka Denih dan masih banyak lagi.”Ani menyebutkan

“Ceritain sedikit tentang salah satu dari kalian dong?”Pinta Andin

“Siapa ya?”

“Ketua DKMnya saja ka. Siapa dia?”

“Oh. .betul juga ia. Ketua DKM kita itu Ka Adnan.”

“Wah kebetulan. Pas banget pertanyaan gue.”Ucap Andin dalam hati

“Ka Adnan ini buyut dari pendiri pesantren ini dan dia itu sepupu kaka juga. Dia sudah terjun sebagai pengurus mulai dari SMP walaupun dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai siswa tapi dia tetap aktif dalam organisasi ini. Sekarang ini dia sudah kuliah di UNJ jurusan pendidikan matematika. Dia punya kepribadian yang begitu hebat bahkan sampai saat ini dia belum pernah sekalipun punya pacar.”Jelas Ani

“keren juga ya Ka Adnan”

“Keren apanya ni?”Ledek Ani

“Keren kepribadiannya.”

“Kaka kira orangnya.”

“Ya orangnya juga keren si.he”Canda Andin

“Emang si dia itu keren. Kebanyakan kita disini suka sama dia. Dia udah kita jadiin panutan.”

“Keren banget.”

“Khm. .Khm. .”Adnan memotong obrolan Andin dan Ani

“Eh kaka.”elak Andin

“Ngomongin siapa tuh? Ngomongin kaka ya? Inget kalau ngomongin ga boleh yang jelek loh.”Tanya Adnan.

“Siapa juga yang ngomongin kaka. Ya kan ka? Ih geer. . .”elak Andin lagi.

“inget loh Allah benci sama orang yang suka bohong.”Jelas Adnan

“hehe. . iyah Ani kalah kalau kaka udah ngomong gitu. Iyah kita ngomongin kaka tapi ga yang jelek kok. Andin pingin tau salah satu dari kita, yasudah aku ceritain ketuanya saja.”Jelas Ani.

“Yasudah ga papa. Jangan lupa solat duhur nanti keburu mulai loh lombanya.”Suruh Adnan

“OK, ayo Ndin.”Ajak Ani.

 

Lomba pun dimulai. Ketiga grup sudah duduk di kursinya masing-masing. Terlihat dari SMAN 123 Jakarta sudah ada pendukung yaitu Gamar kapten basket sekaligus sahabat Andin, Gita ketua Marching Band, Hilman Ketua DKM, Bu Mela guru matematika, Pa Asep guru agama dan teman-teman lainnya.

 

Babak pertama sudah dimulai grup 2 yang tak lain adalah grup Andin dan kawan-kawan dapat menjawab semua soal yang diberikan. Lalu babak kedua adalah babak rebutan dan semuanya dijawab oleh grup 2 juga. Babak ketiga adalah babak rebutan bertingkat dan setengah soal dapat dijawab oleh regu 2.

“Akhirnya jumlah score yang didapat adalah SMAN 14 Jakarta 700, SMAN 123 Jakarta 1500 dan SMAN 53 Jakarta 800. Maka pemenangnya adalah SMAN 123 Jakarta.”umum Insany.

 

Semua pendukung SMAN 123 Jakarta bersorak-sorak dan dengan lapang dada kedua grup yang kalah menyalami pemenang dan diakhiri dengan foto bersama.

“Selamat Andin. Dari awal kaka sudah yakin grup kamu pasti menang.”seru Ani.

“Iya selamat ya kaka juga sudah yakin kamu pasti bisa.”seru Adnan

“Iya makasi tapi yang menang kan bukan aku tapi grup aku kenapa ucapannya di tujuin ke aku. Ke grup aku dong.”Elak Andin

“Iya maksud kaka itu ke grup kamu.” Jawab Adnan.
”Teman-teman”Panggil Andin.

“Iya kakak-kakak makasih.”Ucap Sila dan Hadit serempak.

 “Oh ya nanti akan diadakan sanlat dan pembelajaran mipa dan bahasa inggris. barangkali berminat.”Tawar Adnan.

“Iya insya allah, Ka.”Jawab Sila

“Kalau begitu kita izin pulang ka. Aku ga bakal lupain satu hari terbaikku di pesantren ini.”Pamit Andin

“Sering-sering main kesini yah. . .”Ajak Adnan.

“OK.”Jawab Andin, sila dan Hadit serempak.

 

Terlihat dari ujung gerbang ada yang memanggil Mereka.

“Andin, Sila, Hadit ayo. !”Teriak Gamar

“Mari Ka. Assalamu’alykum.”Pamit Andin

 

“Eh kalian keren dah. Apalagi Lo Ndin, Lo keren dah.”Puji Gamar

“khm. . khm. .”ganggu Gita.

“Apaan si? Ni kan berkat temen-temen semua juga.”rendah Andin.

“iah. . iah. .”Gamar malu.

 

Keesokan harinya saat eskul Gita menyampaikan rasa salutnya kepada Andin karena telah memenangkan lomba tersebut.

“Good Job untuk Andin, Lo bisa membawa citra marching band dari sini.”Ucap Gita

“OK. . OK. Makasih atas dukungan dari kalian ya.”Rendah Andin

“Kalian semua musti lihat Andin. Andin ini tercatat tidak pernah absen satu kalipun semenjak tahun ajaran baru. Tapi walaupun dia aktif dalam eskul dia juga aktif dalam pelajaran bahkan mencetak prestasi walaupun dituntut latihan terus-menerus.”Jelas Andin kepada para anggota

“hehehehe sudah lah gue jadi malu.”Rendah Andin

“Yasudah. Pengumuman selesai.”Tutup Gita

 

Saat istirahat, Andin bercerita kepada Annisa salah satu teman curhatnya.

“Ka kemarin gue ketemu sama cowo ganteng banget. Udah ganteng, lucu, pinter, sopan, soleh dan kepribadiannya juga menarik.”Jelas Andin

“Wah siapa si?”Seru Annisa

“Ketua DKM Al-Hidayah, kuliah di UNJ jurusan pendidikan matematika.”Jelas Andin

“Iah siapa namanya?”Tanya Annisa heran

“Namanya Adnan. Lucu kan. Adnan Andin.”Ujar Andin

“Adnan? Lo suka sama dia?”Cetus Annisa

“Kagum aja si. Eh apa suka yak. Memang kenapa? Kakak kenal?”Tanya Andin heran

“Kenal banget. Dia kan sepupu gue.”Seru Annisa

“Wah yang bener?”tanya Andin malu.

“Bener. Kan pesantren itu punya kakek buyut gue. Sekarang yang ngelola yayasannya Bapaknya Adnan itu.”

“Ternyata Jakarta itu sempit.”Ucap Andin

“Kata siapa luas. Kan masih luasan jawa barat.”

“hhhheeee. Ganteng ya Ka.”

“Iyah donk sepupu gue gitu loh. Belum punya cewe loh.”Ledek Annisa

“Iyah gue tau. Tapi apa hubungannya ma gue?”

“Kali aja Lo mau jadi cewenya.”

“Ga akh ketuaan. Gue cuman pengen sering-sering ngobrol sama dia aja. Gimana caranya ya?”

“Ga tua-tua amat ya kira-kira beda tiga tahun sama Lo. Ya Lo ikut program sanlat atau Program belajarnya saja !”

“Kalau yang sanlat, kayanya ga deh.”

“Kenapa?”

“Ga tertarik.”

“Kalau Lo mengagumi dia, Lo musti bisa suka sama apa yang dia minati.”

“Iya yah. Ok lah gue ikutan sanlat itu. Tapi, Kaka temenin gue yah?”

“Kok gue kena juga si?”

“Ayolah lagipula dia kan sodara kaka juga.”

“Ok lah. Ini demi ade gue yang lagi mengagumi sodara gue sendiri.haha”

“he”

“Kalau gitu pulang latihan sekarang kita langsung daftar ke sekre Ar-rahmna OK?”

“OK.”

 

Pulang latihan mereka berdua langsung pergi ke sekre Al-Hidayah yang tempatnya begitu dekat dengan rumah Annisa. Setelah selesai mendaftar Annisa menyuruh Adnan untuk mengantarkan Andin pulang.

“Ka, kasihan Andin pulang sendiri.”Ledek Annisa

“hmmp. . .maksudnya?”Ucap Adnan

“he. .”Cenges Annisa

“Iah kaka ngerti. Bentar yah kaka ambil motornya dulu.”Ucap Adnan

“Ah kaka ngapain si, gue kan bisa pulang sendiri. Biasa juga gue pulang jam segini kan?”Ucap Andin kepada Annisa

“Ah sudahlah mumpung Ka Adnan baik.”Tenang Annisa

Brem. . brem. .

“Ayo Ndin naik !”Ajak Adnan sambil mengendarai motor kerennya itu.

“He. .padahal aku bisa pulang sendiri ka.”

“Ayo naik nanti keburu kaka berubah pikiran untuk memasukan motor kaka ini ke garasi lagi.”Suruh adnan

“Ayo cepet, mumpung dia baik.”Kata Annisa

“Iya. .iya gue naik. Awas ya Ka tunggu pembalasan gue.”Ucap Andin kepada Annisa

“Tapi Lo mau kan?”Ledek annisa

“Ia.Ayo ka berangkat.”

“Hati-hati nanti jatuh. Pegangan.”Salam terakhir dari Annisa.

 

Diperjalanan Adnan terus bercerita tentang Islam. Andin hanya bisa mendengarkan sambil memikirkan semua yang pria dewasa itu ucapkan. Andin tidak bisa berbicara apa-apa dan tidak bisa mengkritik apa-apa. Karena semua yang Adnan katakan adalah benar.

“Pria ini membuat gue makin kagum.”Ucap Andin dalam hati.

“Eh Ndin. Belok kanan atau belok kiri nih?”

“Oh, belok kanan, Ka. Lalu di depan tinggal belok kiri lalu ada rumah no 54. disitu rumah aku, Ka.”

 

Semalaman Andin tak henti memikirkan kata-kata Adnan. Kali ini Andin sudah tidak memikirkan wajah Adnan yang tampan tapi memikirkan sifat, kepribadian dan kalimat-kalimat yang dikeluarkan Adnan selama perjalanan.

“Kata-kata Ka Adnan itu benar.”Kalimat itu yang berulang-ulang diucapkan Andin.

 

Waktu sanlat sudah tiba, setiap hari Andin diantarkan pulang oleh Adnan bahkan jika dia ada jadwal latihan marching band, dia pun diantarkan oleh Adnan dan dijemput lagi untuk pulang oleh Adnan. Ternyata saat hari terakhir sanlat ada kalimat tak terduga yang dikeluarkan oleh Adnan.

“Andin, kaka suka sama kamu.”Kata Adnan yang diucapkan didepan sekolah Andin.

“Masa ia Ka Adnan nembak gue. Ini mimpi. Mana mungkin Ka Adnan yang punya akhlak top-marko-top bisa nembak gue.”Andin berbicara dalam hati yang baru saja turun dari motor keren milik Adnan.

“Helo? Kenapa kamu ngelamun?”Adnan membangunkan lamunan Andin

“Ga kenapa-kenapa Ka. Aku cuman kaget aja Kaka ngomong gitu.”

“Kaget ya. Ga usah dijawab sekarang koq. Yasudah gih gabung ma teman-teman kamu yang lain.”Jelas Adnan

“Ya Ka. Aku mau pikir-pikir dulu. Maasalamah.”Pamit Andin

“Ilalliqo.”

 

Andin berjalan menuju teman-temannya begitu pelan sekali sambil muka tertunduk ke bawah memasuki sekolahnya.

“Ga mungkin dia nembak gue.”ucap Andin dalam hati yang sedang duduk di meja bundar di taman.

Terlihat Annisa dari ujung lapang melihat Andin yang sedang melamun dan menghampiri Andin.

“Kenapa Lo Ndin?”Annisa membangunkan Andin dari lamunannya

“Ga kenapa-napa kok Ka.”Elak Andin

“Ah jangan bohong Lo. Di apain Lo sama Adnan sampe Lo kaya gini?”

“Ga di apa-apain kok Ka. Cuman gue ga nyangka aja.”

“Ga nyangka kenapa?”Tanya Annisa penasaran

“Dia nembak gue, Ka.”

“Wah? Good job.”

“Kenapa?”

“Ya iyalah. Adnan itu belum pernah punya cewe. Jadi Lo beruntung bisa jadi cewe pertama dia.”

“Iya sih, tapi mana mungkin seorang Ka Adnan ngomong gitu.”

“Bisa aja.”

“Terima ga yah, Ka?”Andin bingung

“Maksud Lo? Lo belum ngejawab pertanyaannya?”

“Iyah. Tadi gue masih kaget. Gue ga bisa ngomong apa-apa. Sebenernya gue udah nganggap dia sebagai kaka gue, tapi setelah dia ngomong gitu kok gue jadi deg.degan lagi ia?”

“Tuh berarti Lo masih nyimpen perasaan ma dia. Udah terima aja. Kesempatan ga bakal dateng dua kali loh.”

“Iya deh. Gue pikir-pikir lagi.”

“Tapi jangan terlalu dipikirin juga. Inget besok kita lomba.”

“OK.”

 

Keesokan harinya. Andin diantar oleh Ka Adnan datang ke sekolah dan diantar lagi ke tempat lomba.

“Semangat ia Ndin. Kaka dukung kamu. Nanti kaka bakal nonton kamu kok. Kaka ga bakal pergi. Kaka bakal lihat kamu terus.”Suport Adnan

“Iyah, Ka. Makasih udah suport aku terus.”

“OK sama-sama”

 

Ternyata penampilan dari marching band Andin dipotong waktu istirahat dulu. Saat istirahat terlihat Gamar datang mendekati Andin.

“Eh Ndin gimana maennya? Sukses?”Tanya Gamar

“Belum, Mar. Penampilan kita nanti sesudah istirahat. Memangnya Lo baru datang?”

“Iyah ni, gue kan musti latihan basket dulu.”

“Pantesan badan Lo bau.”Canda Andin

“Ya ga lah, gue kan udah pulang dulu lalu mandi lalu kesini. Malu dong ketemu Lo ga mandi dulu.”

“khm. . . .”Andin terheran

“Kenapa? Ada yang salah ma kata-kata gue?”

“Ga ada kok.”

“Oh ya gue mau ngomong sesuatu sama Lo.”

“Apa?”Perasaan Andin sudah tidak enak

“Gue suka sama Lo.”

“Duh udah gue duga. Dia pasti nyatain ini. Tapi kenapa musti sekarang. Gue kan masih ngegantungin Ka adnan. Masa gue musti gantungin dia juga.”ucap Andin dalam hati

“kenapa?”

“Ga kenapa-napa.”

“Kalau Lo belum bisa jawab, gue tunggu sampai kita ketemu lagi selesai liburan OK?”

“OK”

 

Dari ujung pintu tempat pentas Adnan memanggil Andin.

“Hey Ndin.”Teriak adnan

“Eh tuh siapa Lu?”Gamar Cemburu

“Kaka. Yasudah deh gue kesana dulu ya?”Pamit Andin

 

“Ya, ada apa ka?”Tanya Andin

“Kamu lihat Annisa ga?”

“Ka Annisa tadi lagi sama Ka Yudit.”

“Yudit?”

“Iya. Alumni marching band kita yang sekarang jadi panitia di acara ini dan dia itu tante aku.”Jelas Andin

“Oh. Sekarang dia dimana?”

“Oh itu, Ka.”

“Tolong panggil dia sekalian aja sama Ka Yuditnya.”

 

“Ada apa, Ka?”Tanya Annisa

“Sekarang sudah siang, waktunya makan siang. Ayo kita makan bareng-bareng. Sekalian aja sama Ka Yudit. Kenalin nama saya Adnan sepupu dari Annisa.”Ucap Adnan

“Ka ga usah panggil dia Kaka. Dia masih kuliah semester satu tahu.”Ucap Annisa

“Oh maap-maap. Ayo kalau gitu.”Ucap Adnan malu

 

Istirahat sudah selesai. Dan marching band Andin bermain sangat menakjubkan.

“Keren deh kalian. Kalau kaya gini ibu optimis menang.” Seru Bu Intan pembina Marching Band.

 

Saat ini sudah waktunya pengumuman pemenang. Hal yang akan dinilai adalah PIT instrument, Battery, FC dan Music Analisis.

“The Best PIT Instrumen adalah Gita Arya Winata.”Umum Ka Dwi

“yyyyyeeeeee. . .”Sorak pendukung GAW

“The Best Battery Percusion adalah Gita Arya Winata.” Umum Ka Dwi

“yyyyyyeeeee. . . .GAW. . GAW... . “Sorakannya semakin kencang

“The Best Field Comander adalah Gita Arya Winata.” Umum Ka Dwi

“hore. . . .”

“The Best Music analisis adalah Gita Arya Winata.” Umum Ka Dwi

“dan The Best percusion line adalah Gita Arya Winata.” Umum Ka Dwi

“yyyyyeeeee. . . .GAW. . . GAW. . .GAW. . .yyyyyyeeee”Semua pendukung bersorak bahkan ada yang menangis karena terlalu bahagianya

 

Semua penilaian dapat diraih oleh marching band Andin. Semua penonton bersorak-sorak atas kemenangan nya ini. Karena setiap penilaian marching band Andin mendapat penilaian tertinggi semua.

“Bahagia banget gue. Pulang bisa bawa kebanggaan yang berat seperti ini.”Ucap Gita

“Iya. Gue bangga banget sama marching band tahun ini. Kemajuannya begitu drastis. Tahun lalu kita ga bawa satu pun piala bahkan kita terdapat di peringkat paling akhir. Nah sekarang? Kita ngeborong semua piala.”Ucap Andin

“GAW Is The Best. Kita udah buktiin ke kalian bahwa kita bisa. Hidup GAW.” Teriak Gita dengan kerasnya.

“Hidup.”Sorak anggota GAW.

 

Andin pun pulang membawa kebanggaan yang amat dipundaknya, bibirnya tak berhenti tersenyum semenjak kemenangannya tadi. Tetapi sesampainya dirumah, Baru saja datang Andin sudah diberi tolakan pinggang oleh mamahnya.

“Siapa itu Ndin?”Tanya Adnan

“Dia bundaku.”Jawab Andin

“Sepertinya dia sedang marah. Sebaiknya kaka antar kamu ke bundamu.”

“Baik, Ka.”

“Bunda !”Sapa Andin

“Tante !”Sapa Adnan

“Tumben bunda nyambut Andin di depan pintu?”Andin heran

“Kamu kemana saja? Anak perempuan jam segini baru pulang? Diantar cowo lagi. Siapa dia?”Ucap bundanya yang bicara sambil bertolak pinggang

“Dia temen Andin bund.”Jelas Andin

“Temen, temen, ayo cepet masuk.”Bundanya marah

“Kenalin dulu dong, nama dia Adnan. Dia adalah ketua DKM Al-Hidayah.”Ucap Andin dengan senyumannya

“Oh ketua DKM ya? Ketua DKM tapi berani berduaan sama cewe. Kenal dimana kamu sama dia?”Ledek Bunda Andin

“Bunda ga boleh ngomong gitu dong, Bund. Bunda dan ayah ga tau kan? Kemaren Andin ikutan Cerdas Cermat Matematika. Tapi mana dukungan bunda sama Ayah? Kalian sibuk sama pekerjaan kalian. Kalian ga perduli ma Andin. Teman-teman Andin yang Lebih peduli sama Andin. Terus bunda tau kemaren aku ikutan sanlat? Engga kan? Kemana kasih sayang bunda. Terus hari ini aku habis lomba dari pagi sampai malam. Bunda ga tau lagi kan? Dan Ka Adnan ini yang udah perhatian sama Andin. Hampir setiap hari Ka Adnan nganterin Andin pulang. Terus sampai disini ketemu bunda, bukannya bunda berterimakasih tapi bunda malah marah-marah ga jelas gitu sama Ka Adnan.”Andin emosi terhadap bundanya

“Kamu ga boleh gitu sama bunda kamu. Inget dia yang sudah membesarkan kamu.”Tenang Adnan

“Engga ! Bukan Bunda yang besarin Andin tapi Bi Nima yang besarin Andin. Selama ini Bunda dan Ayah sibuk sama urusannya masing-masing. Saat berangkat dan tidur Andin, mereka belum pulang. Keman kalian? Mana kasih sayang kalian?”Andin makin emosi

“Iyah Bunda minta maaf. Sekarang kamu masuk tapi biarin temen kamu ini pulang.”Ucap Bundanya yang setangah marah

“Baik tante. Saya pamit.”Salam Adnan

“Ndin, Kaka pulang dulu.”Lanjut Adnan

“Maafin bunda Andin ya, Ka.”Ucap Andin

“Ya, maassalamah.”Pamit Adnan

“ilalliqo.”

 

Adnan meninggalkan Andin bersama bundanya. Saat Adnan pulang, Andin terus menatapi Adnan sambil bercucuran air mata. Lalu bundanya membentak.

“Andin ! ayo cepat masuk.”Perintah bundanya

“Ternyata bunda masih marah-marah saja.”ucap Andin

“Makanya, cepet masuk !”Emosi bundanya meningkat

“Bunda jahat.”ucap Andin sambil berlari.

 

Langkah Andin terhenti saat memasuki ruang keluarga dan melihat seorang lelaki yang sedang duduk sambil menengok-tengok.

“siapa dia? Mengapa dia ada di dalam rumah ini. Akankah dia?”ucap Andin dalam hati dan teringat orang yang dicintainya saat di jepang dulu.

“Andin,”rayu bunda Andin

“Andin ga mau dengar apa-apa lagi dari bunda.”Teriak Andin sambil berlari memasuki kamarnya.

 

Di dalam kamar Andin terus menerus menangis. Andin sangat kecewa kepada bundanya yang sekarang. Memang setelah dua tahun lalu mereka pindah ke Jakarta, bundanya menjadi sibuk sekali sehingga melupakan kewajibannya untuk memberikan kasih sayang kepada Andin. Di tambah lagi setelah kehilangan kaka kandung Andin, bundanya semakin menambah kesibukannya. Tetapi bundanya itu tidak sadar bahwa dia telah menelantarkan Anak bungsunya.

“Bunda ga adil ! Bunda ga Adil !.”teriak Andin.

“Kenapa bunda jadi seperti ini? Kenapa? Dan disaat seperti ini Andin ga punya teman untuk bersandar. Andai Ka Sita masih ada, Andin ga akan sesedih ini.” Ucap Andin dalam hati.

 

Setelah Andin mengingat kakanya itu, dia langsung terlintas pikiran untuk mendatangi makam kakanya.

“Kak Sita ! Ya Ka Sita tempat Andin bersandar. Andin mau bertemu dengan Ka Sita.”

 

Andin langsung berlari keluar. Sesampainya diruang keluarga, ada seorang lelaki yang memanggil Andin.

“Andin !” panggil lelaki itu.

“Sepertinya Andin mengenal suara itu.”ucap Andin dalam hati dan menghentikan langkahnya.

“Andin, mengapa kamu menangis?”Ucap lelaki itu yang belum menampakan dirinya.

“Ka Deva ! Ya ini suara Ka Deva. Andin kenal betul suara Ka Deva.”ucap Andin dalam hati.

“Ka Deva ! Dimana Kaka? Ka Deva !”teriak Andin.

“Gue disini.”Kejut Deva yang langsung mengagetkan dari belakang.

“Ka Deva ! Andin kangen banget sama Ka Deva.”Ucap Andin sambil memeluk Deva.

“Kamu kenapa nangis? Masa ade kaka nagis.”Ucap Deva

“Andin sedih Ka.”

“Ya sedih kenapa?”

“Nanti saja Andin ceritakan. Sekarang Andin mau pergi dulu.”

“Kemana?”

“Ke makam Ka Sita.”

“Ayo kaka antar.”

 

Deva mengantar Andin kemakam Sita. Setelah sampai di pemakaman, Andin menyuruh Deva untuk menunggu dimotor saja.

“Ka Sita, kenapa bunda jadi kaya gini ka? Bunda yang sekarang berbeda dengan bunda kita dulu. Terlebih lagi semenjak kaka pergi satu tahun yang lalu, bunda semakin menyibukan dirinya sampai melupakan Andin. Sekarang ini Andin hanya bisa mengadu ke Kaka. Kaka bicara donk, beritahu Andin jalan keluarnya. Kaka selalu punya jalan keluar kalau Andin punya masalah dan Kaka selalu nenangin Andin kalau Andin sedih. Bicara donk Ka.” Ucap Andin sambil menangis di atas makam kakanya.

 

Saat Andin sedang menagis di makam kakanya itu, tiba-tiba ada sebuah kertas yang jatuh di depan pandangannya.

 

Andin ga boleh nangis, kaka akan selalu ada sama Andin. Kaka sayang baget sama Andin. Andin adalah adik terbaik kaka yang pernah kaka punya. Andin ga boleh nangis. Pokoknya kaka ga mau ngeliat Andin nangis. Andin musti janji sama kaka, bahwa “Andin orang yang kuat, Andin ga bakal nangis lagi.” Kaka pingin Andin bilang ini di depan kaka.

Tolong berikan kado kaka untuk bunda yang ada di kotak biru dan ada sesuatu buat Andin biar Andin bisa terus inget kaka yang ada di kotak ungu. Kotaknya tolong ambil di belakang makam kaka.

 

Pesan tersebut tentu membut Andin senang. Dengan segera Andin mengambil kotak dibelakang makam kakanya dan langsung mengucapkan janjinya.

“Wah, Ka. Bukankah ini shall yang biberikan kaka untuk Andin dan sudah hilang bertahun-tahun. Terimakasih, Ka. Andin janji, Andin ga bakal nangis lagi. Terimakasih, Ka. Andin sayang Kaka.”

 

Andin langsung berlari girang menghampiri Deva dan langsung memeluk Deva dengan girang.

“Loh koq Andin seneng gini sih, tadi Andin masuk makam sedih tapi keluarnya girang seperti ini. Apa gerangan yang didapat.”Ucap Deva dalam hati.

“Ka, ayo pulang.”

“Ayo ayo. Kalau kaya gini baru ade kaka.”

 

Sesampainya dirumah, Andin langsung meyerahkan kotak biru tersebut kepada Bundanya. Dengan girang Andin memberikannya tetapi berbeda dengan bunda.

“Bunda, ini ada titipan dari Ka Sita.”Andin menyerahkan kotak biru itu

“Darimana saja kamu? Dapat darimana itu?”Tanya bundanya setengah marah

“Andin habis dari makam Ka Sita Bund, dan ini titipan dari Ka Sita.”Jelas Andin

“Gila kamu !! Ternyata pria itu sudah membuatmu gila.”

“Gila apa Bund? Ini titipan dari Ka Sita.”

“Tidak mungkin. Sita itu sudah meninggal satu tahun yang lalu. Jangan kamu membuat bunda sedih lagi akan kepergian kakamu itu. Sengaja kamu membuat bunda sedih ha`? kamu mau balas dendam sama bunda karena masalah tadi?”Bundanya semakin marah

“Tidak bund. Andin ga ada niat kaya gitu. Ini betul-betul dari Ka Sita.”

“Apa-apaan sih ! Paling ini kamu yang buat. Bukan? Deva !”Bundanya memanggil Deva

“Ini bukan buatan Andin bund, ini dari Ka Sita.”Jelas Andin

“Ya Tan.”Jawan Deva

“Darimana Andin dapat kotak itu?”Tanya Bunda kepada Deva

“Entahlah Tan, tadi saat memasuki makam Sita dia dalam keadaan sedih dan tak membawa apapun tetapi setelah keluar dia menjadi girang dan membawa dua kotak.”Jelas Deva

“Iyah ! Kedua kotak itu dari Ka Sita, yang biru untuk bunda dan yang ungu untuk Andin. Itu benar dari Ka Sita. Ka Deva percayakan.”Jelas Andin

“Maaf, logikanya itu memang ga mungkin tapi bisa saja ada suatu jawaban dari kesedihan Andin yang diantarkan melalui keajaiban. Coba saja buka dulu, Tan.”Jelas Deva

 

Bunda Andin membuka kotak itu. Di dalam kotak itu terdapat sebuah bintang emas yang bertuliskan “Sita selalu cinta” dan secarik surat.

 

Bunda jangan terus bersedih akan kepergian Sita. Sita sayang bunda. Ini sudah takdir Sita Bund. Kasihan Andin jadi korbannya. Andin kurang kasih sayang dari Bunda. Bunda harus tetap tersenyum dan tegar seperti apa yang selalu bunda terapkan kepada Sita dan Andin. Sita sayang sekali sama bunda. Ini hadiah dari Sita untuk bunda, mudah-mudahan Bunda suka. Tolong biarkan Sita tenang disini Bund. Sita selalu cinta’’’’’’’

 

Setelah melihat pesan itu, Bunda Andin langsung memeluk Andin dan meminta maaf.

“maafin bunda Ndin. Bunda ga sadar bahwa selama ini bunda sudah menelantarkan Andin. Maafin Bunda.”

Andin langsung memeluk Bundanya. Dan Andinpun tertidur lelap di pangkuan Bundanya.

 

Esok hari telah tiba. Pagi-pagi sekali Deva sudah mengajak Andin pergi ke Villa miliknya di puncak. Selama libur sekolah Andin diajak berlibur disana.

“Wah !! Sudah lama Andin ga kesini.”Seru Andin

“Keren kan pemandangannya.”Sambung Deva

“Iyah, Andin kesana dulu ya ka.”

 

Tak diduga-duga disana Andin bertemu dengan Annisa.

“Ka Annisa !”Sapa Andin kaget

“Eh Ade kaka ada disini. Lagi apa Lo? Sama siapa? Bukannya Lo ga punya villa disekitar sini yah.”Jawab Annisa heran

“Gue lagi liburan sama bunda, tante Yudit dan temen gue. Yah gue memang bukan di villa gue tapi di villa temen gue.”Jelas Andin

“Temen Lo yang mana?”Tanya Annisa heran

“Temen gue yang kuliah di Australia. Sekarang dia lagi liburan di Indonesia. Kaka sama siapa?”

“Oh, kok Lo belom pernah cerita si ! gue sama keluarga besar gue termasuk Adnan.”

“Wah!! Ada Ka Adnan disini. Gimana dong. . .”

“Memangnya kenapa kalau ada dia?”

“Gue lagi nenangin diri disini dan pingin mikirin siapa yang mau gue pilih. Kalau ada dia disini ga adil buat Gamar dong.”

“Eh Gamar juga ada disini loh, villanya ga jauh dari rumah gue.”

“Wah?? Pokonya gue percaya sama Kaka. Kaka jangan ngasih tau gue ada disini. OK?”

“OK. Tapi kenalin gue sama temen Lo dong.”

“OK. Ayo.”

 

“Ka, ada yang mau kenalan nih.”Ucap Andin

“Kenalin nama gue Annisa. Gue temen sekolahnya Andin.”Annisa memperkenalkan dirinya

“Gue Deva. Ndin, koq dia bisa ada disini?”

“Dia juga lagi berlibur sama keluarga besarnya.”Jelas Andin

“Oh. Kalau begitu ayo masuk dulu.”Ajak Deva

“Oh ga usah.”Kata Annisa

“Kenapa Ka?”Tanya Andin

“Takutnya Adnan nyari. Tadi gue kabur dari dia soalnya dia ngelarang gue kemana-mana.”Jelas Annisa

“Wah? Ka Adnan nyari Kaka. Gimana kalau dia kesini?”Andin bingung

“Maka dari itu. Gue pamit ya. Hmmp Dev, salam kenal ya.”Pamit Annisa

“Iya. Ayo Ndin masuk.”Ajak Deva

 

Terlihat ada seorang pria yang sedang berlari-lari dan mendekati ke villa milik Deva. Segera Andin berlari memasuki villa sambil menarik tangan Deva.

“Untung dia ga liat gue.”Ucap Andin

“Siapa dia Ndin? Apa hubungannya sama kamu?”Tanya Deva heran

“Dia Adnan, dia itu temen Andin. Andin lagi ngejauh dari dia.”Jelas Andin

“Oh gitu. Kalau gitu ayo duduk dulu disana.”Ajak Deva

“Iyah. .hmmp ka, kenapa kaka kesini? Dan sampai kapan kaka disini?”

“Kaka ingin ketemu sama kamu. Kaka ingin liburan bareng kamu. Sudah lama kan kita ga bertemu mulai dari kamu tinggal di Indonesia kan. Kira-kira kaka disini selama sebulan.”

“Sebulan? Lama sekali.”

“Kaka kan sudah kangen sekali sama kamu. Waktu kamu pindah ke Indonesia kaka ga tau dan saat kaka pulang ke Jepang, kamu sudah tidak ada. Tidak boleh?”

“Boleh koq. Tapi kenapa kaka bisa sampai sini.”

“Waktu itu kaka mencari informasi tentang kamu, tapi setahun kaka mencari tidak juga ada tanda-tanda. Saat kaka di Australia, Kaka bertemu dengan tante. Dan kemarin kaka ke Indonesia dan dijemput oleh bundamu.”

“Kalau kaka sudah kangen kenapa ga kesini saat kaka bertemu dengan bunda?”

“Karena saat itu Kaka sedang ada Ujian yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi kan yang penting kaka sudah bertemu dengan kamu bukan?”

“Suruh siapa dulu kaka meninggalkan Andin tanpa informasi. Apa kaka ga tahu, waktu Kaka pergi Andin begitu kehilangan Kaka, dan Kaka pergi tanpa jawaban dan menggantungkan perasaan Andin. Andin kira kaka memang sudah ga peduli sama Andin.”

“Dulu kaka diajak oleh paman untuk pergi ke Australia. Saat itu kaka ga sempat ngasih tahu kamu. Dan dulu juga kaka memang belum ada perasaan apa-apa terhadap kamu.”

“Tapi kan sudah ada HP yang bisa dihubungi kemana saja.”

“HP kaka disita Ayah, Kaka ga boleh berhubungan dengan orang-orang jepang selama kaka kuliah di Australia.”

“Oh begitu. Jadi selama ini Andin sudah salah sangka.”

“Ia dan sekarang kaka mau ngomong serius sama kamu. Apa kamu mau mencintai kaka lagi?”

“Kenapa kaka baru menjawab pertanyaan Andin sekarang. Disaat Andin sudah menggantungkan orang lain.”

“Maksudnya?”

“Semenjak Andin mengungkapkan perasaan Andin ke Kaka dan tidak pernah mendapat jawaban dari Kaka, Andin jadi pusing sama perasaan Andin. Setiap lelaki Andin sayangi. Tetapi berbeda dengan sayang Andin ke Kaka. Dan kemarin ini ada dua lelaki yang menyatakan perasaannya pada Andin dan Andin belum menjawabnya. Ka Adnan salah satunya. Sekarang kedua lelaki itu ada disini. Saat masuk pelajaran nanti Andin musti menjawabnya. Disaat Andin butuh ketenangan mereka ada disini. Dan ditambah dengan nyataan kaka. Andin bingung ka.”

“Maafkan kaka.”

“Sudah lebih baik kamu pilih Deva. Dia sudah bersabar mencari kamu selama dua tahun. Lihat perjuangannya.”Ucap Bunda Andin memotong

“Tapi Ka Deva sudah mengecewakan Andin Bund. Peristiwa lalu ga bisa Andin lupain.”

“Yang lalu biarlah berlalu Ndin.”Ucap Bunda

“Andin akan berpikir lagi ka, Bund. Sekarang Andin ingin menemui Ka Annisa. Tolong kaka jangan antar Andin.”

“Yah baiklah kalau begitu.”Ucap Deva

 

Saat Andin menyusuri jalan, Andin baru sadar bahwa dia tidak tahu vila Annisa dimana. Dia mencoba menghubungi Annisa tapi mailbox akhirnya terpakasa Andin menelpon Adnan dan meminta untuk menjemputnya.

“Koq kamu ada disini Ndin?”

“Iyah.”

“Kamu tahu dari mana Kaka ada disini?”

“Dari Ka Annisa.”

“Terus kita mau kemana?”

“Ke villa kaka.”

“Untuk apa?”

“Ada yang mau Andin omongin sama Ka Annisa.”

“Oh Yasudah.”

“Sepertinya dia sedang ada masalah yang ga mungkin diceritain ke aku.”Ucap Adnan dalam hati.

 

Sesampainya di villa, Andin langsung memeluk Annisa dan langsung mengekspresikan kesedihannya.

“Lu kenapa?”Tanya Annisa

“Iya nih, dari tadi dia aneh,”Kata Adnan

“Lu kenapa Ndin? Cerita sama gue. Masalah temen Lu itu? Atau sama bunda Lu? Atau Lu inget sama Ka Sita? Kenapa Ndin? Cerita sama gue!”Tanya Annisa heran

“Gue mau cerita sama Lu tapi ga pake Ka Adnan. Sini gue mau cerita disana.”

 

“Ada apa si Lu?”

“Tadi Deva nembak gue.”

“Terus?”

“Ya gue bingung. Pikiran gue jadi tiga cowo.”

“Perasaan Lu sama Deva gimana?”

“Sebenernya dulu gue tinggal di Jepang dan Deva adalah cowo yang paling gue cintai.”

“Apa sekarang Lu masih cinta sama dia?”

“Gue ga tahu.”

“Kenapa perasaan Lu eror gitu si? Lu susah buat tahu mana cowo yang Lu cintai.”

“Ini karena perasaan gue sama Deva dulu.”

“Kenapa?”

“Dulu gue nyatain perasaan gue ke Deva tapi dia ga jawab sampai akhirnya dia musti kuliah di Australia dan ayahnya melarang dia berhubungan dengan orang jepang selama dia kuliah di australia.”

“Memang dia ga pernah dapet waktu libur?”

“Waktu dia balik lagi ke jepang, gue sudah pindah ke Indonesia dan gue juga ga ngasih kabar ke Deva karena gue pikir dia sudah ga peduli sama gue. Waktu itu dia nyari info tentang gue tapi ga dapet dan kemarin ini dia bertemu dengan bundaku di Australia dan akhirnya dia berkunjung kesini.”

“Seru juga cerita Lu. Hal kaya gini ga bisa Lu serahin ke gue. Gue cuman bisa nyuport Lu dari belakang. Saran gue, supaya Lu ga kepikiran lama-lama dan bisa berlibur dengan tenang, Lu jawab pertanyaan mereka besok juga dan mengumpulkan mereka bertiga.”

“Ok lah, tolong besok Kaka bawa Gamar dan Ka Adnan ke tempat kemarin kita berjumpa.”

“Ok. Sekarang kita jalan-jalan ya.”

 

Keesokan harinya, di tempat yang akan ada hal yang menegangkan, sudah berkumpul Adnan, Gamar dan Annisa. Tak lama, mereka melihat Andin datang bersama lelaki bergandengan tangan sambil bercanda-canda. Tentunya mereka cemburu.

“Hey kalian semua sudah berkumpul”Ucap Andin

“Cerah banget muka Lu, Ndin.”Seru Annisa

“Iya donk, karena sekarang gue udah yakin sama keputusan gue.”Jawab Andin dengan keceriaannya

“ada apa ini? Kenapa ada temen-temen kamu?”Tanya Deva heran

“Untuk semuanya, sebelumnya kenalin ini temen gue waktu gue di jepang tinggal di jepang dan sekarang dia kuliah di Australia namanya Deva.”Ucap Andin

“Gini ya, Gue masih inget nih ya. Pada tahun 2007, gue nyatain perasaan gue ke Ka Deva dan digantungin sama dia tanpa jawaban. Pada tanggal 26 Desember 2009, Ka Adnan nyatain perasaannya ke gue. Gue suka sama dia karena dia ituh tampan dan akhlaknya mulia menurut gue. Pada tanggal 27 Desember 2009, Gamar nembak gue dan gue suka sama dia karena dia selalu ada di saat gue butuh dan disaat gue sedih. Kemarin pada tangal 30 Desember 2009, Ka Deva nyatain perasaannya sama gue juga. Gue suka sama dia karena dulu dia selalu ada disaat gue butuh, dia udah jadi pelindung gue dan almarhumah kaka gue. Dan hari ini tanggal 31 Desember 2009, gue bakal ngejawab pertanyaan kalian sekaligus. Tolong kalian jangan sakit hati dengan jawaban gue.”Jelas Andin

“Gue terima sama jawaban Lu apa saja.”Kata Gamar

“Kaka juga ikhlas kalau kamu ga milih kaka.”Kata Adnan

“Terserah kamu lem.”Kata Deva

“Wah kaya ajang perjodohan aja. Deg.degan.” Ucap Annisa

“Eh Kaka.”

“Iya.iya. Ayo jawabannya siapa? Gue penasaran banget. Kira kira Andin xylemdian akan memilih siapa. Dan jawabannya adalah. . .”

“Ka Deva. Gue pilih Ka Deva. Sori buat Ka Adnan dan Gamar. Walaupun Ka Deva sudah ngecewain gue tapi dia punya alasan dan entah kenapa, gue sayang sama kalian semua tapi ga sebesar rasa sayang gue dari dulu sampai sekarang kepada Ka Deva.”

“Akhirnya.”Kata Annisa

“Buat Ka Adnan, mungkin Andin bukan cinta sama kaka tapi Andin ngfans sama kaka karena kaka itu tampan rupawan dan akhlak kaka mulia dan kaka mempunyai rangkaian kata yang indah. Kaka bisa dapet perempuan yang lebih baik dari Andin.”

“Iyah ga apa-apa. Kaka ikhlas kok.”Jawab Adnan

“Buat Gamar, sori banget. Rasa sayang gue sama Lu itu rasa sayang sahabat. Sori banget.”

“Yasudah ga papa asalkan Lu bahagia. Walaupun dada ini sakit. Gue pamit.”Jawab Gamar dengan gugup dan meninggalkan tempat

“Gamar Lu tetap jadi sahabat gue khan?”teriak Andin kepada Gamar yang sudah meninggalkan tempat.

“Sudahlah dasar cowo aneh.”ucap Annisa

“Buat Ka Adnan, kita tetap sambung silaturahmi yah. Kaka kan terus menjadi kaka Andin.”

“Iyah. .”Jawab Ka Adnan dengan senyuman ikhlasnya

“Buat Ka Annisa, Ka Adnan sekeluarga nanti malam ditunggu di villa Deva untuk merayakan tahun baru bersama. Tolong titip pesan buat Gamar juga ya ka.”Ajak Andin

“Iyah Ok. Kalau gitu kita pamit aja ya Nan?”Ajak Annisa pada Adnan

“Iyah, mari. Maasalamah.”Pamit Adnan

“Ilalliqo.”Jawab Andin

“Apa itu Ndin?”Tanya Deva heran

“Itu bahasa Arab, Andin diajarin ilmu agama dan bahasa arab sama Ka Adnan.”Jelas Andin

“Oh. Kalau gitu ayo kita ke villa katanya hari ini tantemu mau kesini. Siapa namanya?
Yud. .”Ajak Deva

“Tante Yudit? Yeee”

“Iyah dia.”

 

Dimalam tahun baru keluarga Andin, Adnan dan Gamar berkumpul di Villa Deva untuk merayakan malam tahun baru.

“Selamat ya Dev, Lu udah dapetin Andin. Sory tadi gue pamit duluan gitu aja soalnya tadi gue belum bisa terima kenyataan.”Ucap Gamar

“Iya makasih.”Jawab Deva

“Sorry yah udah bikin Lu sakit hati. Tapi inilah keputusan gue.”Sambung Andin

“Iyah, kalian memang serasi.”Ledek Gamar

“Hey kalian, hmmp dev selamat ya kamu sudah dapetin Andin.”Ucap Adnan

“Iyah selamat ya Lu sudah bisa ngalihin hati Andin balik lagi ke Lu. Awas yah kalau Lu ngecewain ade gue lagi, heuh gue cekek Lu. Gue panggang Lu bareng jagung-jagung itu.”Ucap Annisa

“Iyah makasih tapi ancaman Annisa serem.”Jawab Deva

“Hey kalian semua berkumpul disini. Ini dia pangeran yang sudah menjerat hati sang Putri cantik jelita.”Ganggu Yudit

“Memang tante tahu masalahnya?”Tanya Andin

“Tahu dong tante kan punya mata-mata. Tuh Annisa.”Jawab Yudit

“Kaka. .”Seru Andin

“Hey kalian ayoh, satu menit lagi 2010”Panggil Ibunya Adnan

 

Mereka membubarkan perkumpulan dan berlari ke tempat pesta kembang api dan mereka bersama-sama menghitung mundur.

“lima. . .empat. . .tiga. . .dua. . .satu. . .happy new year.”Ucap mereka semua dengan serempak

 

Semuanya berakhir dengan bahagia dan semua masalah Andin selesai bersamaan selesainya tahun 2009.

 

SELESAI

Komentar

Posting Komentar