Langsung ke konten utama

Perjodohan Sejak SMP 6/7

Tema              :  Perjodohan

Genre             : Romantis, Islamic

Dibuat            : 11 Januari 2021

Jumlah Kata   : 2784 kata

 

Bagian 6

Untuk ke sekian kalinya aku kembali berada di hadapan bangunan ini. Bangunan yang menyambutku sebagai mahasiswa baru, bangunan yang menjadi saksi perjuanganku ketika hectic dengan kegiatan BEM, dan bangunan yang melepaskan statusku sebagai mahasiswa. Aku kembali lagi kesini tapi saat ini akulah yang turut menjadi saksi atas pencapaian seseorang.

Aku ditemani oleh Mas Alif dan Mbak Nisa yang tengah hamil. Kami menghadiri sumpah dokter Anwar. Sebulan yang lalu Anwar mengkhitbahku dan dua bulan lagi kami akan menikah.

Saat itu aku sedang menamani Mbak Nisa di rumah mereka karena Mas Alif harus dinas beberapa hari. Ustadzah Rina, murobbiahku, tiba-tiba menghubungi bahwa ada ikhwan yang berniat mengajakku taaruf. Tanpa istikharah atau apapun aku mengiyakan. Karena aku sudah berniat jika ada CV yang masuk padaku, aku akan coba berproses.

"Cara cepat untuk move on ya dengan menghadirkan cinta yang baru, Dek." begitu kata Mbak Nisa.

Aku langsung membuka CV yang murobbiahku kirimkan dan ternyata orangnya adalah lelaki yang pernah mengisi hatiku untuk pertama kali. Bisa dibilang cintabpertamaku atau cinta monyetku ya? Hehe

"Mbak udah mengira loh. Anwar itu beda dek kalau ngobrol sama kamu dan ngobrol sama akhwat yang lain. Sama kamu dia baik, tapi kalau sama akhwat yang lain, dih deek jutek banget. Dingin kayak Mas mu." ucapnya kemudian kami tertawa.

"Tapi, Mbak. Gimana sama penilaian orang-orang kalau Una nanti menikah sama Anwar? Mereka kan menganggap bahwa kita ada hubungan khusus ketika di kampus dulu. Padahal Una ga ada hati sama sekali ke dia." jawabku.

"Kamunya si ga ada hati karena masih nyantol sama yang ono toh? Tapi Anwar kan beda. Mbak yakin dia udah suka sama kamu dari dulu." jawab Mbak Nisa.

"Terus gimana, Mbak?"

"Istikharah, Dek." jawab Mbak Nisa singkat.

Setelah satu bulan proses kita, akhirnya kami memutuskan untuk khitbah. Ketika proses pun aku menyampaikan kegelisahanku atas penilaian orang-orang.

"Itu kan dulu, sudah sekian tahun yang lalu. Toh kamu memang tidak menaruh perasaan sama Anwar toh?" tanya ustadzah Rina.

"Tidak Umi. Bang Anwar Una anggap kakaknya Una karena sudah saking dekatnya kita semasa SMP. Dan ketika kuliah pun kita jarang sekali berjumpa di luar forum.

"Tapi sejujurnya ana sudah menaruh hati sejak lama kepada Una, Umi." ucap Anwar mengaku.

"Mungkin sejak SMP ana sudah menaruh hati, umi. Ana sudah berusaha untuk menghilangkannya namun sulit umi. Maka dari itu ana lebih memilih meminimalkan pertemuan-pertemuan kami di kampus, khawatir ana khilaf. Beberapa kali ana diminta beramanah di kampus dan akan sering berinteraksi dengan Una di kampus, namun ana menolak umi. Ana khawatir berbalut amanah, ana malah terjerumus ke hal yang tidak baik. Namun sekarang ana meyakinkan diri umi untuk menepis jarak-jarak yang ana buat." jelas Anwar panjang lebar.

Tentu aku begitu terharu. Mungkin karena Anwar yang menjaga sehingga tidak membuat aku menaruh hati padanya. Padahal setiap pertemuan kami seringkali pembahasannya begitu membahas hal pribadi. Namun setelah pertemuan itu Anwar akan menghilang seakan tidak ada nama Anwar di kampus ini.

"MasyaaAllah. Una antum ga sadar kalau Anwar suka?" tanya Umi.

"Tidak, Umi. Anwar sering menghilang kalau sudah bertemu Una. Una juga baru tau sekarang ini. Padahal pas SMP Una loh umi yang ngejar-ngejar Anwar. Hehehe dulu umi pas zaman-zaman jahiliyah." ucapku.

Begitulah pertemuanku dengan Anwar yang membuka perasaan Anwar yang terpendam selama ini. Tapi ada satu hal yang masih menjadi masalahku ketika Anwar mempertanyakan hatiku.

"Afwan, una. Apakah ada perihal hati yang masih belum terselesaikan?" tanya Anwar.

"Mohon bantuannya, Anwar. InsyaaAllah ini salah satu ikhtiar mengalihkan hati." jawabku.

Ustadzah Rina belum megetahui tentang kisahku dengan Hanif. Namun ia tidak pernah mengorek lebih dalam. Ustadzah rina hanya tahu bahwa aku pernah dijodohkan oleh orangtua dalam waktu yang cukup lama.

Sekarang disinilah aku. Menyambut Anwar yang hari ini sudah resmi menjadi dokter. Aku bertemu lagi dengan keluarga Anwar untuk kedua kalinya. Tak lupa Tania pun ikut di hari bahagia ini.

"Tanteeee..." ucapnya berlari memelukku.

"Halo sayang. Makin pinter aja ngomongnya." ucapku.

"Ini bunga untuk Tania ya, Tanteee?" tanya Tania. Interaksi kami pun menjadi pusat perhatian keluarga Anwar.

"Iya ini tante bawa buat Tania. Tapi ada syaratnya." ucapku

"Setelah tante kasih bunganya ke Tania, Tania harus kasih bunga ini ke Om Anwar ya? Oke." jelasku

"Yaahh. Ini kan bunga Tania." ucapnya kecewa.

"Tania kan belum siapkan bunga untuk Om Anwar? Nah jadi Tania harus kasih bunganya ke Om Anwar. Nanti tante janji beliin Tania figure princess." ucapku.

"Oke tanteeee." akhirnya aku memberikan bunga kepada Tania dan Tania memberikan kepada Anwar.

Anwar menerima bunganya kemudian menggendong Tania dan menciumnya sebagai ucapan terimakasih.

Ia pun melihat ke arahku dan berkata pelan "Makasih ya" aku bisa mengerti dari gerakan bibirnya yang begitu jelas.

* * * * *

Hari ini kami akan fiksasi gedung pernikahan dan pakaian pengantin. Aku pergi ditemani oleh keluarga ku dan Anwar akan menunggu disana di butik tempat kami memesan pakaian kami. Sebelum berangkat terlihat Hanif datang ke rumah namun karena kami sudah bersiap di mobil Hanif hanya berbincang dengan ayah di luar pagar dan memberikan ayah sesuatu.

"Una, Hanif itu beda sehari loh pernikahannya sama kamu. Dia udah bagikan undangan. Kapan kalian rencana bagikan undangan?" tanya ayah ketika kami di dalam mobil.

"Oia ayah? Hanif mau menikah?" tanyaku.

"Iya, nih di gedung yang sama kaya kamu. Kamu sabtu pagi, dia minggu malam." ucap ayah sambil menunjukkan undangan pernikahan Hanif.

"Nanti Una obrolin sama Bang Anwar deh." ucapku.

Entah kenapa melihat undangan biru bercampur pink ini mengingatkan aku dengan obrolanku dengan Hanif terkait pernikahan. Ah tidak mungkin kan kalau aku masih membayang bayangi Hanif. Udah empat tahun yang lalu kita tidak saling berhubungan.

Kami pun sampai di butik tempat kami memesan gaun dan pakaian keluarga. Kami sedang fitting kedua. Ketika aku dan Anwar selesai fitting, Anwar mendekatiku.

"Una, aku buka grup SMA. Hanif dan Andin kecelakaan." ucap Anwar dan membuatku lemas akhirnya terjatuh.

"Una kenapa sayang?" tanya bunda.

"Anwar kecelakaan, bunda." jawab Anwar.

"Antar Una kesana. Ayok, Anwar antar Una kesana. Una takut Hanif kenapa kenapa." ucapku bahkan tak dasar menarik lengan Anwar.

"Ayok Hanif, cepeett." ucapku dan baru sadar aku memegang tangan Anwar.

"Maaf.. Hiks.. Hiks.. " ucapku melepas tangan Anwar dan menyandarkan diri ke dinding berusaha mencari tumpuan.

* * * * *

"Mamaahh." ucapku kepada mamahnya Hanif setibanya aku di depan ruang operasi.

"Hanif gimana keadaannya, Mah?" tanyaku.

"Ini gara-gara kamu, Una. Gara-gara kamu Hanif kecelakaan dan Andin meninggal." ucap Mamah Hanif.

"Sudah, Ma. Sudah.. Mbak Vi tolong jelaskan pada Una Mbak." ucap Om Hadi menenangkan istrinya dan meminta Mbak Vivi menjelaskan.

Kami pun berpindah tempat duduk aga jauh dari depan ruang operasi. Mbak Vivi menjelaskan rentetan kejadiannya.

"Hanif pulang dari rumah mu kemudian dia langsung mengacak-acak kamarnya. Kami di rumah tidak paham apa yang terjadi. Kami meminta Andin untuk datang."

"Andin berhasil masuk. Kemudian dia menceritakan kepada kami bahwa Hanif mengetahui bahwa kamu akan menikah sehari sebelum pernikahan Hanif. Andin mengatakan kalau ada apa-apa sama Hanif, Andin tidak akan memaafkan kamu." ucap Mbak Vivi.

"Kemudian Andin mengajak Hanif pergi. Katanya supaya pikiran Hanif membaik. Namun kami malah mendengar kabar kecelakaan mereka. Mereka tabrakan dengan truk di perempatan, Una. Andin yang mengendarai mobilnya." jelas Mbak Vivi.

"Itulah yang menyebabkan mamah marah sekali pada kamu. Tapi satu yang Mbak tau, Una. Hanif masih sangat-sangat mencintai kamu dari dulu sampai sekarang." ucapnya menahan tangis.

Aku terpaku mendengar penjelasan Mbak Vivi. Aku tidak menyangka bahwa kabar pernikahanku begitu mempengaruhi Hanif. Aku memeluk Mbak Vivi sambil megelus punggungnya. Sedangkan Anwar hanya memperhatikan interaksi kami sedari tadi.

"Anwar, tolong kabari ayah bunda. Jangan kesini dulu. Toloong." ucapku pada Anwar. Tadi ayah bunda mengatakan bahwa setelah fitting mereka selesai, mereka akan menyusul ke rumah sakit.

Hanif sudah dipindahkan ke ruang perawatan namun Hanif masih belum sadar setelah dua hari operasi. Pemakaman Andin sudah berlangsung namun anehnya orangtua mereka tidak menyalahkan Hanif ataupun aku sama sekali. Mereka menerima dengan lapang dada kematian Andin.

Aku dan Bang Anwar yang kebetulan bekerja di rumah sakit ini sedang menunggui ruangan Hanif. Orangtua Hanif sedang pulang dan Mbak Vivi sedang sarapan di kantin bawah. Mbak Vivi sengaja mengabariku ketika mamah tidak ada disini supaya aku bisa menjenguk Hanif.

"Una.. Una.." ucap Hanif yang baru tersadar.

Aku dan Bang Anwar yang tersadar akan suara itu langsung menghampiri Hanif namun sayang dia masih belum tersadar.

"Coba kamu pegang tangannya, Una." ucap Bang Anwar.

"Mana mungkin, Bang. Kita bukan mahrom." ucapku.

"Bismillah, Una. Demi kesembuhannya." ucapnya.

"Abang gapapa?" tanyaku dan Anwar hanya teesenyum.

"Mas Hanif.. Ini Una Mas.. Tolong bangun. Una ada di sisi Mas kok. Mas mau apa? Mau main bareng Tania lagi? Ayo Una temenin Mas." ucapku dan tanda-tanda kesadaran Hanif pun muncul.

"Ayok Mas. Nanti Una pinjam Tanianya ke Bang Anwar. Awas aja kalau Bang Anwar ga izinin kita main sama Tania. Tania kan bentar lagi jadi keponakan Una. Ayo Mas bangun yaaa." ucapku dan malah melemahkan Hanif kembali malah membuatnya kejang-kejang.

"Una!" Anwar langsung memencet tombol bantuan karena walaupun Anwar adalah dokter rumah sakit ini, Anwar bukanlah dokter Hanif.

Mbak Vivi menyaksikan semuanya. Mbak Vivi pasrah dan mempercayakan Hanif kepada tim dokter. Mbak Vivi mengajakku duduk di koridor.
"Dia begitu terikat denganmu, Una. Lihatlah kamu ceritakan tentang Anwar saja dia langsung bereaksi. Una, Mbak mohon tolong kembali sama Hanif. Hanif menjadi pemurung setelah dia pulang dari kampusmu. Walaupun Andin datang dia tidak bahagia seperti denganmu, Una." Ucap Mbak Vivi memohon dan tanpa disadari Anwar mendengar itu semua.

"Setelah dia pergi bertiga denganmu dulu, ia kembali ceria seperti Hanif yang mbak kenal dulu. Tapi setelah Andin datang dia kembali tak bersemangat. Hanif tidak bahagia dengan Andin, Una. Dia sangat mencintai kamu." sambungnya.

"Una turut prihatin atas apa yang menimpa Hanif. Tapi maafin Mba, Una sebentar lagi mau nikah sama Bang Anwar." ucapku tak enak hati.

"Tapi Una masih cinta kan sama Hanif? Una jujur sama Mbak, jujur sama hati kamu." tanya Mbak Vivi yang membuatku bingung.

Tempat Hanif di hati aku masih tersusun rapi. Tidak ada yang berani memindahkannya. Tapi mau bagaimana pun Anwar juga mencintaiku bahkan sejak lama Anwar mencintaiku dan menjagaku dari kejauhan. Aku tidak bisa mengecewakan Anwar.

"Maaf Mbak. Una sebentar lagi menikah dengan Bang Anwar." jawabku karena tidak mungkin aku berbohong bahwa aku tidak mencintai Hanif dan tidak mungkin aku berbicara jujur. Apalagi aku melihat Bang Anwar seakan mendengar percakapan kita.

"Hanif sudah kembali stabil. Una kamu coba bacakan alquran di dekatnya atau bercerita kembali. Ingat jangan membuat dia cemburu. Aku permisi dulu." ucap Anwar kemudian meninggalkan kami.

Aku kembali memegang tangan Hanif sambil aku melantunkan surah arrahman. Aku ingat ketika aku selesai menghafal surah arrahman aku menceritakan surah ini kepada Hanif. Saat itu aku belum ketahuan pihak asrama suka teleponan dengan Mas Hanif.

"Ada ayat fabiayyi alai rabbikuma tukadziban yang terus diulang 31 kali Mas. Berasa dapet bonus 30 ayat ketika ngafal."

"Oh iya? Dulu gue pernah disuruh ngafal pas SMP sama guru PAI disana. Tapi belum selesai. Susah. Justru karena diulang-ulang jadi bingung ayat selanjutnya yang mana."

"Tapi artinya bagus tau, Mas. Mas harus selesaikan hafalan arrahmannya ya, Mas. Pokoknya nanti Una mau minta mahar surah Ar Rahman kalau nikah." ucapku.

"Masih lama, Unaaa."

"Una serius. Pokoknya Mas Hanif harus hafal."

"Iya iya gue hafalin dah." akhirnya kami melafalkan arrahman bersama-sama ayat yang Mas Hanif hafal kemudian aku menyelesaikannya sisanya.

"Suaramu bagus, Na. Mas suka." saking malunya aku pun menutup sambungan teleponnya. Dan itulah teleponan terakhir kami.

Ketika aku sedang melafalkan arrahman sambil memegang tangan Mas Hanif, mamah datang. Ia berusaha menarikku keluar tapi Mbak Vivi mencegahnya.

"Mas, pertemuan kita memang tidak banyak. Apalagi tiap ketemu seringnya kita bertengkar. Una kadang ga paham kenapa kita bertengkar terus. Tapi Una ingat momen kita muroja'ah surah ar rahman bareng lewat telepon. Mas inget kan? Karena teleponan itu dan kita ngomongin nikah dan mahar, Una jadi disidang di asrama. Ketauan deh bang kita suka teleponan." ucap Una. Lagi-lagi Anwar melihat interkasi mereka.

"Una gatau apa yang terjadi sama Mas Hanif. Tapi yang Una tau, Una selalu ga siap untuk kehilangan Mas Hanif walaupun Una sudah mempersiapkan. Apalagi kalau Mas Hanif ga bangun-bangun." ucapku.

Anwar mendekati brangkar Hanif kemudian ia tersenyum padaku.

"Hanif, udah gue bilang kan, jangan pernah bikin Una nangis. Kenapa sih ga nurut. Sekarang Una yang lo cintai itu lagi nangisin lo untuk ke sekian kalinya. Lo tau setelah lo nyamperin Una ke kampusnya, hampir tiap Una ketemu gue dia pasti nanyain kabar lo. Gue cemburu rasanya pengen gue tonjok lo." ucap Anwar kemudian melepas cincin tunangan Hanif dan Andin kemudian menyimpannya di atas meja.

"Gue tau hubungan lo sama Andin se toxic apa. Gue kasian sama lo gabisa menjemput orang yang bener-bener lo cintai karena terjebak oleh permainan Andin." ucapnya membuat semua yang berada di ruangan kaget dan melihat ke arahnya.

"Gue ngasih kesempatan buat lo lepas dari cengkraman Andin dan jemput cinta lo. Sampe gue mundurin rencana gue untuk melamar Una setelah lulus kuliah. Tapi lo ga ambil kesempatan itu. Gue ngelamar Una setelah gue denger lo akhirnya tunangan sama Andin. Dan gue udah gamau kasih kesempatan ke Lo." sambungnya sambil melepas cincin tunangan kami di jarinya.

"Gue tau Nif. Una masih cinta sama lo. Sampai sekarang. Dan gue mau hadiahkan cincin ini buat kalian berdua. Hanif gue ikhlas ngelepas dan ngebatalin khitbah gue atas Hunaifah Zhafira. Tolong jangan sia-siakan kesempatan terakhir yang gue kasih." ucap Anwar kemudian melingkarkan cincin yang tadi digunakan Anwar pada jari manis Hanif.

"Dek, adek bilang ke Hanif, kalau adek menunggu mahar arrahmannya." ucap Anwar.

"Ngga Bang. Ga kaya gini. Abang ga perlu ngelakuin itu." ucapku pada Anwar.

"Abang gamau adek ga bahagia kalau sama Abang. Tolong buat Hanif bangun." ucap Anwar.

"Mas Hanif. Lihat kita sudah pakai cincin yang sama, Mas. Mas inget kan film ayat-ayat cinta ketika Fahri menikahi Maria. Mas bilang kalau Mas juga bakal nikahin Una kalau diposisi Fahri biar Mas bisa meluk Una. Tapi Una kan perempuan Mas. Una gabisa jadi Fahri yang nikahin Mas biar bisa meluk Mas. Mas, Una tunggu mahar arrahman nya Mas. Biar Una bisa meluk Mas Hanif. Una... Una cinta sama Mas Hanif dari dulu sampai sekarang." ucapku dan Mas Hanif pun tersadar aku shock melihat Bang Anwar langsung membunyikan bel memanggil dokter.

Aku lega, aku tahu ini pertanda Mas Hanif akan sadar. Terlihat dari pintu Mas Alif, ayah dan bunda datang. Aku langsung berlari ke pelukan Mas Alif.

"Mas.. Mas.. Apa yang Una lakuin udah bener kan Mas? Una gamau kehilangan Mas Hanif, Mas. Una ga siap. Mas Hanif akan sadar kan Mas?" Mas Alif hanya menepuk-nepuk bahuku supaya tenang.

"Ayah bunda. Maafkan Anwar sudah memutuskan sepihak. InsyaaAllah besok pagi Anwar akan berkunjung ke rumah untuk memperjelas semuannya. Anwar pamit." ucap Bang Anwar kemudian pergi setelah salam pada Ayah dan Mas Alif.

"Anwar terlalu baik, Bundaa, ayaahh. Dia melepaskan cincinnya untuk Mas Hanif." ucapku yang membuat mereka kaget.

Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Orangtuaku khawatir melihat kondisiku yang lemas.

Setelah makan siang kami kembali ke ruangan Hanif dan mendapati Hanif tengan menyantap makan siang nya.

"Lo kemana aja, Na? Tadi gue sempet liat muka lo pas gue sadar, eh abis itu lo ngilang." ucap Hanif.

"Abis makan. Laper. Nangis juga butuh energi." ucapku.

"Gue nungguin lo buat nyuapin gue makan. Dan lo udah makan duluan?" dengus Hanif.

"Gamau ah belum mahrom." ucapku.

"Udah Una duduk sini aja, biar Mbak Vivi yang suapi Hanif. Kamu toh ngerti Nif. Kalian ini belum ada ikatan apa-apa. Tadi aja Una terpaksa megang tangan kamu, Nif." Hanif yang sedang mengunyah makanannya pun tersedak.

"Lo megang tangan gue? Langsung megang gini? Genggam tangan gue?" tanya Hanif senang.

"Apasih Nif. Malu tau. Lagian apasi kamu pake masuk rumah sakit segala, koma lagi. Una gasuka ah liat Hanif baringan di brangkar rumah sakit gini." ucap Una.

Hanif yang mengangkat tangannya dan berniat melempar Una dengan buah melihat ke arah jarinya.

"Kok cincin gue berubah, Mah?" tanya nya.

"Iya itu cincinnya samaan kaya Una. Cincinmu sama Andin tuh di atas meja."

"Kok bisa?"

"Udah makan dulu yang bener, sehat dulu. Nanti mbak tunjukin videonya. Mbak videoin kamu, Una dan Anwar tadi." ucap Mbak Vivi.

Aku bersyukur Mbak Vivi merekam kejadian tadi sehingga aku tidak perlu menjelaskan kepada Hanif. Walaupun resikonya tindakan yang ku lakukan pada Hanif pun jadi terbuka.

Seminggu kemudian Hanif keluar dari rumah sakit. Kami sepakat untuk melanjutkan pernikahan di tanggal pernikahanku sebelumnya. Om Hadi pun memberitahukan bahwa pernikahan anaknya berubah tanggal, beda satu hari kepada para kerabat dan teman-temannya.

Anwar juga sudah berkunjung ke rumah sehari setelah ia melepaskan cincin pengikat kami. Ia meminta maaf pada ayah dan bunda juga kepadaku. Ia mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup dengan bayang-bayang Hanif. Sehingga ia memilih untuk merelakan ku untuk bersama Hanif.

Bersyukur ayah tidak membebankan biaya pernikahan sepeser pun kepada pihak laki-laki sehingga tidak ada sengketa pengembalian uang pernikahan dan bisa dengan tenang melanjutkan pernikahan dengan Hanif. Sedangkan pernikahan Hanif dibatalkan begitu saja. Jika ada uang pembatalan yang dikembalikan Hanif mengikhlaskan itu untuk keluarga Andin saja.

 * * * * *

 

Kembali ke Bagian 5 

Lanjut ke Bagian 7 (akhir) 

Komentar