Langsung ke konten utama

Perjodohan Sejak SMP 5/7

Tema              :  Perjodohan

Genre             : Romantis, Islamic

Dibuat            : 11 Januari 2021

Jumlah Kata   : 1975 kata

 

Bagian 5

Setelah enam tahun aku berkuliah di Pendidikan Matematika UNS akhirnya aku lulus dan di wisuda dengan nilai sangat memuaskan.

"Mana ada, Dek IPK 3,8 dapet predikatnya sangat memuaskan. Harusnya cumlaude ini, Dek." Kata Mas Alif tidak terima dengan hasil kuliahku.

"Bandingin piala di rumah ayok, Mas." ucapku meledek.

Memang lulus enam tahun ini adalah hal yang aku sengaja karena aku ingin meraih banyak prestasi selama masa S1 ku ini. Karena setelah lulus kuliah perlombaan di bidang matematika sudah tidak banyak lagi.

Keinginanku dulu adalah menjadi wisudawan terbaik supaya Ayah dan Ibu bangga bisa langsung menerima penghargaanku dari rektor, namun setelah tahu fakta bahwa wisudawan terbaik biasanya IPK nya 3,9 nyaliku menjadi ciut. Aku memutuskan untuk menambah semester dan fokus mendalami beberapa mata kuliah yang belum ku kuasai.

Aku masuk ke beberapa kelas tanpa mengontrak mata kuliah. Aku masuki semauku. Aku sering menghabiskan waktu di perpustakaan jurusan untuk mempelajari lebih dalam tentang matematika. Sesekali aku berdiskusi dengan dosen bahkan profesor yang tidak sengaja mampir ke perpustakaan.

Dari keputusanku menambah semester, alhamdulillah aku bisa membawa pulang medali emas dalam kompetensi nasional dan ikut serta dalam kompetensi internasional IMO. Aku juga mengikuti kompetisi ke Australia dan Finlandia. Awalnya aku mau tambah sampai habis semester 14 namun kebijakan departemen malah memberikan peringatan padaku. Bahwa aku tidak akan diikutsertakan lomba lagi karena sudah waktunya aku fokus menyelesaikan skripsiku.

Tak lama aku menyelesaikan skripsi. Karena BAB I sampai III sudah rampung aku buat sejak lama. Setelah aku seminarkan aku pun diminta langsung melanjutkan penelitian. Hanya perlu waktu dua bulan untukku menyelesaikan skripsiku yang tertahan beberapa semester ini.

Aku sangat bersyukur bisa menjadi lulusan UNS yang memberiku banyak sekali pelajaran dan pencapaian. Aku bisa menyelesaikan hafalan Alquran ku di kampus ini, aku bisa aktif berorganisasi sampai nasional dari kampus ini, dan aku bisa mendapat banyak penghargaan dari kampus ini.

"Sebongkah berlian mau disimpan di tempat sekotor apapun, ia akan tetap bersinar dan bernilai." ucap dosenku yang juga mengetahui bahwa aku juga diterima di FMIPA ITB pada waktu itu.

* * * * *

Hari ini keluargaku akan makan malam di luar bertemu dengan keluarga teman ayah. Mbak Annisa ikut bergabung bersama kami karena enam bulan lalu akhirnya Mas Alif menikah dengan Mbak Annisa setelah ia bertemu kembali dengan Mbak Annisa ketika wisudaku. Aku bermain dengan keponakannya Anwar yang tidak mau lepas denganku akhirnya ayah mengizinkan Tania ikut dengan kami.

Siang tadi Anwar datang ke rumahku mengembalikan beberapa buku yang dulu sempat Anwar pinjam. Bunda malah mengajak Tania main di kamarku yang memang banyak boneka dan figure princess disana. Tania menjadi betah dan akhirnya nempel denganku tidak mau ikut Anwar pulang.

Anwar pun meminta izin pada kakaknya untuk membiarkan Tania menginap malam ini disini.

"Maaf ya merepotkan. Ayah ibu nya lagi seminar di luar negeri seminggu jadi Tania dititipkan di rumah. Begitulah kalau kedua orangtuanya dokter." ucap Anwar.

"Iya yaa. Kasian anaknya ditinggal-tinggal terus. Abang jangan cari yang dokter, Bang. Kasian anakmu nanti." ucapku.

"Ngga lah, Na. Dia bukan dokter kok, Na." ucap Anwar, Anwar pernah cerita kalau dia menyukai seorang akhwat tapi belum berani mengungkapkan.

"Ciiee, pas atuh. Kapan rencana mau khitbahnya?" tanyaku penasaran.

"Nantilah, beres internshipku. Tunggu sumpah dokterku dulu." jawabnya.

"Bentar lagi dooonngg. Semangat Bang."

Dan disinilah aku, bersama Tania yang sedang berada di pangkuanku tertidur kelelahan bermain. Sambil menunggu keluarga teman ayah datang kami mengobrol masih mencoba mengakrabkan dengan kehadiran Mbak Nisa, Anggota baru keluarga kami.

"Sepertinya lebih siap Una dibanding Nisa ya, Yah. Untuk jadi seorang ibu. Liat tuh Tania nempelnya sama Una terus." ucap Bunda.

"Bundaa.. Ini karena Tania kan kenal Una duluan bukan karena Mbak Nisa ga keibuan." ucapku.

Beginilah interaksi seorang mertua kepada menantu perempuannya. Senang sekali mencari kesalahan pada sang menantu padahal Mbak Nisa sudah masyaaAllah sekali.

"Iyaa. Coba lebih akrabkan diri dengan anak kecil, Nisa. Biar segera isi." ucap bunda tepat sasaran.

"Bunda. Mas masih mau pacaran dulu sama istri Mas. Sedikasihnya aja dong, Bund." ucap Mas Alif membela Mbak Nisa.

"Iya, Bun. Makasih nasihatnya, nanti Nisa coba ngobrol sama Mas Alif deh biar segera program." ucap Mbak Nisa dengan sopan. Duh aku aja yang perempuan meleleh liat mbak nisa yang ayu tenan.

"Ayah mau laki-laki atau perempuan, Yah?" Mbak Nisa coba bertanya kepada Ayah

"Lanang wedo sama aja toh. Yang penting jelas ga setengah-setengah." ucap ayah yang akhirnya buat kami tertawa kencang sampai membuat Tania hampir terbangun.

"Kalian niih. Tania jadi keganggu." aku langsung berdiri mengais ais Tania supaya tidur nyenyak lagi.

"Assalamu'alaikum. Maaf Dar kami terlambat."

"Wa'alaikumussalam, Oh iya ayo duduk duduk."

Aku terpaku melihat lelaki paruh baya itu masuk. Jadi ini temannya ayah yang diajak bertemu.

"Eh Una. Una sudah punya anak toh, Dar?" tanya Om Hadi dan tak lama lelaki yang sangat tak ingin ku jumpai tapi ku rindukan pun masuk.

"Ya belum lah, Di. Masa belum nikah udah punya anak. Anakmu belum nikah juga toh?"

"Belum lah. Masih bertahan di hati yang lama kayanya, Dar." Mereka pun tertawa.

"Una pamit keluar dulu ya. Mau nidurin Tania dulu biar ga rewel." ucapku sambil membawa bocah tiga tahun ini.

Ketika Tania mulai tertidur, Hanif menghampiriku membawa stroler Tania.

"Anak siapa?" tanya Hanif.

"Keponakannya Anwar." jawabku singkat.

"Oh."

Hanif hanya diam sedangkan aku masih mengayun Tania supaya tidur dengan nyenyak.

"Apa kabar?" tanya Hanif.

"Baik. Hanif gimana? Stay dimana sekarang?" tanyaku.

"Gue baik juga, Na. Gue stay di Jakarta sekarang. Kerja programmer. Kamu kerja dimana?" tanyanya.

"Aku belum kerja tetap, Nif. Baru ngrintis bisnis aja sama temen-temen. Sambil privat sama coaching aja. Aku sering ke Jakarta juga."

"Oia? Ngapain?" tanya Hanif. Aku memindahkan Tania yang tertidur ke stroler, mudah-mudah dia tidak terbangun seperti tadi.

"Ngelatih anak-anak yang mau lomba, Nif. Matematika." ucapku sambil mendorong stroler.

"Biar gue." ucapnya. Kami pun berjalan memasuki tempat jamuan kita tadi.

"Kayanya kalau dulu gue nurutin kepengen lo, nikah selulus SMA, kita udah dorong anak sendiri kaya gini kali ya Na."

Aku tidak coba menjawab omongan Hanif. Biarlah dia berpikir bebas atas sikapku.

"Kalau ke Jakarta kabarin. Nanti gue ajak lo jalan-jalan. Ga berdua kok." ucapnya.

"Udah ya Nif, stop. Bukannya kamu udah gamau temenan sama aku? Aku ga kekurangan temen kok sehingga aku harus jalan sama kamu di Jakarta. Aku duluan, permisi." ucapku pada Hanif dan meninggalkan dia.

Dalam pertemuan malam ini ternyata masih ada usaha para ayah kita untuk menyatukan aku dan Hanif supaya menikah.

"Una kapan nih planning nikahnya?" tanya Om Hadi.

"Masih belum tau, Om. Belum dapet spoilernya siapa." jawabku.

"Wah sudah bisa nidurin anak kecil gitu harus disegerakan toh. Kalau Hanif insyaaAllah sudah siap." kata Om Hadi.

"Gimana Allah aja, Om. Una belum planning kesana juga. Mungkin Hanif duluan Om menikahnya." ucapku pada Om Hadi.

"Jangan lupa ngundang ya Nif pas nikah nanti."ucapku. Beberapa minggu yang lalu aku melihat tweet dari Andin bahwa sebentar lagi dia akan dilamar.

Aku memperhatikan Hanif yang dari tadi tidak berkata sedikit pun. Sedangkan setelah itu aku disibukkan dengan Tania yang terbangun dan untungnya tidak menangis. Tania malah ikut mencairkan suasana malam ini. Terimakasih Tania sudah ikut tante malam ini.

* * * *

Pagi ini aku mendatangi rumah Hanif bersama Tania karena Anwar baru bisa menjemput Tania nanti sore. Ketika aku sampai di rumahnya, aku disambut oleh Mbak Vivi, kakaknya Hanif. orangtuanya sudah pergi ke kantor sedangkan Hanif baru bersiap-siap pergi.

"Hanif tuh sebetulnya inginnya sama kamu loh, Dek. Dia lebih dingin setelah perpisahan kalian dulu. Emang kalian kenapa sih, Dek?" tanya Mbak Vivi.

"Kita emang ga pernah punya status kok Mbak. Mungkin Hanif dingin karena lagi ada masalah aja kali, Mbak. Mungkin ada masalah sama kerjaan atau mungkin pacarnya gituu." ucapku

"Pacar? Emang Hanif punya pacar?" tanya Mbak Vivi.

"Una. Yuk." ucap Hanif

"Hanif, kamu udah punya pacar? Kok ga pernah cerita ke mbak?" tanya mbak vivi menuntut.

"Apasih, Mbak. Dah ah gue mau jalan dulu nih. Dah kaya keluarga kecil bahagia kan Mbak? Istri gue dan anak gue. Hahaha" ucap Hanif dan langsung ku injak kakinya.

Aku mengajaknya makan di KFC yang ada tempat bermain supaya Tania anteng bermain disana sambil ku awasi. Aku sengaja mengajaknya bertemu untuk memperjelas kejadian tadi malam. Karena aku tidak lagi menyimpan nomornya, akhirnya aku langsung mendatangi rumahnya.

"Kenapa bisa ada pertemuan tadi malem?" tanyaku pada Hanif.

"Gue gatau. Gue aja baru tau kalau mau dinner di luar. Ketemu keluarga lo lagi." jawabnya.

"Kenapa bahasan Om Hadi masih sama?" tanyaku menuntut

"Pesen makan dulu gih. Nih bayar pake ini aja. Gue mau main sama anak gue dulu. Emaknya lagi serem." ucap Hanif lalu meninggalkan aku sendiri.

Aku memesan makanan untuk kami bertiga. Aku membayar menggunakan uangku karena aku lupa tidak menanyakan pin transaksinya.

Ketika kembali ke tempatku lagi, aku melihat Tania seperti habis menangis dan sedang ditenangkan oleh Hanif.

"Tania kenapa?" tanyaku khawatir.

"Tuh perosotan. Duuhh atit. Hiks hiks." ucap Tania di tengah tangisnya.

"Ih Una. Jadi inget lagi kan dia."ucap Hanif kemudian berdiri menenangkan Tania.

Aku mengambil makananku sambil mengamati Hanif yanh begitu sabarnya menenagkan Tania sampai akhirnya Tania tertidur kelelahan menangis.

"Nih makan dulu, sini biar Una yang mangku Tania. Una udah beres makannya." Hanif memberikan Tania ke gendonganku secara perlahan biar ia tidak terbangun.

"Oh sayang sayang. Tidur lagi yaaa" ucap Hanif menepuk-nepuk Tania yang sudah dipangkuanku.

"Hati-hati, itu jari kelingkingnya sakit itu. Makanya ngacung terus kelingkingnya. Sama lututnya juga aga memar." ucap Hanif sambil mengelus-ngelus lutut Tania yang ada di pangkuanku.

"Oke. Hanif bisa duduk lagi." ucapku sedikit canggung menyadari posisi kami yang sudah seperti ayah dan ibu.

"Eh sorry." ucap Hanif sambil kembali ke tempat duduknya.

"Tadi Tania jatuh dari perosotan kelingkingnya kepelitek. Dia nangis tapi masih main sambil nangis. Eh dia jatuh lagi di ayunan. Lucu loh pas dia main ayunan sambil nangis, liat nih ekspresinya." jelasnya sambil bersemagat menunjukkan foto dari hpnya kepadaku.

"Liat deh ini juga lucu, ini juga. Tania cantik banget. Ntar anak gue juga bakal cantik kaya Tania." ucap Hanif sumringah kemudian ia memakan makanannya.

Aku menikmati momen ini yang ku rasa sangat bermakna untukku. Melihat kembali Hanif sedekat ini, melihatnya mengurus Tania yang sedih, mambuat hatiku menghangat.

"Gue belum menjelaskan ke Papah kalau gue udah punya pacar. Seperti yang lo liat, papah gue masih ingin lo yang jadi menantunya." ucapnya.

"Hanif ga bakal tau kalau Hanif belum nyoba. Bisa jadi papahmu bisa menerima Andin dengan baik." jawabku

"Susah, Una. Andin juga masih sibuk banget jadi dokter muda. Nanti kalau udah balik lagi ke ambarawa gue kenalin dia ke orangtua gue deh."

"Terserah Hanif. Una rasa itu bukan urusan Una. Yang penting Hanif jelaskan ke Om Hadi tentang kita yang benar-benar selesai. Dan Hanif sudah ada calon. Una udah menjelaskan ke Ayah. Ayah bilang tadi malam itu inisiatif Om Hadi. Ayah udah paham betul apa yang terjadi di antara kita. Jadi harapannya tolong Hanif pahamkan Om Hadi." kataku panjang lebar.

"Oke." jawabnya singkat.

Tak lama Tania terbangun dan tersenyum ke arahku.

"Halo princess. Selamat datang kembali ke dunia." ucap Hanif dengan ceria

"Om..om..om.." Tania mengangkat kedua tangannya ingin digendong Hanif.

"Om nya lagi makan sayang. Nanti yaa Om abisin dulu makannya, nanti baru Om gendong lagi. Nih Tania makan dulu yaaa. Tante tadi beliin sup krim buat Tania, mau ga? Disuapin tante Una mau ya?" kata Hanif.

Aku menyuapi Tania makan sup krim dan Hanif yang sudah menyelesaikan makannya mencuci tangan.

Hanif memangku Tania karena Tania keukeuh ingin dipangku oleh Hanif. Dan aku menyuapi Tania karena Hanif tidak pandai menyuapinya. Malah mengotori pakaian Tania.

"Bahagia banget ya Na bisa main sama Tania kaya gini. Apalagi kalau Tania beneran anak kita." ucap Hanif sambil mengelus kepala Tania.

"Your mouth, please. Inget udah ada Andin." ucapku. Entah perasaanku saja atau bagaimana seperti ada yang tidak baik pada hubungan mereka. Wajahnya sedikit meredup ketika aku ingatkan tentang Andin.

Hanif mengantar aku pulang karena Tania tidak ingin lepas dari Hanif. Bahkan ia tetap di pangkuan Hanif ketika Hanif sedang menyetir.

"Gapapa kok, Na. Ponakan gue juga suka nempel gini kalau gue lagi nyetir." katanya ketika aku khawatir Tania mengganggu Hanif ketika menyetir.

 * * * * *

 

Kembali ke Bagian 4 

Lanjut ke Bagian 6 

Komentar