Tema : Perjodohan
Genre : Romantis, Islamic
Dibuat : 11 Januari 2021
Jumlah Kata : 3585 kata
Bagian 3
Tiga tahun kami lewati dengan jarak yang cukup jauh, dengan komunikasi yang sulit dijalin. Kami luput mempertimbangkan bahwa di pesantren tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi. Dan penggunaan handphone asrama pun sangat dibatasi.
Awalnya kami bisa berkomunikasi melalui handphone satu minggu satu kali, tapi sialnya aku sempat lupa menghapus pesan yang dikirim oleh Hanif dan ini menimbulkan kecurigaan pihak asrama.
"Panggilan kepada Hunaifah ditunggu di kantor asrama sekarang." panggilan dari TOA asrama.
"Assalamu'alaikum, Umi.."
"Wa'alaikumussalam, Una. Sini Nak duduk di depan umi." kata Umi Aisyah dan aku pun menurut. Aku mendekatinya dengan kepala menunduk.
"Kenapa menunduk gitu, Una?" tanya umi aisyah.
"Una ada salah umi?" tanyaku.
"Una merasa membuat kesalahan?" tanya balik umi.
"Kesalahan pasti ada, Umi. Tapi una gatau kesalahan apa yang menyebabkan Una dipanggil Umi begini."
"Coba Una sebutkan kesalahan-kesalahan Una."
"Masa gitu, Umi. Sama saja membuka aib kalau begitu Umi." jawabku ngeles.
"Kalau tentang penggunaan hp asrama bagaimana, Una?"
"Oh afwan umi. Una belum terbiasa untuk memutus komunikasi dengan teman-teman. Afwan umi."
"Siapa Hanif?"
"Teman Una, umi. Anaknya teman ayah." kataku tanpa berbohong.
"Umi lihat una sering teleponan dan bertukar pesan dengan laki-laki ini. Tapi hanya teman ya?" tanya umi.
Akhirnya aku ceritakan semua tentang aku dan Hanif tanpa ada yang aku tutup-tutupi. Karena aku rasa memang tidak ada hal yang salah dengan kami berdua. Masih sesuai syari'at. Kami tidak pernah berduaan, bahkan pegangan tangan pun kami tidak pernah.
"Oh umi paham. Tapi apa Una sadar dengan kalian teleponan berdua pun sudah termasuk khalwat? Apa bedanya dengan ngobrol berdua secara langsung di tempat yang sepi?"
"Astaghfirullah, umi. Una ga kepikiran kesana. Afwan umi." jawabku menyesal.
"Una, umi tau una ini orangnya sangat hanif. Eh maksud umi Una ini orangnya sangat baik, penurut, takut sama Allah. Jadi harapan umi, tolong selesaikan dan luruskan hubungan kalian. Jika memang perlu kalian bisa menikah sekarang. Tapi setelah menikah kalian LDR. Daripada terus zina seperti ini." Ucap Umi Aisyah.
"Rasanya untuk menikah waktunya belum tepat umi. Dan di luar desain kami juga. Sepertinya una akan ambil opsi pertama untuk menyelesaikan hubungan una dengan Hanif. Untuk perjodohan Una gabisa mengelak Umi. Tapi Una janji, una ga akan hubungi Hanif lagi selama Una di asrama, Umi." jelasku.
Kami benar-benar tidak menyangka di tahun pertama ku sekolah disini kami dihadapi ujian untuk tidak bisa berkomunikasi.
Aku menceritakan masalah yang ku hadapi hari ini kepada ayah dan bunda. Mereka paham dan mereka akan menjelaskan tentang hal ini kepada Hanif.
* * * * *
"Unaaaaa. Kamu kenapa sayang? Kok bisa dipanggil umi aisyah?" tanya Kiki teman kamarku.
"Masalah hp asrama, Ki. Ingin pindah sekolah aja rasanya aku, Ki. Hiks.. Hiks.." ucapku dan langsung menangis.
Aku sudah tidak tahan ingin menangis sejak di kantor asrama tadi. Ketika menelepon ayah bunda pun rasanya ingin menangis, tapi aku takut merepotkan. Dulu pernah aku menelepon bunda bilang kalau aku kangen rumah, aku ga betah disini. Dan beberapa jam kemudian ayah bunda mendatangiku ke Yogya.
"Sabar yaa Una. Allah kasih ujian itu sesuai sama kadar kesanggupan hamba-Nya kok. Tugas kita adalah bersabar dan bersyukur. Bersabar ketika kita mendapatkan ujian supaya kita bisa lulus dari ujian itu sehingga bertambahlah derajat kita disisi Allah. Bersyukur ketika kita mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan supaya Allah tidak mencabut atas kebahagiaan yang kita miliki. Apa yang kamu khawatirkan, Unaa?" Ucap Kiki sambil memegang tanganku menenangkan.
"Una takut masa depan yang sudah una desain, tidak sesuai dengan realitanya. Mimpi yang sudah una bangun dan susun seakan hancur gitu aja."
"Say, berdoa sama Allah. Minta yang terbaik sama Allah. Setiap kita udah punya rejeki dan jodohnya masing-masing. Tugas kita adalah menjadi sebaik-baik hamba. Menjemput rejeki pada kesempatannya dan menjemput jodoh pada kesempatannya. Sadar ga si, kalau kita masuk sekolah ini pun rejeki? Kita harus bersyukur dan mengoptimalkan diri kita disini. Sebentar lagi udah mau desember 2012 loh say." ucap Kiki mengingatkan tentang kiamat 2012 yang menjadi alasanku masuk ke sekolah ini.
"Hahaha iya, sebentar lagi kiamat." ucapku merespon ledekan Kiki. Kami pun tertawa bersama.
"Ki, satu hal lagi yang una takutkan. Una takut kehilangan temen luar biasa seperti Kiki. Peluk siniii." ucapku dan kami pun berpelukan.
"Jangan menitipkan kebahagiaan kita sama makhluk. Titipkan semuanya sama Allah."
* * * * *
Hanif POV
Gue bersekolah di SMAN 3 Bandung. Ini membuat gue dan Una sangat berjauhan. Gue cuma bisa hubungi dia kalau dia udah sms gue dan terkadang waktunya ga pas sama jadwal gue. Komunikasi kita merenggang. Terlebih lagi setelah Om Darmawan menceritakan kesulitan Una di asrama karena berhubungan denganku.
Kadang gue ngerasa kangen banget sama Una dan gue gatau gimana caranya tuntaskan rasa kangen ini. Gue sama sekali ga punya foto dia. Semua foto di media sosialnya juga dia hapus. Ingetin gue buat take foto nanti pas silaturahmi keluarga.
"Hanif. Lo sekolah disini juga?" ucap Andin.
"Iya. Lo baru sadar?" jawabku. Aku memang sudah menyadari bahwa aku dan Andin satu sekolah lagi ketika hari pertama dia datang terlambat.
"Ya ampun, udah mau setahun dan gue baru sadar kita satu sekolah."
"Gue ikut basket. Segitu gedenya lapangan masa lo ga pernah liat kalau gue main." ucapku
"Oke gue yang salah. Gue yang kurang gaul."
"Ga ada yang salah kok. Ga penting juga. Udah ya gue balik dulu" gue pun langsung berlari mengendarai besi roda dua ku kembali ke rumah putih nan sederhana di jalan riau.
Sesampainya di rumah, gue rebahkan badan gue dan memikirkan tentang kita. Banyak kekhawatiran melintas di pikiran gue.
Yah sebentar lagi juga liburan. Artinya kita bisa ketemu di liburan ini.
* * * *
Hanif POV
"Wa'alaikumussalam, Bunda. Gimana bunda? Kapan Una pulang?" tanya gue ketika bundanya Una menelepon.
"Maaf Nak Hanif. Una liburan ini ga pulang, mau ambil program takhosus satu minggu katanya." ucap bunda yang bikin gue hmm kecewa
"Takhosus, bunda?" tanya gue tidak paham.
"Iya program percepatan nambah hafalan alquran gitu, Nak Hanif. Satu minggu. Kemudian satu minggu selanjutnya Una jadi panitia ospek di santri baru di pesantrennya."
"Bunda, Hanif kangen Una. Gabisa ya kalau Hanif ketemu Una, bunda?" tanya gue.
"Nak Hanif sudah di Ambarawa? Bunda dan om darmawan akan ke pesantrennya Una untuk pengambilan raport besok. Kalau mau Nak Hanif ikut saja."
"Kalau gitu, Hanif ambil pesawat pertama besok pagi ke Yogya, bunda. Hanif langsung ke Yogya aja." ucap gue cepat. Padahal besok ada jadwal tanding basket antar SMA. Biarlah itu urusan nanti. Ini lebih penting.
"Boleh. Nanti jam 7 bunda jemput di bandara adi sucipto saja ya." ucap bunda dan bikin gue berpikir.
"Baik bunda. Terimakasih."
Kami pun mengakhiri percakapan kami. Gue langsung mengecek jadwal penerbangan dan paling pagi yang tersisa hanya ada jam tiba pukul 10 saja. Paling gue bisa ambil pesawat malam ini lalu gue bermalam di bandara. Ya seperti itu saja.
Gue langsung memesan tiket pesawat penerbangan jam 9 malam. Kemudian berkemas seperlunya. Gue langsung pamit sama aki nini dan amang. Awalnya mereka bertanya-tanya mengapa mendadak. Tapi gue bilang aja mau menjemput calon istri. Aki langsung menjitak pala gue dibilang gue anak sableng. Tapi amang paham maksud gue.
Gue sampai di bandara adi sucipto pukul 2 dini hari. Tadi pesawat sempat delay beberapa jam tapi tetap saja terlalu cepat untuk tiba di Yogyakarta.
Gue mencari tempat nyaman untuk gue rebahan menghilangkan lelah. Kemarin gue latihan basket sampai maghrib untuk persiapan tanding hari ini.
"Kak, sorry gue gabisa ikut tanding hari ini. Gue ada urusan mendadak ke jogja kak. Sekarang gue udah di jogja kemungkinan langsung balik ke Ambarawa. Gue gatau kapan balik Bandung lagi, Kak. Sorry, Love All." ketik gue ke kapten tim dan ke pelatih gue. Gue yakin ga semudah itu untuk izin dan mungkin gue harus siap-siap kena hukuman ketika balik nanti.
Pukul 7 gue nunggu bunda di terminal masuk bandara. Sebelumnya gue udah mandi dan bersih-bersih. Pokoknya udah dalam keadaan bersiap, rapi, wangi, dan tampan. Iyalah mau ketemu calon istri dan mertua. Tak lama bunda pun datang.
"Nyampe jam berapa tadi, Hanif? Udah sarapan." tanya Om Darmawan.
"Udah om. Tadi nyampe jam 2 Om, ambil pesawat jam 9 tapi delay jadi baru sampe jam 2."
"Wah masih gelap itu. Perjuangan menepis rindu ya Nak?" ucap Om Darmawan dan kami pun tertawa.
Sesampainya di sekolah Una kami menepi di sebuah rumah di dalam pesantren tersebut. Gue aga ga paham sebetulnya, ngambil raportnya kok disini.
"Ini rumah wali kelas Una. Karena ketika pembagian raport kami gabisa hadir, jadi kami menyusul dan langsung ke rumah wali kelasnya." jelas bunda seakan tahu kebingunganku.
Hanif POV End
"Kepada Hunaifah ditunggu di rumah umi aisyah sekarang. Orangtuanya sudah menunggu." ucao TOA asrama.
Aku pun langsung berlari menuju rumah umi. Rinduku sudah amat sangat untuk bertemu ayah bunda. Lima bulan kami tidak bertemu.
"Assalamu'alaikum ayaaahh bundaaaa." aku langsung berhambur memeluk ayah kemudian bunda.
Aku pun kaget dengan sosok di samping bunda.
"Hai, assalamu'alaikum sholehah. Apa kabar?" ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku yang membuatku kaget.
Aku memperhatikan ekspresi umi aisyah yang tidak berubah melihat interaksi ku dengan Hanif.
"Wa'alaikumussalam, Mas.
Alhamdulillah baik."
Jawabku kemudian aku salam kepada umi aisyah.
"Bagaimana Una di sekolah, Umi?" tanya bundaku.
"Baik sekali, Bun. Akademiknya bagus, dia peringkat pertama paralel ikhwan akhwat. Perkembangan tajfidznya juga bagus, semester ini dia menambah hafalan 3 juz jadi totalnya sudah 4 juz ya Una?"
"Iya, umi."
"Ditambah takhosus sekarang mungkin Una bisa menambah dua juz jadi total 6 juz."
"Tadi pagi Una sudah selesaikan juz 1 nya, Umi."
"Wah masyaaAllah. 2 hari dua juz? Berarti mungkin takhosus ini Una bisa dapat empat sampai lima juz. MasyaaAllah. Oia, Una juga masuk ke tim olimpiade matematika tapi untuk tahun ini Una baru diikutsertakan lomba cerdas cermat saja, untuk ikut olimpiade insyaaAllah disiapkan untuk tahun depan."
"Alhamdulillah, terimakasih bimbingannya Umi. Tidak salah Una memilih sekolah ini. Dia benar-benar berkembang."
"Kamu hebat, Una." ucap Hanif yang hampir aku lupa kehadirannya dan ini membuatku kembali tegang.
"Sama-sama, Bund. Oh iya kebetulan saya juga ketua asrama putri, Bun. Ada yang ingin saya bicarakan terkait Una." Ucap Umi yang aku tahu arahnya kemana.
"Umi.." ucapku meminta umi menghentikan.
"Tidak apa-apa Una. Umi hanya ingin memberi pandangan."
"Umi beberapa kali melihat Una bersedih ketika menggunakan hp asrama. Tapi terkadang ia terlihat sangat bahagia. Umi tidak sengaja melihat pertukaran pesan antara Una dan seorang laki-laki yang menurut Umi di luar batas wajar untuk sekedar dikatakan teman. Dan ini melanggar peraturan asrama karena menghubungi laki-laki yang belum menjadi mahromnya. Awalnya kami mau memberikan surat peringatan kepada Una. Tapi karena Una menjamin dirinya tidak akan berkomunikasi selama di asrama dan dia jujur menceritakannya, kami beri keringan dia untuk membangunkan santri setiap waktu tahajud dan mengecek santri sudah tidur di malam hari selama sebulan." ucap Umi Aisyah. Aku mencoba mengangkat kepalku dan melihat Hanif yang menatapku haru. Ia seakan menahan air matanya.
"Umi sarankan sebaiknya Una dinikahkan saja. Tidak apa-apa kok. Menikah sambil sekolah. Hanya saja mungkin LDR dulu. Khawatir malah zina, Bun."
"Terimakasih Umi atas masukannya. Memang betul Una ini kami jodohkan dengan anak teman suami saya. Tapi hubungan mereka sangat kami pantau, Umi. Kemarin Una sudah cerita juga walaupun kami baru tau dia sampai dapat hukuman. Dan insyaaAllah laki-lakinya juga memahami posisi Una."
"Laki-lakinya mau untuk menikah segera, Bun?" tanya umi Aisyah. Aku pun kaget. Apakah ini maksud kedatangan Hanif kesini.
"Bagaimana, Hanif? Kamu siap menikahi Una sekarang?" tanya ayahku dan umi aisyah pun kaget.
"Oh ini Nak Hanif? Afwan saya kira kakaknya Una." ucap Umi Aisyah.
"Iya Um. Setelah tahu Una tidak pulang liburan ini, Hanif langsung terbang kesini dari Bandung supaya bisa ikut hari ini. Gimana, Nak Hanif?" tanya bunda
"Bunda, Hanif belum tau. Kita masih kelas 1 SMA. Hanif juga belum punya penghasilan, Bun. Hanif mau menikah sama Una tapi ga sekarang, Bunda." ucap Hanif.
"Biarlah Um. Namanya juga masih anak-anak. Dan dalam keluarga kami tidak ada riwayat menikahkan anak masih SMA. Malah khawatir nanti dikira anak kami ngelakuin macem-macem makanya cepet-cepet dinikahkan." ucap bunda.
"Yasudah tidak apa-apa. Yang penting Umi tetap pegang janji Una ya?"
"Siap, Umi."
"Nak Hanif juga tolong paham yaaa. InsyaaAllah kalau Una ini jodoh Hanif, Allah akan persatukan kalian di waktu yang tepat sejauh apapun jarak kalian. Dan kalau kalian tidak berjodoh, Allah memiliki skenario terbaiknya. Yang penting terus memantaskan diri menjadi sebaik-baik hamba Allah."
"Iya umi. Makasih umi sarannya."
"Loh ini bukan saran loh." ucap umi yang membuat kami menoleh semua pada umi, "perintah" umi pun tertawa yanh diikuti oleh tawa ayah dan bunda.
* * * *
Dua tahun kami lewati masing-masing. Jarang sekali kami bertukar kabar. Pertemuan kami hanya sekedar ketika kami liburan saja. Tapi untuk ku itu sudah cukup mengisi daya untuk menahan rinduku beberapa bulan ke depan.
Mungkin aku tidak benar-benar menepati janjiku kepada umi aisyah. Karena nyatanya ketika liburan aku masih suka ngobrol berdua dengan Hanif. Hanya Hanif saja lelaki yang tidak bisa aku jauhi.
Keluarga kami masih pada kebiasaannya. Saling berkunjung ke rumah calon besan katanya. Semakin lama aku semakin mantap untuk merangkai masa depan bersama Hanif. Ketika liburan kelas tiga semester ganjil aku pernah menanyakan rencana hubungan kami.
"Kira-kira kapan ya Mas kita akan dinikahkan?" tanyaku.
"Apaan masa dinikahkan? Kaya dipaksa gitu nikahnya. Nikah tuh jangan ada unsur keterpaksaan. Tapi harus sadar, sudah siap lahir batin melangkah kesana."
"Kira-kira kapan Mas siap ngelangkah kesana?" tanyaku pada Hanif.
"Hmmm ntar ya gue ngitung dulu. Kalau lo kapan?"
"Kalau Mas Hanif ngajak Una abis lulus SMA langsung nikah juga Una siap." ucapku dan membuat Hanif yang sedang minum tersedak.
"Ih hati-hati Mas Hanif." ucapku
"Gue belum siap. Gue mau punya pekerjaan yang pantas dulu baru gue ngelamar lo." ucap Hanif yang jujur membuatku kecewa.
"Oh gitu, okay. Una sabar-sabar deh kalau gitu."
Aku sadar bahwa keterikatan aku pada Hanif semakin erat. Aku khawatir jika kita akan semakin dekat, maka dari itu aku ingin segera menghalalkan ikatan yang masih belum jelas ini.
"Atau mau tunangan dulu?" tanya Hanif.
"Dih apaan tunangan terus nikahnya masih sekian tahun. Mending Una cari ustad yang mau segera halalin Una aja dah."
"Unaaa !!"
"Hehehe Una ngikut Mas Hanif aja. Una tunggu." ucapku lalu tersenyum menatap mata Hanif.
"Astaghfirullah..." ucapku tak sadar dan langsung meninggalkan Hanif.
* * * *
Persiapan memburu kampus idaman pun dimulai. Hanif sudah lebih dulu diterima di STEI ITB melalui jalur undangan. Kata Hanif masuk ke ITB udah kaya mindahin sekolah karena saking banyaknya anak SMAN 3 Bandung yang masuk sana. Sedangkan sekolahku? Lulusan saja masih sedikit. Aku lulusan ke empat. Mendapatkan PTN dari jalur undangan adalah hal yang sangat sulit untuk sekolahku. Maka dari itu pertarungan kami adalah melalui jalur tulis.
Kami sibuk masing-masing. Hanif sibuk melatih basket menyiapkan para juniornya untuk ikut kejuaraan. Sedangkan aku sibuk dril soal setiap harinya. Banyak kampus yang ku ikuti tes nya salah satunya adalah ITB.
Aku pergi ke rumah kakek di Bandung. Aku akan mengikuti tes di ITB. Aku diantar oleh Mas Alif untuk tes ke ITB dan diajak jalan-jalan ke beberapa tempat di Bandung.
"Ini namanya punclut, Na. Kalau Mas lagi mumet sama tugas kuliah, Mas suka ngadem disini sendirian." ucap Mas Alif, mahasiswa UNPAD tingkat 3.
"Iya sih Mas. Adem banget dan indah. Bikin otak jadi fresh." ucapku.
"Tes kemana lagi abis ini, Na?" tanya nya.
"Banyak, Mas. STIS, STAN, UGM, UNY, UNS. Udah deh kayanya."
"Ga nyoba UI Na?"
"Panas, Mas. STIS sama STAN aja cadangan itu, Mas." ucapku
"Gila bener adik Mas ini. Masa STIS sama STAN dijadiin cadangan." ucap mas Alif sambil menyentil dahiku.
"Pulang jam berapa besok?" tanya Mas Alif.
"Ambil pesawat jam 7 ke Semarang."
"Oke kalau gitu yuk pulang, eh tunggu. Kamu ga ada nemui Hanif, Na? Dia lagi di Bandung kan?" tanya Mas Alif.
"Oh iya. Coba Una telepon deh kali aja bisa ketemu bentar malem ini." ucapnya.
* * * *
Hanif mengatakan bahwa dia sedang ada pertandingan basket di GOR Citra. Dia belum tahu bahwa aku sedang berada di Bandung. Aku berencana akan memberinya kejutan.
"Tuh Hanif, Na." tunjuk Mas Alif ke orang yang sedang memberikan pengarahan kepada pemain.
Aku memperhatikan Hanif dari podium. Biarlah nanti saja setelah Hanif selesai aku akan mendatanginya.
Hanif begitu semangat memberikan arahan kepada para juniornya. Mukanya terlihat bersinar seakan memberi tahu pada semesta bahwa basket adalah bagian dari hidupnya. Aku baru pertama kali melihat Hanif se bergairah ini dalam olahraga.
"Cakep ya, Na? Katanya laki-laki kalau lagi olahraga tingkat ketampanannya meningkat drastis." ucap Mas Alif.
"Mas ah, Mas?"
"Bener. Jadi kenapa laki-laki dan perempuan ga boleh berdekatan karena ada hormon namanya feromon. Kalau feromon antara laki-laki dan perempuan itu cocok akan muncul keinginan untuk melakukan kontak fisik. Naudzubulillah kalau kontak fisiknya sampe yang ngga ngga. Daan laki-laki itu paling banyak produksi feromonnya ya ketika olahraga lewat keringat itu. Jangan sampe kecipratan keringetnya, Na."
"Hahaha apaan sih Mas. Serem juga yaa."
"Minta cepet dihalalin gih."
"Ya gitu Mas. Mau lulus kuliah terus dapet kerja yang bener dulu katanya baru mau ngelamar."
Pertandingan pun selesai. SMAN 3 Bandung memenangkan pertandingan dan para suporter turun ke lapangan.
Ketika aku mau menghampirinya, aku terhenti karena melihat seorang perempuan memberikan air minum kepada Hanif dan mengelap keringat di muka Hanif menggunakan handuk. Hanif pun terlihat mengucapkan sesuatu sambil mengelus puncak kepala wanita berkerudung itu.
Aku kaget melihat interaksi itu. Bagaimana pun dilihat interaksi mereka tidak wajar jika tidak ada hubungan apa-apa. Aku marah, aku kesal, aku langsung mengajak Mas Alif pulang.
"Hanif !!" teriak Mas Alif
* * * *
16 Juli 2014 aku dinyatakan lulus di pendidikan matematika UNS. Kampus idamanku sedari dulu. Aku ingin menjadi guru matematika. Aku kabarkan kepada ayah bunda yang sangat senang mendengar kelulusanku ini.
Dua hari kemudian aku mendapat pengumuman kembali bahwa aku lulus di FMIPA ITB. Kampus yang sama dengan Hanif.
"Wih selamat ya Na. Lulus nih di ITB. Congrats." chat dari Andre pada akun Facebook ku.
"Makasih ya, Ndre. Kamu gimana?" tanyaku.
"Jogja gue. Gue di UII. Deketan lah kita." jawabnya.
"Eh lo masih pacaran sama Hanif? Dia kan di ITB juga. Cieee." katanya
"Apasih Ndre. Kita ga pernah pacaran kok. Kita temenan aja." balasku
"Yaahh. Kirain masih awet." katanya
"Hehehe" balasku.
Aku bingung mau membalas apa. Aku pun bingung ingin mengambil yang mana. Tak lama Hanif meneleponku.
"Una lo lulus di ITB? Congrats. Mungkin ini jalan Allah buat persatukan kita lagi, Na." ucapnya.
"Iya, Mas. Di FMIPA."
"Lo ambil kan? Lo ambil aja. Biar kita satu kampus. Biar nanti gue bisa jagain lo." katanya.
"Una pertimbangkan dulu ya, Mas. Una juga keterima di UNS sesuai keinginan Una."
"Udah ITB aja biar sama gue."
"Gimana nanti ya, Mas. Una tutup yaa Una capek mau istirahat." ucapku langsung menutup sambungan telepon.
Pendidikan matematika UNS adalah keinginanku sejak dulu. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Selain itu ada rumah quran yang bisa kuikuti untuk aku bisa menyelesaikan hafalanku yang tinggal beberapa juz ini. Sedangkan ITB?
ITB adalah kampus idaman ayah dan juga Hanif. Dulu ayah ingin sekali Mas Alif masuk ITB tapi tidak lulus dan malah kuliah di UNPAD. Kalau aku di ITB aku belum jelas akan bisa masuk jurusan matematika atau malah jurusan lainnya. Dan aku khawatir jika aku kuliah di ITB, aku akan terlalu sering bertemu atau berduaan dengan Hanif.
Setelah percakapanku tentang pernikahan dulu, sepertinya Hanif masih lama akan melamarku. Dan ini pertanda yang tidak baik. Seakan terikat padahal ikatan itu tidak ada. Aku harus menjaga jarak dengan Hanif. Biarlah Allah menunjukkan jalan Nya. Seperti yang umi aisyah katakan. Jika kami berjodoh, kami akan dipersatukan di waktu yang tepat dan jika kami tidak berjodoh akan ada yang lain yang lebih baik.
Bismillah UNS.
Sebulan kemudian kami sibuk mempersiapkan peralatan untuk berpindah status menjadi mahasiswa. Aku sudah stay di Solo di kosan ku yang baru. Kosan yang dihuni oleh para kakak-kakak LDK. Kosan rekomendasi dari Umi Aisyah.
"Bismillah untuk empat tahun ke depan" ketikku sebagai caption menghiasi foto kosan baruku. Tak lupa aku sertakan location Solo.
Tak lama Hanif meneleponku.
"Una lo jadinya ambil UNS?" katanya
"Iya Hanif." kataku
"Hanif?" tanyanya
"Kenapa?" tanyaku
"Mana mas nya?" tanya nya lagi.
"Eh iya Mas Hanif."
"Kenapa ITB nya ga diambil? Kok lo ga ada cerita ke gue sih? Sadar ga sih Na ini mungkin cara Allah buat persatukan kita lagi Na. Kita bisa barengan tiap hari. Kita bisa ngerjain soal bareng lagi tiap hari. Kita bisa saling nyemangatin lagi. Kita bisa jalan berdua menelusuri tempat-tempat indah di Bandung. Sadar ga sih ini kesempatan buat kita. Kenapa lo malah ambil UNS?" tanya nya mengintimidasiku.
"Udah, Hanif?" tanyaku berusaha lembut
"Mas Hanif." dengan nada arogannya.
"Aku ngambil UNS karena ini impian aku. Aku ingin jadi guru matematika kalau kamu lupa. Dan UNS ini kampus impian aku kalau kamu lupa. Di UNS juga bisa menunjang impian aku untuk selesaikan hafalan alquran aku. Persatukan kita lagi? Heuh emang kita pernah bersatu? Hubungan kita aja ga jelas kan dibilang apa. Jalan berdua? Kayanya Hanif yang aku kenal gamau tuh ngajak cewek jalan berdua. Kamu takut aku bakal ngelirik cowok lain? Yang ada kamu harus ngejaga itu mata sama tangan dari cewek lain. Eh aku lupa, aku ga ada hak ya? Karena kita ga ada hubungan yang bisa didefinisikan kan? Kecuali teman. Aku capek mau istirahat. Assalamu'alaikum." Mas Alif yang mendengar umpatanku mendekatiku lalu memelukku.
"Sabar ya Na. Udah biarin aja itu Hanif. Biar dia mikir kena marah adik Mas ini." ucap Mas Alif.
"Hiks.. Hiks.. Keputusan Una udah bener kan Mas?" tanyaku mencari dukungan.
"Iya kok. Keputusan Una udah keputusan terbaik." jawab Mas Alif.
"Mas, makasih ya. Mas anget sekarang. Udah ga sedingin dulu." jawabku tertawa dengan air mata yang masih mengalir dan hidung yang aga mampet.
"Jitak nih." kami pun tertawa
"Oia Na. Itu Mba Annisa yang tadi nyambut kita cantik juga ya Na. Ayu tenan. Kenalin ke Mas dong Na." kata Mas Alif modus.
"Hih, Una aja belum kenal gimana sih. Ngaji dulu yang bener baru deketin anak orang." kataku jutek.
* * * * *
Komentar
Posting Komentar