Langsung ke konten utama

Cerpen - Akankah Mereka Ingat Aku?

Tema              :  Kematian

Genre             : Spiritual

Dibuat            :  21 April 2012

Jumlah Kata   : 1341 kata

 

Akankah Mereka Ingat Aku ?

 

Pagi hari ini begitu buruk. Gemuruh petir tak kian berhenti mengelamkan pagi ini. Hujan yang sangat besar sangat mendukung menjadi suasana yang lebih buruk lagi di pagi ini. Ada apa di pagi hari ini? Pagi hari yang sangat buruk ini adalah tepat saat nyawaku dicabut oleh malaikat izrail. Sulit sekali bagiku untuk keluar dari rasa sakit ini. Rasa sakit ini sungguh sangat. Aku belum pernah merasakan rasa sakit sesakit ini sebelumnya. Memang benar kata orang. Tidak mudah seseorang saat nyawanya sedang ditarik dari ujung jari kaki sampai nantinya nyawa tercabut. Sebelumnya, aku melihat sesosok makhluk berpakaian hitam kelam seperti membawa garpu besar di depanku. Dia terus memperhatikan aku. Aku takut siapakah dia? Apakah nyawaku akan diambil. Oh tidak. Aku belum membuat surat warisan untuk anak-anakku. Aku pun belum menikah untuk ketiga kalinya. Padahal pernikahan tinggal minggu depan. Tidak. Aku tidak mau mati dulu.

 

Tiba-tiba makhluk itu mendekat kearahku perlahan. Lalu dia menusukkan garpu keujung kakiku. “arrghh......” aku mulai berteriak. Tapi teriakanku tak mampu kencang. Bahkan isteriku pun tidak mampu mendengar teriakkanku. Dia tetap tenang tertiidur pulas di sofa empuk kamar rumah sakit ini. Memang aku mengambil kelas VIP. Untuk apa aku tidur satu kamar dengan rakyat-rakyat miskin.. Nanti apa kata orang, orang kaya sepertiku yang perusahaannya dimana-mana harus menginap di rumah sakit umum dan sekamar dengan orang-orang miskin. Cuih tidak sudi.

 

Aku lanjutkan teriakkanku. Sakitnya sungguh. Sepertinya makhluk itu mempermainkanku. Dia munusukkan garpu ke ujung kakiku dan menarikknya kearah dadaku. Sungguh kejam makhluk itu menyiksaku secara perlahan. Lama sekali dia menancapkan garpunya. Menariknya pun sungguh kejam. Dia menarik garpunya sangat perlahan. Tapi walaupun perlahan, rasa sakitnya sangat dahsyat. Semakin perlahan dia menarik, semakin sakit rasanya. “arrgghhh..ae..ae..ae..” aku tidak bisa bicara. “isteriku, bangunlah. Aku butuh bantuanmu. Ini sakit sekali.” Ingin ku berucap demikian namu aku tak mampu berteriak kencang untuk membangunkannya.tak lama ada yang aneh dengan kakiku. Wah ada apa ini? Kakiku sepertinya mati rasa. Oh apakah benar ini yang dinamakan sakaratul maut? Apakah benar makhluk aneh ini sedang mengambil nyawaku secara perlahan menggunakan garpu raksasa itu?

 

Kreekkk..pintu kamarku terbuka. Oh siapakah yang datang. Orang tersebut masuk dan ternyata, dialah anakku bersama isteri sialannya. Anak yang tidak tahu diri. Menikahi wanita miskin dan rela meninggalkan warisan yang telah ku sodorkan padanya.

“ayah...ayah kenapa?”anakku langsung berteriak sampai-samapai isteriku terbangun.

“ayah kenapa?”isteriku juga berteriak. Sedangkan cucuku terus mengendap-endap dibalik badan ibunya.

“kamu kenapa, Zahra?”menantuku menegurnya. Zahra adalah nama cucuku. Zahra Luthfiah lengkapnya.

“aku takut, Mi. Ada makhluk aneh diatas tubuh kakek.”ucapnya sambil ketakutan.

“apa yang kamu lihat Zahra? Makhluk aneh apa?” anakku menegurnya.

“gak tahu, Ayah. Wajahnya tertutupi jubah, Yah. Dia berpakaian hitam dan dia membawa garpu. Tapi garpunya besar Yah, berwarna merah seperti ada apinya.” Jelas cucuku. Memang seperti itulah makhluk aneh yang ku lihat juga,

“benarkah Zahra? Ayah ucapkanlah dua kalimat syahadat, Yah. Mari aku bantu.” apa-apaan anakku. Menyuruhku mengucap dua kalimat syahadat segala. Aku belum mau mati. Nanti saja kalau ku mau mati baru ku mengucap dua kalimat syahadat tersebut.

“apa-apaan kamu, Andi?”isteriku spontan marah mendengar anakku menyuruhku mengucapkan dua kalimat itu.

“sepertinya ayah sedang dalam proses sakaratul maut, Bu. Zahra masih kecil. Matanya masih lebih luas dibandingkan kita, Bu. Lagipula lihatlah ayah. Dia memang menciri-cirikin proses sakartul maut.”

Dia pun menuntunku. Aku mencoba sedikit demi sedikit mengikuti ucapan yang anakku ucapkan. Memang saatku mulai mencobanya, makhluk itu tidak lagi perlahan menyakitiku. Akhirnya makhluk itupun pergi dan aku pun melayang. Oh benarkah ini? Aku meninggal?

“Innalillahi wa innalillahi rajiun. Mudah-mudahan dosa-dosa ayah bisa diampuni Allah swt.. Aamiin.”

 

Aku dikuburkan di pemakaman dekat rumah. Pemakamanku berlangsung lama, karena terdapat banyak kerikil di tanah kuburan yang akan ku tempati. Sehingga saat rombongan yang membawaku datang, liang kuburan belum selesai digali. Setelah kurang lebih satu jam, liang kuburan selesai digali. Tak lama, hujan besar pun turun. Mereka tak sempat mengadzani ku, tapi untungnya, mereka sempat membuka tali pocongku. Mereka tidak sempat mendoakanku di dekat kuburanku. Semuanya pergi meninggalkanku. Lagipula sedikit orang yang ikut ke pemakamanku.

 

Mungkin mereka malas menghadiri pemakaman orang pelit dan serakah sepertiku. Orang yang suka menyiksa orang lain yang kurang mampu dan orang yang suka mengambil harta orang yang kelewat kaya. Aku sangat menyesal sekarang. Padahal dulu aku adalah orang yang baik. Rajin ibadah, dermawan, peduli sesama. Namun setelah aku dituduh korupsi yang sebenarnya aku tidak melakukannya, aku menjadi berubah begini. Mereka menuduhku sebagai koruptor? Sekalian saja aku melakukan korupsi yang sungguhan bukan.

 

Waktu itu, aku berubah seratus delapan puluh derajat. Isteriku yang cantik nan setia kaget melihat perubahanku ini. Aku masa bodoh. Aku terlanjur marah dengan tuduhan dan kucilan orang-orang sekitar. Orang-orang yang dulunya baik kepadaku, yang sering berkunjung ke rumahku walau hanya sekedar berbincang, kini takut kepadaku. Ini karena ketamakkanku. Panti asuhan yang dulu sering ku berikan donasi pun, aku cabut hanya untuk sekedar memenuhi kepuasanku.

 

Sekarang aku disini, di bawah tanah ini, aku merasakan gerah, bukan hanya gerah, tapi panas. Panas sekali. Disini, tidak ada secercah cahaya pun. Badanku pun terasa sakit. Sepertinya badanku sudah mulai digerogoti. Argh sakit sekali, hey musuh kecil. Cepat sekali kamu menggerogotiku. Senang kalian melihat diriku cepat terlihat hanya tulang-belulang. Disaat musuh kecil tengah menggerogotiku, tiba-tiba ku dengar dua orang terus menerus berbicara padaku.

“maa rabbuka?” kata orang itu. Aku tidak tahu itu siapa. Dan apa yang dikatakannya.

“hai fulan. Maa rabbuka?” dia berkata lagi. Tiba-tiba salah seorangnya menyambukku.

“apa salahku?” orang itu tidak menjawab. Mereka terus menerus berbicara dengan bahasa yang tidak ku mengerti. Mungkin aku tidak mempersiapkan bahasa masa depan yaitu basa arab, membuatku kelimpungan seperti ini.

 

Oh betapa pedihnya siksa kubur ini. Teringat dulu, aku sering menyiksa orang-orang miskin disekitarku. Pak Kardi, Pak Otong, Pak Deni mereka semua sangat baik pada keluargaku, namun tak jarang aku siksa mereka.

“maafkan kami, Pa Gani. Tapi sungguh kami tidak mencuri.”salah satu rintihan mereka saat ku tuduh mereka mencuri.

Yah namaku Gani. Aku orang terkaya di desa Bojong Kenyot ini. Aku punya banyak rumah. Rumah itu kubagikan pada kedua isteriku masing-masing dua. Dan kepada sembilan anakku, masing-masing satu. Tanahku pun dimana-mana. Inilah aku Gani Ahmad Djaya. Orang terkaya di desa Bojong Kenyot.

 

Pikiran ku beralih, saat anakku Angga memintaku untuk melamarkan seorang gadis desa untuknya. Tapi aku tidak mau. Yang pertama, aku sudah jatuh hati padanya dan yang kedua tidak mungkin aku menikahkan anakku dengan wanita miskin dengan gubuk reot seperti dia. Bagaimana nasib keturunan-keturunanku nantinya kalau ibunya seperti itu. Lebih baik dia menikah dengan anak bupati yang memang gadis cantik itu sangat ingin menikahi putraku yang tampan. Jelaslah anakku tampan, wong bapaknya tampan pula. Tapi dasar anak tak tahuu diuntung, sudah mendapat sebongkah mutiara malahlah dia memilih kerikil sungai. Walau sudah ku ancam apapun, dia bersikeras dengan pendiriannya untuk menikahi Andin. Gadis miskin di desa ini. Akhirnya aku mencabut warisanku padanya.

 

Namun inilah hati seorang ayah. Walaupun aku berucap bahwa aku tidak memberikan warisanku sedikitpun padanya, tapi aku tetap menyantumkan namanya sebagai pewaris utama. Karena aku tahu potensi dia untuk mengelola perusahaan sangat baik. Dan megurus adik-adiknya dengan tanggung jawab.

 

Kini aku hanya sendiri disini. Menghadapi siksaan yang terus menerus tiada henti. Mungkin ini balasan Allah karena aku menyianyiakan segala anugerahnya. Diberi anugerah berkecukupan, malah aku menyelewengkannya. Diberi isteri yang cantik nan setia, malah aku mendua bahkan hampir mentiga. Diberi anak soleh juga tanggung jawab, malah aku mengasingkannya. Diberi cucu yang pintar, malah aku mengacuhkannya. Diberi tetangga yang baik dan bersahaja, malah aku menyiksanya. Sungguh aku manusia yang tidak pandai bersyukur. Saat anakku menuntun aku memngucap dua syahadat saat sakaratul maut pun, aku sempat menolak. Saat pencabut nyawa sudah berada di depanku, aku malah memikirkan harta-hartaku yang aku tinggalkan, bukan malah aku memikirkan bekal apa yang sudah aku siapkan untuk di akhirat nanti.

 

Apakah dosa-dosaku masih bisa tertutupi oleh kebaikanku di masa lalu? Apakah dosa-dosaku bisa tertutupi oleh penyesalanku sekarang. Rasanya sulit. Mengucap dua syahadat saat menjelang kematian pun, aku tidak bisa. Kini, aku harus hadapi kenyataan yang menimpaku dan yang akan menimpa ku nanti. Menunggu hari kebangkitan, lalu perhitungan. Mungkin aku akan masuk golongan kiri. Aku hanya bisa mengharapkan doa dari anaka-anakku.mudah-mudahan mereka ingat kepadaku yang sudah berbeda alam dengan mereka ini.

“bantulah ayah, nak. Bantu ayah. Ayah butuh sekali bantuan kalian.”

 

# Selesai #

 

Komentar