Langsung ke konten utama

Perjodohan Sejak SMP 2/7

Tema              :  Perjodohan

Genre             : Romantis, Islamic

Dibuat            : 11 Januari 2021

Jumlah Kata   : 1712 kata

 

Bagian 2

"Unaaa" teriak temanku, Cantika, di pintu kelasku.

"Hai, Tik."aku mendekati pintu kelasku "Kenapa kenapa?" tanyaku heran.

"Tumben kan aku nyamperin. Kata Andre besok pagi kita jalan berempat. Andre nyuruh aku ngasih tau kamu." kata Cantika yang belum ku pahami.

"Andre? Ngajak jalan? Kok?"

"Double date, Unaaa. Sama Han..." aku langsung membekap mulutnya dan mengajaknya ke tempat yang sepi. Pasalnya teman-teman belum tau tentang hubunganku dengan Hanif.

"Ciieee masih malu-malu. Mau ngedate aja mau sampe harus aku dan Andre temenin. Kalian jadian dari kapan?" kata Cantika.

"Hanif kok nyebelin sih. Ngga kok, kita ga pacaran. Yaudah besok aku hubungi kamu lagi deh, Tik. Makasih yaaa."

Memang tidak ada yang salah bukan? Aku dan Hanif memang tidak berpacaran. Pada weekend Hanif akan berkunjung ke rumahku. Tapi sekedar untuk mengerjakan soal bersama atau dia main gitar sama Mas Alif. Tidak pernah kita terlibat percakapan berdua.

"Ciee Una. Mau ngedate sama siapa, Na?" teman-temanku yang mendengar ucapan Cantika tadi menggodaku ketika ku kembali ke kelas.

"Ngajak main dia ma bukan ngedate." jawabku.

"Tadi Cantika bilangnya double date. Hayolooohhh." ucap Jeni teman kelasku yang paling jahil.

Aku berjalan meninggalkan mereka menuju kursi yang tadi ku duduki. Aku tidak sadar bahwa dari tadi ada sepasang mata tajam yang memperhatikanku. Ia pun berdiri menghampiriku tanpa melepas tatapannya.

"Adek pacaran?" tanyanya yang membuatku terkejut.

"Adek punya pacar sekarang?" lanjutnya bertanya dan lagi-lagi aku bingung menjawabnya.

"Siapa, Dek? Adek cepet banget move on dari abang?" tanya nya lagi.

"Satu-satu napa, Bang. Berasa dosa banget adek keliatannya."

"Loh emang bener kan. Pacaran itu ga boleh, Dek. Adek kan udah tau."

"Adek ga pacaran, cuma mau jalan aja."

"Itu sama aja, Dek."

"Jadi adek ga boleh jalan sama cowo lain tapi jalan sama abang boleh? Gitu? Ga dosa kalau adek jalan sama abang?"

"Kita kan temen, Dek. Lagian kita jalan nya di tempat ramai."

"Ini juga jalannya ke tempat ramai kok. Kalau jalan sama abang kita suka berdua walaupun ramai. Tapi besok adek jalannya ga berdua, tapi berempat."

"Jadi beneran adek punya pacar?"

"Ya Allah bukan pacar, Bang. Kepo banget sih Bang."

"Ya terus apa? Calon pacar? Abang tuh peduli sama adek biar adek ga pacaran."

"Peduli? Makasih loh bang. Bukan pacar kok, bukan calon pacar juga." ucapku berdiri dari tempat dudukku sambil menatap Anwar tajam.
"Calon suami." sambungku kemudian meninggalkan Anwar.

Entah apa yang dipikirkan Hanif. Mengapa ia menitipkan pesan pada Cantika. Mengapa ia tidak langsung menghubungi ku saja. Kehadiran Cantika tadi membuat heboh seisi kelas. Pasalnya semua anak kelas sudah tahu bahwa aku menyukai Anwar tapi Anwar suka sama sahabatku, Irene. Hanya saja memang Anwar lebih dekat denganku.

Teman-temanku penasaran, siapa yang bisa menaklakukan Hunaifah yang tidak pernah terdengar memiliki kekasih.

* * * * *

Hari yang ditentukan untuk double date kita pun tiba. Aku sudah bersiap dari pagi untuk memilih pakaian terbaik dipadu padankan dengan sepatu dan tas ku. Walaupun aku belum menyukai Hanif tapi tetap saja sebagai wanita selalu ingin tampil perfect kemanapun itu.

Aku dijemput oleh Hanif dan Andre menggunakan mobil. Kemudian menjemput Cantika.

"Waahh Una. Kamu cantik bangeeett." ucap Cantika.

"Bisa aja kamu, Can. Kamu juga cantik kok. Cantik bangeeeettt." balasku mengikuti gayanya yang diikuti tawa seisi mobil kecuali Hanif.

Karena kami masih SMP jadi kami disupiri oleh supir Hanif. Hanif di depan, Andre, Cantika dan aku duduk di kursi tengah.

"Jauh banget si mainnya ke Semarang." ucapku.

"Tuh Cantika pengen nonton katanya. Tenang nanti kita pisah kursi aja. Lo barengan sama Hanif. Gue barengan sama Cantika."

"Apaan, kaga kaga. Udah barengan aja. Kaga ada cara pisah duduk." ucap Hanif memotong.

"Lo niat ngedate ga si?" ucap Andre.

"Iya bener kata Hanif. Biar rame kita barengan aja."

"Kompak banget si kalian berdua, gemes banget sih Unaaaa." ucap Cantika.

Kami menonton film Alice in Wonderland. Aku bersyukur selera film Cantika sejalan denganku. Aku sangat menyukai film-film disney.

"Gue di D8, Andre D9, Cantika D10, dan Una. Ini buat lo, D11." ucap Hanif membagi tiket bioskop.

"Kok lo jauhan sama Una si?" tanya Cantika.

"Nurut atau gajadi nonton?" ucap Hanif.

Akhirnya kami semua menuruti permintaan Hanif. Aku juga penasaran mengapa Hanif malah terus menghindariku.

"Lo tau apa yang lagi gue pikirin sekarang?" ucap Hanif padaku. Kebetulan kami sedang duduk berdua di foodcourt sedangkan Cantika dan Andre sedang berkeliling mencari makanan yang diinginkan.

"Hmm ngga. Apa emang?" tanyaku polos. Entah kenapa aku tidak bisa jutek seperti biasanya. Terlalu banyak pertanyaan hari ini.

"Gue lagi mikirin, kenapa dari pagi gue deg deg an terus." katanya.

"Hanif deg deg an ketemu Una? Kita kan udah biasa ketemu. Kenapa deg deg an." jawabku

"Beda, Unaaa. Ini kan judulnya beda."

"Ini kan dating ya, Nif. Bukan ngerjain soal bareng. Hahaha." akhirnya aku lega tau penyebab keanehannya hari ini.

"Sssttt." katanya kesal membuatku menutup mulut.

"Sorry." katanya memecah keheningan kita. "Gue takut khilaf jadi mending aga jauhan." sambungnya.

Aku pun hanya tersenyum meresponnya. Sampai muncul ide jahil untuk membuat tuan es ini mencair.

Pesanan kami pun sudah semuanya sampai. Cantika dan Andre pun sudah kembali ke meja kami.

"Nif, cobain deh. Sup nya enak. Nih aaaa." yang dipanggilpun melototiku. "Ayodong aaaa tangan aku pegel." akhirnya berhasil membuat dia membuka mulut.

Andre dan Cantika yang melihat kami pun hanya tertawa melihat respon Hanif.

"Masih enak bikinan bunda lo." kata Hanif.

"Masa? Ah Hanif ma ga bener makannya. Cobain lagi yaaa." ucapku. "Nih aaaaa, biar berkali-kali lipat lebih enak, Hanif makannya sambil liatin Una." dia pun terbatuk batuk.

"Ih Hanif, jorok. Masa Una disembur."

"Lo sengaja yaa?" tanya Hanif.

"Sengaja apaan si? Tau ah Una mau ke kamar mandi." ucapku pura-pura ngambek.

Hanif POV

"Makanya lo jangan dingin gitu ke Una. Lo yang ngajak dating tapi lo ga gerak. Jadi dia kan yang gerak duluan." ucap Andre.

"Gue deg deg an parah, Ndre. Dia cantik banget hari ini." ucapku.

"Iya sih. Gue akui. Una hari ini beda dari biasanya. Jangan bilang ini pertama kalinya kalian jalan bareng?"

"Yaaa ngga. Udah sering kita jalan bareng. Kan lo tau sendiri gimana getolnya orangtua kita. Tapi yaa sama tiap gue ke rumahnya gue deg deg an. Apa yang mau gue omongin ke dia suka jadi ngeblank, untung gue selalu bawa buku soal."ucapku

"Jadi lo ke rumah dia buat numpang ngerjain soal?" tanya Andre.

"Ngerjain soal bareng, berdua. Kalau gue ga ngerti gue tanya dia, kalau dia ga ngerti ya tanya gue." tegasku.

"Sama aja, bambang." ucap Andre "Pantesan si Andin nyerah sama lo. Gabisa ekspresikan rasa suka."

"Diem Lo." jawabku.

POV Hanif End

Aku kembali menyantap makananku masih dengan mode ngambek ku. Pura-pura ngambek lebih tepatnya.

"Una tolong ambilin saosnya dong." ucap Hanif kemudian aku ambil saos yang ada di tengah meja dan memberikan kepada Hanif.

"Tuangin maksudnya." aku mengambil saos dan menuangkan banyak.

"Andin siapa Hanif?" tanyaku dengan jutek.
Ku lihat Hanif terdiam seperti tak menyangka aku akan menanyakan ini.

"Mas, Andin siapa?" tanyaku sengaja menekankan kata mas disana dan membuat Hanif semakin terpaku.

* * * *

"Mas Hanif, aku keterima di Yogya Islamic Boarding School." kataku pada Hanif ketika dia berkunjung ke rumahku.

Kita memang sudah memutuskan akan pergi ke sekolah yang sama. Pertemuan setiap minggu kita juga adalah bentuk usaha kita untuk menyamakan langkah, target kita bisa masuk ke SMAN 3 Bandung. Tapi sebelum kesepakatan kita ini, aku sudah terlebih dahulu mencoba daftar di YIBS dan baru mendapat pengumuman tadi malam.

"Kenapa ga bilang daftar kesana? Kenapa ga ngajak?" tanya Hanif ada raut kekecewaan disana.

"Una daftar sebelum kita punya kesepakatan." jawabku.

"Terus rencananya gimana? Mau diambil?" tanya nya.

"Mas Hanif.." panggilku yang membuat mata kami bertemu. "aku bisa kok ga ambil dan kita berusaha sesuai rencana kita."

"Kenapa daftar kesana?" tanya Hanif

"Una takut sama kiamat 2012, Mas. Una tahu aku belum jadi muslim yang baik. Bekal apa yang Una bawa untuk menghadap Allah nanti, Mas. Januari kemarin Una ikut sanlat dan Una merasa keciiill sekali, Mas. Una merasa bodoh tentang islam. Una mau belajar disana. Setidaknya kalau 2012 beneran kiamat, Una punya bekal, Mas." Ucapku. Tatapan kita masih saling mengunci.

"Terus rencananya gimana? Mau diambil?"

"Hiks.. Hiks.. Una gatau. Una ingin kesana tapi Una ingin bareng-bareng sama Mas Hanif. Una bingung." ucap Una

"Udah jangan nangis. Kapan harus memutuskannya?"

"Jumat depan terakhir pembayaran uang pangkal. Kalau ga bayar dianggap mengundurkan diri."

"Yaudah jangan nangis. Yuk kita dril soal lagi." ucap Hanif.

Tidak banyak soal yang Hanif kerjakan. Pikirannya tidak fokus memikirkan Hunaifah yang akan terpisah sekolah dengannya bahkan akam berbeda kota. Bagaimana dengan rencana mereka.

Hanif tau, bahwa mereka masih SMP. Masih banyak hal yang akan terjadi ke depannya. Penerimaan siswa di SMAN 3 Bandung pun belum tentu mereka masuk. Bisa saja nanti Hunaifah masuk dan Hanif tidak masuk atau sebaliknya.

"Hunaifah.." ucap Hanif sambil membereskan kertas-kertas coretannya. Mereka sudah selesai latihan soal karena sebentar lagi mereka akan mengikuti Try Out dari bimbel mereka.

"Iya, Mas Hanif."

"Ambil saja." ucap Hanif. Aku melihat matanya mencari kerelaan disana tapi tidak terbaca. Sepertinya Hanif pun masih bingung.

"Coba istikharahkan. Biar Allah tunjukkan mana yang terbaik. Tapi kalau boleh saran, ambil saja. Belajarlah, jadilah sebaik-baik muslimah. Nanti aku daftar ke SMAN 1 Yogya saja. Disana juga bagus sekolahnya."

"Mas Hanif.." ucapku

"Hmm.."

"Mas ga sakit kan?" tanyaku kemudian memegang kening Hanif. Hanif hanya menggeleng.

"Mas Hanif kok beda gitu. Lebih lembut gituu, bijak. Dan apa tadi? Aku? Hihihi Biasanya juga lo gue."

"Sial. Gue udah nahan-nahan nih. Malah diledekin. Udah buruan, telat nanti kita." ucap Hanif kesal.

"Baru aja dibilang lembut, udah kembali ke normal mode nya." gumamku.

"Lo tau kenapa gue nyuruh lo ambil aja ntu sekolah?" tanya Hanif di perjalanan kita menuju bimbel.

"Biar nanti kalau kita udah barengan, gue ga susah lagi benerin lo."ucap Hanif meledek.

"Keseelll. Ya kalau Una masih mau sama Mas Hanif yaa. Ya kali nanti Una jadi muslimah cantik nan sholehah masyaaAllah. Terus ada ustad yang nyantol sama Una. Kan lebih menjanjikan."

"Maksud Lo?"

"Menjanjikan untuk bawa Una ke surga."

"Sial. Awas lo kalau suka sama ustad single disana. Gue juga usaha perbaiki diri elaahh. Awas lo kalau macem-macem."

"Mas Hanif. Kita nikah masih lama yaaa?" tanyaku.

"Iyalah ogeb. Kenapa?"

"Una gemes banget ini sekarang. Pengen meluk Mas Hanif rasanyaaa." ucapku polos. Atau bucin yaa

Hanif hanya geli melihatku mengungkapkan apa yang ada di pikiranku. Padahal Hanif dari tadi sangat menahan diri untuk tidak memelukku. Apalagi ketika aku menangis. Tapi Hanif teringat nilai-nilai yang ditanamkan orangtuanya untuk memuliakan wanita.

* * * *

 

Kembali ke Bagian 1 

Lanjut ke Bagian 3 

 

Komentar