Tema : Perjodohan
Genre : Romantis, Islamic
Dibuat : 11 Januari 2021
Jumlah Kata : 3200 kata
Bagian 1
2010.
Lantunan musik klasik yang terputar merdu dari mp3 player favoritku menemani pagi sambil melahap soal-soal persiapan ujian nasional yang tinggal menghitung bulan. Di seberang kamar, mas alif, kakakku sedang menatap kotak yang menampilkan ikan-ikan pada layar monitor. Yaps Mas Alif sedang bermain games, insaniquarium, games kesukaan kami berdua. Padahal Mas Alif pun akan menghadapi ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi tapi ia seringkali terlihat bersantai.
"Ibuuuu, Mas Alif mainan komputer terus bukannya belajar, Buuu." teriakku mengadu kepada ibu atas kelakukan Mas Alif.
Mas Alif menatapku tajam. Tak mau goyah aku malah melakukan hal yg sama untuk kedua kalinya.
Brugh brugh brugh.. terdengar langkah besar, cepat dan bertenaga oleh Mas Alif.
"Sssttt. Tukang ngadu. Mumpung liburan, Na. Santai lah sebentar. " ucapnya sambil membekap mulutku yang baru ku ingat belum gosok gigi.hihihi
Ting. Suara hape nokia 3110ku berbunyi satu kali menandakan adanya pesan masuk. Aku melepas tangan Mas Alif yang masih bertengger di mulutku kemudian berlari ke arah kamarku. Langsung saja ku buka dan ternyata pesan singkat dari ia yang namanya sering ku tunggu-tunggu berada di urutan teratas kolom pesanku.
"Dek, Abang sudah menyelesaikan satu paket soal IPA pagi ini. Adek gimana?" isi pesannya.
"Belum satu paket pun, Bang. Lagi kepikiran berita tadi pagi." ketikku kemudian ku layangkan pesan yang berarti pulsa 100 rupiahku pun ikut melayang bersama pesan itu.
"Berita opo toh, Dek?" balasnya tak lama. Ah sayang sekali rasanya kalau membalas pesan dengan karakter pendek seperti itu.
"Mama Lauren bilang 2012 bakal kiamat, Bang. Adek takut, kalau itu benar, adek belum punya bekal untuk menghadap Allah, Bang. Kerudung aja masih lepas pake."
"Kiamat ga sesederhana menghancurkan bumi aja, Dek. Rasulullah menjelaskan ciri-ciri kiamat itu seperti apa. Akan ada peperangan besar di muka bumi yang menyebabkan islam akan berjaya untuk terakhir kalinya. Akan adanya Imam Mahdi yang nantinya akan mengajak orang-orang soleh untuk tetap menjaga agama Allah. Kemudian akan keluar dajal yang nantinya akan mengumpulkan para orang-orang munafik di bumi. Kemudian Nabi Isa akan membunuh dajal seusai solat subuh di masjidil aqsa. Terus serangkaian sampai akhirnya matahari terbit dari barat. Menurut adek dalam waktu dua tahun semua rangkaian menuju kiamat ini akan terjadi?" tiba-tiba pesan singkat dari abang muncul sampai lima buah yang ternyata saling berhubungan. Ingatkan abang untuk mengirim pesan maksimal 300 karakter.
"Bisa aja sih, Bang. Terus adek termasuk orang yang mana bang? Soleh atau munafik?"
"Bukan keduanya. Adek orang
yang
..
..
..
..
..
..
Sholehah.
InsyaaAllah.
Asal kerudungnya jangan lepas pake terus kalau keluar."
Ah abang memang paling bisa membuatku terbang melayang. Masih ingat sensasinya dapat pesan dengan space enter yang banyak? Hihi
Pagi tadi tidak sengaja aku mendengar berita yang memang sedang heboh belakangan ini. Seorang peramal dari suku maya, Mama Lauren namanya, dia meramal bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Tidak satu media, tapi berbagai media yang menampilkan. Berita ini sukses membuatku malas menghabiskan potongan ayam yang sedang asyik aku nikmati.
Pikiranku langsung mengingat bagaimana kondisi solatku. Solat saja kadang suka wudhu sekenanya asal bunyi, gelar sajadah, berantakin mukena, udah. Supaya terlihat habis solat. Padahal mana ada aku solat. Ini hanya trik supaya tidak dimarahi ayah ibu melihatku belum solat. Bagaimana nanti ketika di alam kubur aku ditanyai oleh malaikat munkar dan nakir? Bagaimana nanti amalanku ketika di hisab di yaumul hisab?
* * * *
Pagi sekali ku sudah mengayuh sepeda ontel lungsuran pakde menelusuri jalanan Ambarawa menuju Masjid Al Falah tempatku mengikuti pesantren kilat. Abang yang mengajakku mengikuti kegiatan ini.
Abang memang lelaki yang baik. Dari wajah ia tak bisa dibilang tak menarik, dari akhlak ia tak bisa dikatakan tak sopan, dari agama ia tak bisa dikatakan pendosa, dari seni ia pun tak bisa dikatakan tak bisa, ia jago bermain gitar gamelan dan seruling, dan dari akademiknya hmmm bisa dikatakan sering nanya ke aku sih. Bagaimana aku tidak tertarik dengannya?
"Abang panggil Una adek aja ya? Adek Hunaifah. Biar lebih akrab aja, Dek." katanya ketika aku sedang mengerjakan soal di jam istirahat sedangkan ia sedang memainkan gitarnya di depanku.
"Hah'? Terserah Anwar aja deh. Tapi bukan karena Anwar tahu kan kalau una suka sama Anwar?" bagaimana pun aku masih kaget dengan sikapnya yang belakangan ini berubah.
"Bukan, Dek. Adek udah kaya adenya abang sih. Ngomel mulu. Adek juga panggilnya abang dong jangan Anwar lagi." ucapnya sambil memainkan gitarnya.
"Adek darimana. Tugas aja masih suka nanya ke una, pake bilang una kaya adeknya Anwar segala." ucapku yang sudah pasti dengan pertahanan kuat, jutek.
Anwar pun menghentikan permainan gitarnya. Dan mentapku lekat. Meleleh aku bang diliatin gitu. Tajem banget berasa langsung nusuk ke hati adek tanpa goresan.
"Iya iya boleeeehhhhh. Silahkan Anwar Sutisna. Adek persilahkan." akhirnya aku menurut sambil mengalihkan pandangan kepada soal soal di hadapanku.
"Abang." ucapnya memintaku membeo. Langsung ku pelototi dirinya dan hanya dibalas dengan cengiran.
Memang jika dipikir-pikir abang memang sudah seperti kakak kala itu. Jika ada masalah di kelas, eskul, cerita tentang Mas Alif, Anwar lah yang siap menyiapkan tampungannya.
Dia tahu kalau aku menyukainya sebagai lawan jenis, tapi dia gamau pacaran walaupun aku tahu ada perempuan yang ia sukai di kelas.
Dalam pesantren kilat ini, aku bertemu dengan orang-orang dari berbagai sekolah dan pesantren. Seakan aku menemukan banyak orang seperti abang di kegiatan sanlat ini. Anwar membelah diri menjadi banyak.
Ketika bertemu, mereka berjabat tangan dan berbagi pelukan menyalurkan kasih. Ketika berpisah, mereka kembali berjabat tangan, berbagi pelukan memanjatkan doa keselamatan. Ketika bersama mereka berbincang tapi tak lewat batas pandangan.
"Gimana sanlatnya, Dek?" tanya Anwar ketika menemaniku pulang menaiki sepeda kita masing-masing.
"Seru, Bang. Abang kenapa ga ngajak dari dulu sih Bang?" ucapku berteriak penuh semangat.
"Loh kan kita baru deketnya, Dek." ucap Anwar sama-sama berteriak karena berbincang sambil mengendarai sepeda.
"Iya, kalau gosip adek suka abang ga bocor, ga akan deh abang bakal deket sama adek kan?" tanyaku.
"Nah itu adek tau. Tapi bukan gosip itu, Dek. Fakta." jawab Anwar.
"Bang, kalau dari dulu abang ngajak adek, kan jilbab adek ga akan lepas pasang, Bang. Gimana mau lepasin jilbab coba kalau suami, bapak, kakak, ade, anak laki-laki adek ikut nanggung dosanya? Dosa mereka sendiri aja udah harus sering-sering ditaubati. Ini nambah sama nanggung juga dosa adek? Hih bebanin orang banget." ucapku mereview pelajaran yang didapatkan hari ini.
"Yaudah si. Sekarang kan udah tau. Kalau udah tau, jangan dilanggar berarti." ucapnya.
Bruukkk.
"Una. Astaghfirullah." Anwar seketika menghentikan kayuhannya dan membantuku yang terjatuh dari sepeda.
"Makanya Lo kalau naik sepeda yang fokus. Bukan malah pacaran aja di jalanan. Jatoh kan Lo jadinya." Ucap Hanif dari atas sepedanya.
"Sial. Una laporin ke ayah baru deh tau rasa." ucapku tajam.
"Bodo." ucap Hanif sambil lalu.
"Haniifff..." teriakku.
Memang anak ini tidak pernah bisa bersikap baik kepadaku. Menjahiliku adalah hobinya ketika TK dulu. Beberapa bulan ini kami dipertemukan kembali setelah delapan tahun jarang bertemu.
Awal pertemuan kami di kelas bimbel ia bersikap sangat berbeda dari yang ku kenal dulu. Dia bawel, sangat. Padahal dulu ia sampai dicap mengalami keterlambatan bicara, bahkan ada yang mengatakan ia tunawicara, saking hematnya dalam berucap. Tapi tangannya sangat aktif untuk menjahili.
* * * *
Capek mengayuh sepedanya, kini Hanif sudah sampai di rumah sederhana teman ayahnya, Om Darmawan.
"Assalamu'alaikum, Tante." salam Hanif di depan pintu.
"Eh nak Hanif. Wa'alaikumussalam. Ada apa?"
"Ini tante, ada titipan makanan dari Mamah. Sama ini kotak P3K tante. Tadi Hanif dikasih di jalan. Di rumah stok masih banyak jadi buat tante aja." Ucap Hanif sambil mengingat kejadian yang barusan ia lihat.
"Wah terima kasih banyak. Kebetulan lagi ga ada persediaan di rumah. Mau masuk dulu yuk nunggu Om? Om nya masih mandi." ucap wanita paruh baya itu.
"Oh Hanif pamit pulang langsung aja, Tante. Hanif kan niatnya ketemu Tante. Salam buat Om." ucap Hanif.
"Iya. Ga sekalian nitip salam buat yang satunya, Nif?" Tanya wanita itu jahil.
* * * *
"Gila Lu. Peringkat 1 lagi TO nya? Gua salip dah siap TO selanjutnya liat aja." Ucap Hanif ketika melihat pengumuman peringkat TO UN yang diadakan oleh bimbel kami.
"Hanif harus ngerjain soal matematika sehari 100 biji kalau mau ngalahin Una." ucapku percaya diri. Karena nilai Hanif sudah bagus sebetulnya hanya saja matematikanya masih kurang.
Ternyata Hanif benar-benar melakukan apa yang Aku katakan. Ia mengerjakan soal matematika sehari 100 soal belum termasuk mata pelajaran lainnya.
Hanif sakit kelelahan bergadang sampai ia harus diopname di rumah sakit karena tyfus. Laki-laki lemah memang.
Namun siapa sangka angka 100 itu juga yang menjadi titik alasan kisah ini terus berlanjut.
* * * *
"Hanif, apaan sih kamu. Ga lucu tau sampe sakit begini. Una jadi dimarahin ayah ini. Padahal kan Una ga salah." Ucapku refleks sambil memukul lengan bagian atas Hanif yang terkulai lemah di atas kasur.
"Lembut dikit kenapa si? Lagian siapa juga yang sakit." ucap Hanif langsung membalikkan badannya membelakangiku. Aku pun melangkah supaya tetap berada di hadapannya.
"Ga sakit tapi selang nancep gini ke tangan Hanif. Lemah emang." ucapku jutek memarahi Hanif. Dan lagi-lagi ia membalikkan tubuhnya. Aku tidak menyerah, aku kembali melangkah supaya berhadapan dengan Hanif.
"Isshh." ucapku kesal dengan kelakukan Hanif yang tidak mau menghadapku.
"Una. Bukan gitu caranya minta maaf. Maafkan anak om ya Hanif." ucap ayah sambil memegang pundakku.
"Iya Om gapapa. Emang bukan salah Hunaifah kok Om." jawab Hanif.
Aku memotong buah untuk dimakan Hanif. Dan menyiapkan makan siang yang baru diberikan oleh suster. Sedangkan mereka asyik berbincang seputar dunia sekolahan Hanif.
Bisa dibilang sekolah Hanif lebih bagus dari sekolahku, sekolah swasta elit. Ayah memang ingin memasukkan aku ke sekolahnya tapi akunya yang tidak mau, ingin jadi anak negeri. Hehehe
"Assalamu'alaikum. Eehhh lagi ada tamu ternya.. Mas Darmawan?" Ucap seorang lelaki paruh baya yang ternyata teman lama ayahku.
"Eh Hadi. Hanif ini anakmu, Di?" tanya Ayah.
"Iya, Mas. Bandel banget anak ini begadang ngerjain soal terus sampe lupa makan. Jadi makanan virus deh ni anak." Jawab Om Hadi, ayah dari Hanif.
"Wah dunia sempit. Ini kenalin Una anak saya." Ucap ayah sambil menarikku perlahan, seakan memintaku memberikan salam menyapa.
"Hunaifah, Om. Panggil aja Una." ucapku meraih tangan Om Hadi takzim.
"Una ini, Di. Dapet kabar dari temennya, katanya Hanif sakit. Dia langsung nangis. Saya ga paham ini anak kenapa. Pas ditanya katanya dia bikin sakit anak orang karena nyuruh Hanif ngerjain 100 soal matematika per hari nya. Ga seru katanya kalau TO minggu ini ga ada Hanif. Ga ada yang berisik." jelas ayah panjang lebar tapi ngawur.
"Ayah... Ga gitu ceritanya yah."
"Mata tidak bisa berbohong, Una." ucap Om Hadi. Hanif pun curi-curi pandang melihat ke arahku.
Kegiatan menjenguk rival yang sakit pun berlangsung cukup lama. Sebetulnya setelah menyiapkan makanan Hanif kami berencana langsung pamit. Tapi karena Om Hadi datang dan ternyata temannya Ayah, Ayah menjadi betah berada di ruangan ini. Apalagi Om Hadi ini ternyata teman seperjuangan Ayah ketika Ayah baru bekerja di kantornya yang sekarang. Mereka satu mess bareng sebelum mereka masing-masing menikah.
"Mulai minggu depan saya kembali ke kantor cabang Semarang karena Cabang di Makasarnya sudah stabil sekarang. Repot juga jauh terus dari anak istri." ucap Om Hadi.
Ternyata Om Hadi ditugaskan di luar kota selama 7 tahun. Pantas saja Ayah sangat senang bertemu Om Hadi. Sudah terlalu lama memupuk rindu ternyata. Hihi
* * * *
Pagi ini semua berkumpul di meja makan, ritual setiap pagi untuk makan sama-sama. Kata ayah cuma di pagi hari kita bisa makan sama-sama, siang dan malam sulit untuk bisa kumpul.
"Una, ayah malam ini gabisa jemput kamu ke tempat bimbel. Kamu pulang ikut sama supirnya Hanif saja ya. Ayah ada kerjaan di dekat rumah Hanif. Nanti ayah tunggu di rumah Hanif." kata ayah sambil menyendok makanannya.
"Kenapa Hanif sih Yah? Una gimana bilang ke Hanifnya?" tanyaku.
"Nanti ayah titip pesan ke Om Hadi. Biar disampaikan ke supirnya." jawab ayah.
"Iya deh. Mas Alif gabisa jemput apa, Mas?" jawabku kesal. Ga pernah terpikirkan olehku pulang satu mobil sama Hanif. Resiko tempat bimbel jauh nih.
"Mas shooting malam ini. Take waktu malam. Ga pulang malam ini." jawab Mas Alif. Mas Alif bukan seorang aktris, hanya saja ada tugas sekolah sinematografi sehingga Mas Alif harus mengerjakan tugas bersama teman-temannya.
"Hih, dasar kulkas."
* * * *
Malam hari setelah tambahan jam bimbel, aku berjalan ke arah mobil Hanif. Mobil yang sudah ku ketahui yang mana. Gimana gatau, setiap malam dia dijemput terus.
"Ngapain Lo ngekorin gue terus?" Tany Hanif membalikkan badan yang membuatku kaget karena hampir menabraknya. Aku tidak sadar ternyata aku berjalan tepat di belakang Hanif.
"Ga ngekorin kok." Jawabku.
Hanif pun masuk ke mobilnya. Ketika aku mau ikut masuk, aku pun dicegat oleh Hanif.
"Eh ngapain Lo naik-naik mobil gue?" Tanya Hanif melihatku membuka pintu mobil di sisi sebelahnya.
"Mbak Una ya? Silahkan Mbak. Ayahnya Mbak udah menunggu di rumah Bapak." Kata sopir Hanif. Aku menjulurkan lidah ke Hanif. Tanda bahwa aku menang darinya.
"Yaudah naek. Inget ya,
jangan berisik."
Aku pun menyatukan ujung jari jempol dan telunjuk membentuk huruf O. Kemudian
mengarahkan ke ujung bibir dan menggerakkan ke ujung bibir lainnya seakan
menutup mulut dengan rel sleting.
* * * *
Lagi-lagi ketika sarapan pagi ayah memberikan kabar yang menurutku tidak mengenakkan.
"Una nanti ada kumpulan anak-anak di kantor Ayah. Nanti Una ikut ya. Sabtu ini, pagi."Kata ayah.
"Oke, Mas Alif ikut kan?" tanyaku.
"Gabisa. Mas ada kumpul sama anak-anak rohis sabtu pagi ini." lagi-lagi dengan nada dinginnya. Emang cuma sama bunda Mas Alif ini bisa hangat.
"Hih udah mau lulus juga, masih aja ikut kegiatan eskul." Ucapku mengomentari.
"Mas ngementor adik-adik kelas. Ngerti?" Jawab Mas Alif menatapku tajam.
"Hih mentor kaya begini mana betah. Adiknya aja ga betah lama-lama deketan." ucapku pelan tapi masih bisa terdengar.
"Mas denger loh, Na. Udah sendiri aja gih." kata Mas Alif.
"Gamauu. Malu sendiri."
"Kan bisa ajak teman-temanmu yang dulu TK bareng di kantor ayah." Kata Mas Alif
"Ih udah pada kemana kali Mas." Jawabku.
"Yaudah bareng Hanif aja ntar." Kata ayah memberi solusi yang terdengar seperti hal yang harus ku hindari.
"Ih gamau, Yah. Ntar Una hubungi Dini dan Anis dulu deh."
"Udah, nanti minggu pagi Hanif biar jemput kamu aja." Jawab ayah tidak mau dilawan.
Emang gini punya ayah, kalau udah ngulang ucapannya dua kali berarti harus nurut. Kalau aku ga nurut bisa-bisa terlambat datang ke sekolah nanti.
* * * *
Setelah pertemuan ayah dan Om Hadi aku sering sekali bertemu dengan Hanif. Setiap malam aku pulang bimbel naik mobil Hanif atau kalau sopirnya ada tugas lain maka Ayah yang menjemput kami. Om Hadi suka berkunjung ke rumah begitupun Ayah dan tak lupa aku dan Hanif selalu bertemu jika ada pertemuan mereka.
Setiap bertemu kadang kita cuma duduk bareng menghabiskan untuk menonton TV. Pernah juga dua bawa buku dan mengajakku mengerjakan soal UN.
"Ya ampun, Hanif! Ini weekend, istirahatlah sebentar dari soal-soal itu."
"Ya daripada diem doang nonton TV, mending kita ngerjain soal bareng. Ayok."
"Lagian ngapain sih kamu ikut kesini segala, jadi aku harus nemenin kan."
"Lo kenapa ga nolak nemenin gue?"
"Tanya aja sama ayah."
"Nah, sama jawaban kita.
Tanya aja sama ayah gue
."
Setiap kali kita bertemu, sering kali kita bertengkar. Dia sih yang kelewat
jutek. Males jadinya.
* * * *
"Una, kamu cepet bersih-bersih. Pake pakaian yang rapi. Malem ini kita mau makan malem sama temen ayah." teriak ayah selepas solat maghrib.
Pantesan sore ini ga tercium harumnya masakan bunda, ternyata kita ga akan makan di rumah toh. Lumayan deh malam minggu ga jomblo jadinya, eh tapi perasaanku jadi tidak enak.
"Om Hadi deh dan pasti sama keluarganya termasuk Hanif kan?"ucapku ketika menuruni tangga sudah siap dengan pakaianku.
"Nah itu kamu tau. Yuk."
"Capek Yah. Tiap ketemu dia berantem mulu." keluhku yang pastinya tidak mau ayah dengar.
Sesampainya di rumah Hanif aku duduk di ayunan depan rumah Hanif. Hanif yang mengajakku kesini, katanya ada yang mau dia bicarakan.
"Tumben Hanif ga banyak ngomong tadi." kataku memecah keheningan.
"Salah?" jawab dia yang tidak seketus biasanya.
"Ya kaya bukan Hanif aja jadinya." jawabku.
"Disuruh papah ga boleh berantem sama Lo." Ucap Hanif.
"Hmmm."
"Kenapa?" tanya nya melihatku tidak memberi respon.
Biasanya aku akan menanggapi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya dan berujung dengan berantem. Tapi rasanya tidak cocok untuk malam ini. Rasanya canggung melihat dia yang melunak walaupun tidak bisa dikatakan lembut.
"Kok una ngerasa Ayah tuh kaya pengen una deket sama Hanif ya? Apa-apa hanif. Kaya temen una tuh hanif aja gitu."
"Loh emang iya kan?"
"Kaga laah" jawabku meninggi.
"Hahaha"
Demi apa Hanif ketawa? Ketawa bocah banget. Fo your information, Hanif itu masih bocah. Tingginya aja masih dibawahku. Kalau kata ayah katanya dia belum baligh. Suaranya saja masih suara bocah.
Hening lagi.
"Emang itu tujuannya, Na." ucap Hanif.
"Hah'?"
"Ini yang mau gue omongin. Gue ga sengaja denger. Orangtua kita mau jodohin kita, Na. Tapi karena kita masih SMP, dideketin dulu aja." Jelasnya.
"Apaa??"
"Ih, sstt. Berisik amat sih lo. Nanti kedengeran. Dibilang kita berantem lagi nih sama ayah" ucap Hanif menatapku tajam. Memang jarak ayunan ini tidak terlalu jauh dengan ruang tamu tempat keluarga kita berkumpul.
"Terus gimana?" tanyaku masih belum paham keadaan.
"Ya, Lo nya mau ga?"tanya nya.
"Hah' mau apa?"tanyaku kaget.
"Yaa mau ga sama gue?"tanyanya lagi. Ini pertanyaan dijawab pertanyaan kemudia dijawab dengan pertanyaan lagi. Hihi
"Hanif nembak Una?" tanyaku memastikan.
"Bukaann. Gue gamau pacaran. Apalagi kalau sampe disuruh ngerjain 100 soal mtk tiap hari, hiihh ngeri. Bisa tipes lagi gue." Jawabnya.
"Terus?"
"Apa yaaa. Gue juga ga tau. Pokoknya Lu harus mau deket sama gue. Itung-itung bikin orangtua seneng deh." sambungnya.
"Ah itu ma maunya kamu kan, Nif." Ejekku
"Ogah. Gue juga terpaksa, bawel." Ucap Hanif agak kencang.
"sssttt. Katanya jangan ngomong kenceng-kenceng."
"Masalahnya, kalau kita ngehindar mulu. Pertemuan-pertemuan macem gini bakal sering terjadi. Mereka ga akan berhenti sampe puas. Yakin gue." sambung Hanif.
"Una lagi suka sama oranglain, nif. Maafin." Kataku jujur.
"Pacar?" tanyanya.
"Bukan. Una suka tapi dia sukanya sama temen Una. Tapi Una masih suka." Jawabku dan membuat Hanif merenung.
"Move on ke gue." akhirnya dia buka suara.
"Tapi bukan sebagai pacar. Sebagai ga ngerti gue juga ngenamainnya." Sambungnya
"hmmm calon pacar?" Tanyaku sambil menggerakkan kepalaku supa bisa melihat mukanya yang sedari tadi menunduk.
"Bukan. Calon suami." Jawabnya senyum.
Sumpah dia senyum woy
"jauh banget mikirnya." ucapku sambil mendorong bahunya.
"Eh tapi bener. Jadi kita visioner. Gini ya Hunaifah. Nanti gue sama Lo cari SMA yang bagus biar gampang buat masuk Univ yang bagus. Terus kerjaan yang bagus. Nikah setelah siap deh." Ucapnya sambil menghadap ke arahku dan mengarahkan bahuku supaya menghadapnya.
"Oke, Una suka pemikirannya. Terus?"
"Terusss ya yaa udah nikah. Selesai." ucap Hanif diakhiri dengan lagi-lagi senyuman.
"Oh abis nikah udah selesai ya berarti."
"Bukan gitu Hunaifah. Lo beneran pinter atau pura-pura pinter sih? Kepenuhan angka sih pala Lo. Gini, Hunaifah. Jangka pendeknya kita harus berjuang dapetin SMA favorit. Gue udah punya rencana."
"Gimana?"tanyaku penasaran.
"Nih. SMAN 3 Bandung. Kita tinggal di rumah aki?"
"Kita tinggal di rumah akinya Hanif?"
"Kaga lah. Lo di rumah kakek lo, gue di rumah aki gue. Kan kakek Lo juga di Bandung."
"Oke. Deal." Kataku. Karena SMAN 3 Bandung adalah salah satu sekolah yang aku impikan. Salah satu sekolah favorit yang ada.
"Fyuh. Capek juga ngomong sama anak TK kaya Lo"
"Hanif jangan lagi bilang Lo-Gue. Ganti."
"Mas dan Una" Katanya. Sial dia nih masih bocah tapi pikirannya udah liar. Masa dia nyuruh aku manggil dia 'Mas' katanya supaya orangtua kita seneng. Aku jadi curiga jangan-jangan Hanif emang suka sama aku, dan yang di bilang perjodohan itu hanya alibinya saja.
* * * *
Komentar
Posting Komentar