Langsung ke konten utama

Perjodohan Sejak SMP 4/7

Tema              :  Perjodohan

Genre             : Romantis, Islamic

Dibuat            : 11 Januari 2021

Jumlah Kata   : 2885 kata

 

 Bagian 4

Aku sangat menikmati masa-masa ku di kampus. Kakak-kakak kosan yang sangat baik hati, teman-teman kelas yang mudah untuk didekati, kecuali dosen-dosennya. Hampir setiap pelajaran membuat kepalaku sakit. Ada dosen yang dengan mudahnya mengatakan "bodoh" kepada mahasiswanya.

"Bagaimana mau mengajar, Bagaimana mau mencerdaskan siswa kalau gurunya saja bodoh. Pantas saja kemampuan matematis siswa di Indonesia rendah." ucap Pak Daus. Pak Daus ini adalah salah satu dosen kiler disini. Bersama Pak Daus, kita harus mempersiapkan dulu materi yang akan bapak sampaikan.

"Kalian datang ke kelas jangan datang dengan pengetahuan yang kosong. Nanti ga asik ngaduk ngaduknya. Kalian masuk kesini kondisinya harus sudah membaca. Penuhi teko kalian, nanti biar bapak tambah pemanisnya. Biar diaduknya kan jadi indah, dan yang ga pentingnya biar aja meluber. Paham?" kata bapaknya suatu waktu.

Ketika capek dan mumet begini paling asik aku nongkrong di pelataran masjid nurul huda, masjid UNS ini, sambil menunggu waktu ashar dan kajian sore dari LDK.

Sebetulnya seru belajar dengan bapak itu, pak daus memcoba untuk meluruskan miskonsepsi yang sering terjadi di kalangan siswa yang ternyata kami yang mahasiswa pun masih miskonsep.

"Saya punya lingkaran. Biasanya pertanyaan apa yang ditanyakan kepada siswa terkait lingkaran?" tanyanya suatu waktu.

"Berapa jari-jarinya." ucap slaah satu mahasiswa kemudian Pak Daus menuliskannya pada papan tulis.

"Oke yang lain," ucap Pak Daus.

Akhirnua teman-teman menyebutkan sampai terkumpul banyak pertanyaan.

"Tadi siapa yang bilang luas lingkaran?" tanya Pak daus dan Lilit pun mengangkat tangan.

"Sini maju. Coba anda tunjukan mana yang dimaksud dengan luas lingkaran" tanya Pak Daus, Lilit pun menunjukkan ke daerah dalam lingkaran.

"Itu papan tulis bukan luas lingkaran." kata pak daus kemudian para mahasiswa tertawa.

"Kok tertawa, kamu maju. Mana yang dimaksud luas lingkaran?" Anto pun maju dan menunjuk hal yang sama seperti Lilit.

"Salah, ikut ngetawain, salah pula. Apa definisi lingkaran sebetulnya?" tanya Pak Daus dan mahasiswa semua bungkam.

"Anda mau mengajar siswa tentang lingkaran tapi anda tidak tahu luas lingkaran bahkan definisi lingkaran saja tidak tahu? Kan bodoh itu namanya." ucap Pak Daus.

"Bangun datar dengan garis melingkar." ucap slaah satu mahasiswa.

"Salah. Makanya baca dulu sebelum masuk itu baca." katanya

"Lingkaran adalah himpunan titik yang berjarak sama terhadap suatu titik. Suatu titik ini yang biasa kita sebut titik pusat dan jarak sama ini yanh biasa kita sebut jari-jari. Lalu yang mana luas lingkaran?"

"Apakah titik mempunya luas?" ucap Pak Daus dan mahasiswa kompak menggeleng.

"Tidak ada yang namanya luas lingkaran. Yang ada luas daerah lingkaran. Begitu. Paham?" ucap Pak Daus dan mahasiswa ber oh ria.

Itulah salah satu kondisi kelas perkuliahanku. Seru dan menantang.

Aku mengambil mushaf ku mencoba mengulang-ngulang hafalan yang sudah ku hafal. Tiba-tiba ada seorang ikhwan yang menyapa.

"Una." katanya dan aku pun menoleh. "Adek kuliah disini juga?"

"Abang? Abang juga kuliah disini?" tanyaku balik

"Kedokteran. Adek?"

"Wiihhh mendadak pinter nih masuk kedokteran. Una jurusan pendidikan matematika." jawabku.

"Ya ampun, Dek. Tiga tahun waktu yang lama kali Dek buat abang bisa jadi pintar. Hahahaha" jawabnya.

Hening.. Sebetulnya aku sudah kurang nyaman karena ada beberapa orang yang memperhatikan kami berdua yang berbincang berdua di pelataran masjid.

"Abang liat adek lagi ngulang hafalan. Dilihat dari tanda jari adek, kayanya udah banyak nih hafalannya." ucap Anwar

"Hehe ngga bang. Masih sekian juz aja." jawabku. Kalau kata Umi Aisyah, jumlah hafalan itu perlu dirahasiakan jika sedang tidak butuh untuk dikatakan.

"Sekian juz nya itu n-1 ya dek? Dimana n adalah jumlah juz pada alquran." ucap Anwar.

"Hahaha jago ya sekarang matematikanya." ucapku takjub dengan cara Anwar menjawab.

"dokter Anwar." katanya sombong.

"Iya deh pak dokter."

"Yaudah, abang ke dalem ya siap-siap Ashar. Abis ashar ada agenda lagi. Oia mau minta nomornya Dek?"

"Buat apa? Kayanya kita lagi di posisi ga perlu kontakan deh Bang."

"Kan kita satu kampus. Barangkali ada perlu atau butuh bantuan. Ada temenmu yang sakit misal atau abang butuh bantuan ngitung? Hahaha" katanya.

"Kalau kita ga sengaja ketemu lagi deh ya. Nanti adek kasih."jawabku.

"Oke. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam warahmatullah" jawabku dan Anwar pun pergi.

Aku berpindah ke daerah sholat akhwat supaya tidak membuka kesempatan ada ikhwan lain yang menyapa dan menambah tatapan horor seperti tadi.

Di sore hari, ada acara LDK dimana acara tersebut merupakan program perkenalan calon anggota LDK.

"Nama saya Hunaifah Zhafira saya berasal dari Ambawara tapi sudah tiga tahun saya lebih banyak berada di Yogya untuk sekolah. Di Yogya Islamic Boarding School." Ucapku.

"Wah alumni pesantren nih."

"Bukan pesantren, Kak. Boarding School." ucap salah satu ikhwan yang tidak ku kenal yang ternyata selanjutnya ku tau dia berasal dari YIBS juga.

Memang anak-anak YIBS paling tidak mau disebut anak pesantren. Kami ingin disebut sebagai anak boarding school. Karena pesantren dalam kacamata kami itu seperti asrama yang berantakan, masak sendiri, nyuci sendiri, tidur ngampar, sarungan kemana-mana. Sedangkan sekolah kami tidak seperti itu.

"Perkenalkan nama saya Anwar Sutisna. Saya dari Ambarawa juga, satu SMP dengan Hunaifah. Saya berasal dari SMAN 3 Bandung." ucap Anwar yang membuatku kaget. Berarti dia satu sekolah dengan Hanif dong.

* * * *

Setelah melaksanakan shalat maghrib di masjid Nurul Huda aku pulang mengendarai besi roda dua ku menuju kosan. Aku sedang menimbang-nimbang tawaran untuk menjadikan aku menjadi seorang Ketua Himpunan di kampus. Bagaimana pun aku seorang perempuan.

Ketika aku mengendarai motorku dengan pelan dan berputar-putar di dalam kampus ada sebuah motor yang mendekat.

"Pulang kemana, Dek? Abang liat adek udah lewat ke depan masjid ini tiga kali loh Dek." kata Anwar yang ternyata ia yang mendekatiku.

"Adek kos di pondok muahasabah, Bang."

"Wah kos bareng mbak-mbak galak ternyata. Haha" kata Anwar.

"Hahaha iya. Kok tau penghuninya pada galak?" tanyaku heran.

"Aku kos di pondok UBK, mas mas disana yang pada cerita tentang ngerinya kosan sebelah." Katanya.

"Oh ternyata kita sebelahan kosannya. Jadi abang termasuk ikhwan gayung?" tanyaku meledek.

"Apa banget bahasanya ikhwan gayung, Ck. Kita itu berusaha untuk membaur supaya tidak terlihat eksklusif. Supaya lebih mudah dalam berdakwah." Katanya.

"Halah itu ma alasan aja Bang. Mana ada dakwah tapi ga beri teladan. Duduk deketan dengan akhwat juga ga risih, jalan berdua sama akhwat macem gini juga ga risih. Apalagi teleponan berdua sama akhwat juga ya? Sok sok an mau jadi pahlawan yang siap sedia membantu. Itu ma namanya nebar hati, Bang. Ngebaperin banyak akhwat." jelasku yang sudah greget dengan kelakuan kosan sebelah.

"Hahahaha terserahmu, Dek. Jadiiii kenapa? Apa yang mengganggumu, Dek?" ucap Anwar.

"Heuh..." Aku coba buang nafas sesak. Aku bingung untuk melanjutkan percakapan dengan Anwar atau tidak. Tapi ini sudah malam.

"Besok jam 8 di stadion. Gimana?"

"Boleh. Aku ngementor dulu paginya, nanti kalau sudah selesai aku langsung ke stadion."

"Oke."Jawabku. "Inget zaman SMP dulu ya Bang. Pulang bareng gini. Bedanya sekarang naik motor. Yaudah adek duluan ya Bang. Gaenak kalau keliatan kita berduaan malem-malem gini. Assalamu'alaikum."

Beberapa kali kami saling bertukar kisah. Di semester dua lalu sempat ada rumor beredar di kalangan LDK bahwa aku dan Anwar ada hubungan khusus melihat panggilan kami yang tak biasa, Abang-Adek, dan terlihat beberapa kali interaksi kami yang terlalu dekat.

Ketika aku dipanggil oleh Dewan Penasihat LDK karena ada yang melaporkan kasusku, aku meyakinkan bahwa Anwar hanyalah teman SMP ku. Memang ketika SMP kita sangatlah dekat. Dia sudah seperti kakakku. Kita jarang sekali bertukar pesan, hanya beberapa kali bertemu. Itupun jarang sekali. Tapi memang sekali bertemu biasanya kami menghabiskan waktu yang cukup lama. Untuk lebih meyakinkan mereka, aku siap untuk digeledah isi percakapanku dengan Anwar di WhatsApp. Dan memang tidak ada percakapan yang penting.

Anwar pun menceritakan bahwa ia dipanggil oleh Dewan Penasehat. Tapi Anwar hanya meminta maaf aja tanpa menjelaskan apapun atau meluruskan apapun. Anwar juga diminta menunjukkan isi chatnya dan isinya persis dengan isi chatku. Ya mana mungkin kita kepikiran ngehapus hapusin chat yang sama berdua kan.

* * * * *

Aku duduk di podium stadion sambil melepas lelah setelah joging bersama kawan jurusanku. Aku meminta dia untuk menemaniku berbincang dengan Bang Anwar dengan embel-embel traktiran bubur setelah olahraga. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 8 dan Anwar masih belum terlihat. Mungkin dia belum selesai ngementor adik-adiknya.

"Hai Dek." Kata Anwar yang duduk di sebelahku agak memberi jarak.

"Assalamu'alaikum warahmatullah, Akhii" ucapku menekankan setiap kalimatnya.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh." balasnya meniru cara anak SD mengucapkan salam.

"Dasar ikhwan gayung. Oia, ini kenali temen adek."

"Gita. Teman sekelas Una." kata gita mengulurkan tangan.

"Anwar. Teman SMP Una" ucapnya sambil menangkupkan tangan di depan dadanya. Gita pun terlihat salah tingkah dibuatnya.

"Temenmu modelannya begini semua ya, Un. Ga temen kuliah, temen SMA, temen SMP modelannya ga mau jabat tangan semua." ucap Gita ngedumel.

"Hahahaha makanya gabung LDK yuk biar terinternalisasi kenapa kita gamau jabatan tangan." ucapku gemas.

"Adek diminta jadi ketua himpunan di jurusan, Bang."

"Siapa yang nyuruh?"

"Anak-anak LDK di jurusan. Sama kakak-kakak di departemenku, Bang. Aku kan perempuan ya, mana anaknya lemah lembut nan ayu gini. Masa jadi ketua himpunan. Abang kan tau sendiri dalam agama kita perempuan ga boleh jadi pemimpin selama ada laki-laki yang berkompeten." kataku menceritakan.

"Lemah lembut tapi galak, Dek. Hahaha"

"Bener. Aku setuju nah Mas." kata Gita.

"See, gita juga sependapat. Gini Dek, menjadi ketua himpunan itu skalanya kecil. Yang ga boleh itu perempuan jadi pemimpin yang juga mengarahkan ranah spiritual kita sebut saja khalifah. Perempuan ga boleh jadi khalifah. Yaa da kenyataannya sudah tidak ada khalifah zaman sekarang. Bahkan kalau dirasa Adek sanggup pun, mau jadi presiden pun boleh Dek. Nah masalah selanjutnya adalah lebih baik laki-laki yang berkompeten. Betul. Nah tapi pertanyaannya apakah ada laki-laki yang kompetensinya lebih baik dari Adek di jurusan? Bisa jadi kakak-kakak di jurusan adek sudah menscreening anak angkatan adek dan merasa adek lah yang paling pas."

"Ga ada Mas. Laki-laki di angkatan kita itu sedikit Mas. Dan pengalaman juga keaktifannya memang tidak sebaik Una. Kami memandang Una ini memang sudah paham dengan himpunan kita. Dia paham isi landasan-landasan kita, secara administratif dia bagus, kepemimpinan dia juga bagus, dan Una ini memang dikenal baik oleh banyak kakak tingkat." jelas Gita.

"Nah. Lengkap alasannya, Na. Gapapa bismillah. Ga ada alasan lain untuk menolak toh?" lanjutnya.

"Hiks.. Hiks.."

"Una kok nangis sih, aku belikan minum dulu yaaa." inisiatif Gita.

"Udah, Dek. Amanah itu tidak akan salah memilih pundak. Tinggal kita menguatkan lagi kuda-kuda kita untuk tetap kuat memangku amanah. Bisa insyaaAllah." ucapnya menenangkan.

Anwar menyodorkan minuman botolnya kepadaku dan ragu aku menerimanya.

"Tadi pas kesini abang beli minum. Belum sempat abang minum kok. Minum aja." ucapnya seakan tahu isi kepalaku.

"Makasih, Bang." ucapku. Dan aku tak sadar adegan abang memberikan aku minum ini dilihat oleh sepasang mata yang tak suka melihat kedekatanku.

* * * * *

Aku, Anwar dan Gita sepakat untuk makan bubur bersama setelah diskusi kami di stadion tadi. Mataku masih terlihat bekas menangis. Bagaimana tidak, cukup lama tadi aku menangis memikirkan tawaran itu.

"Adek tuh terlihat kuat di luar. Galak dan tegas sama banyak orang. Tapi sebenernya itu cara adek nutupin sisi adek yang kaya gini. Rapuh." ucap Anwar padaku.

"Git, udah liat kan Una yang kaya gini? Nitip Una di jurusan ya Git. Aku gabisa sering-sering nemenin dia kaya gini." ucap Anwar pada Gita.

Bahkan aku tidak mengenal diriku sebaik Anwar mengenalku. Seringkali apa yang dikatakan Anwar tentang diriku adalah benar dan aku baru menyadari itu.

Ketika kami sedang berjalan bertiga, aku memeriksa HPku dan banyak panggilan tidak terjawab. Tak lama ada panggilan masuk lagi tapi aku sedang malas mengangkatnya.

"Kenapa ga diangkat?" ucap seorang laki-laki yang menghadang jalan kami.

"Hanif !" ucapku kaget.

"Mas Hanif." balasnya menekankan.

"Ngapain kesini? Tau darimana aku disini?" tanyaku.

"Nih" ucapnya menunjukkan story instagramku yang menunjukkan lokasi ku tadi sehabis jogging.

"Lo ngehindarin gue. Lo jarang balas chat gue. Lo block instagram gue sampe gue harus bikin akun lain. Lo ga dateng ke pertemuan keluarga. Dan Lo? Ternyata kecantol sama bocah satu ini. Sok sok an gamau berduaan tapi apa gue liat tadi, sweet banget ngobrol berdua pake ngasih air minum segala." ucap Hanif.

"Jaga omongan Lo ya, Nif. Itu ga seperti yang lo lihat! Kita ga berduaan. Nih ada Gita. Lo mungkin liat kita pas Gita lagi ambil air minum buat Una." ucap Anwar meninggi.

"Udah. Jangan ngomong disini. Gita Anwar sorry ya Una gabisa lanjut makan bareng kalian. Biar Una urus dulu nih tamu yang tidak diundang. Ayok Hanif. Assalamu'alaikum." kataku langsung meninggalkan mereka.

"Awas ya kalau sampe lo bikin adek gue nangis lagi." ucap Anwar sebelum akhirnya Hanif ikut pergi meninggalkan mereka.

Aku memilih mengajak Hanif pergi agak jauh karena kami akan ngobrol berdua dan tentu saja khawatir muncul fitnah yang lain di kampus. Aku berboncengan berdua dengan Hanif dengan tas menjadi pembatas diantara kami.

"Kenapa kesini?" tanyaku.

"Una abis nangis? Kenapa?" tanya Hanif.

"Bukan urusan kamu." jawabku.

"Mas kangen sama Una." jawabnya.

"Ini UNS, Hanif. Bukan ITB. Masa depan kamu ga ada disini." ucapku datar.

"Kamu ada disini, Una. Udah hampir dua tahun kita ga ketemu. Una marah karena Mas marah tentang Una yang ga ngambil ITB?" tanya nya.

"Salah satunya. Tapi aku ga marah. Cuma kecewa aja sama respon kamu yang kaya gitu." ucapku.

"Maafin Mas."

"Maaf untuk apa?"

"Maaf karena udah marah saat itu ke Una."

"Itu aja?" tanya nya.

"Adalagi, Una?" tanya nya.

"Inget pertandingan 30 Juni 2014 di GOR Citra? Waktu itu aku tanya Hanif lagi ngapain dan lagi dimana?" tanyaku.

"Mas inget. Una kenapa gabilang si kalau Una ke Bandung. Kalau Mas tau, Mas bakal luangin waktu Mas buat Una. Maafin Mas." katanya. Kenapa sih dia harus pake Mas-Una kan jadi meruntuhkan pertahananku.

"Aku datang ke GOR bareng Mas Alif setelah Aku nelpon kamu. Niatnya aku mau beri kejutan, ternyata malah aku yang dikasih kejutan oleh kamu dan Andin." kataku menjelaskan.

"Una udah berusaha menjaga hati Una. Una berusaha keras untuk terus berprestasi walaupun di sekolah yang belum menjanjikan. Supaya kita bisa mewujudkan mimpi bersama kita. Selama Una persiapan tes masuk kuliah, mana ada Hanif tunjukkan rasa empatinya sama Una. Hanif ga pernah nanya kan apa yang Una inginkan, yang Hanif tau hanya Una melakukan sesuai dengan keinginan Hanif." ucapku sedikit terjeda menahan tangis.

"Ketika aku masih kesal sama kelakuan kamu, kamu malah marahin aku karena aku ga ambil ITB. Padahal aku ga ngambil ITB karena kamu, Hanif." ucapku akhirnya tumpah lagi tangisku.

"Maafin Mas, Una. Mas khilaf. Mas sama Andin cuma temen aja kok. Ga lebih." balas Hanif.

"Dan kita berdua juga cuma temen kan, Mas Hanif?" tanyaku meledek.

"Una... "

"Aku tunggu Nif, aku tunggu yang katamu kita mau tunangan dulu. Aku tunggu Nif. Tapi mana, kamu ga pernah membahas itu ke orangtuaku. Aku ngasih kamu waktu, Nif." ucapku.

"Mas.. Mas belum yakin sama kita, Una." balasnya dan membuatku kaget.

"Belum yakin? Terus untuk apa kesini? Bahkan aku ga pernah sekalipun meragukan kamu, Hanif. Walaupun aku udah liat gimana mesranya kamu sama Andin."

Hening di antara kami. Aku menangis cukup dalam, untunglah kami memilih tempat yang cukup sepi sehingga tidak ada yang mendengar tangisku.

Hanif pun sama. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis.

"Gue malu sama lo yang terlalu sempurna. Lo dapat banyak prestasi ketika SMA, agama lo juga bagus. Orangtua lo selalu membanggakan lo dan bilang kalau gue harus meniru lo. Gue bukan lo, Una." ucapnya sambil menunduk.

"Gue susah komunikasi sama lo, sampai akhirnya ada oranglain yang bikin gue nyaman. Dia selalu nurut apa yang gue omongin. Dia ada disaat gue lagi butuh."

"Gue lelah berpura-pura menjadi baik. Menampakkan diri menjadi lelaki sholeh yang banyak orang sukai." ucapnya

"Gue lelah berpura-pura baik untuk menjaga penilaian lo, orangtua gue dan orangtua lo. Gue lelah, Na. Lelah."

"Sampai akhirnya kita sangat sulit untuk berkomunikasi. Mungkin jika komunikasi kita baik, kita bisa berbagi kisah dan beban. Gue ngedown, Na. Gue jatuh. Dan akhirnya gue nyari kenyamanan gue yang lain." sambungnya.

"Hanif, aku kaya gini demi kita, Hanif. Aku pernah nawarin ke kamu supaya aku ga jadi di pesantren, tapi kamu sendiri yang nyuruh aku ambil pesantren aja kan?"

"Gue gatau kalau itu menyebabkan kita susah berhubungan, Una. Dan setelah lulus pun lo masih tetap susah dihubungi!" ucapnya meninggi sambil menitikan air mata.

"Itu karena kita memang harus menjaga batasan hingga Allah mengizinkan kita bebas berinteraksi, Hanif. Aku sudah mengajakmu untuk menikah. Tapi karena kamu belum mau, aku ambil plan selanjutnya."

"Apa?"

"Lepasin aku. Kita jalan masing-masing. Kalau memang kita berjodoh, Allah akan pertemukan kita kembali di waktu yang tepat."

Keadaan kembali hening. Aku tidak benar-benar yakin dengan keputusan yang aku ambil.

"Baiklah Una. Gue lepasin lo. Sekarang lo bebas. Seperti kata lo diantara kita memang tidak ada hubungan yang dapat didefinisikan kecuali teman. Tapi kayanya gue udah gabisa temenan sama lo. Gue lepasin lo secara penuh, Hunaifah Zhafira." ucapnya.

Aku menangis semakin dalam. Bagaimana tidak. Masa depan yang sudah lama kita rancang bersama selesai begitu saja di hari ini.

"Izinkan gue nganterin lo balik ke kosan lo. Permintaan terakhir gue sebagai teman lo." ucapnya.

Hanif mengantar ke kosanku kemudian dia berpamitan untuk pulang ke Ambarawa. Dia pulang menggunakan ojol untuk sampai ke Stasiun Bis.

Aku langsung memasuki kamar dan menangis sejadi-jadinya di balik bantal. Tak peduli bahwa di dalam kamar ada Mbak Annisa yang sedang mengerjakan skripsinya.

Aku sudah berusaha menguatkan hati jika nantinya akan terjadi hal seperti hari ini, tapi nyatanya aku tidak pernah siap. Nama Hanif terlalu terpatri dalam diriku. Walaupun kami jarang bertukar pesan, tapi doa untuknya tidak pernah aku lewatkan. Doa untuknya selalu ku sandingkan dengan doaku untuk kedua orangtuaku.

Mbak Annisa mencoba menenangkan aku, aku pun menceritakan semuanya kepada Mbak Annisa. Mbak Annisa mencoba menenangkan aku. Bahwa semua sudah skenario Allah. Allah menunjukkan bahwa cara kami adalah cara yang tidak baik dan Allah sudah memutuskan hubungan kami hari ini.

* * * * *


Kembali ke Bagian 3

Lanjut ke Bagian 5 

Komentar